Penata Usahaan Persediaan Obat-Obatan di RSUD Gayo Lues Jadi Temuan BPK-RI

Gayo Lues-Penatausahaan persediaan obat-obatan tahun 2019 menjadi temuan BPK-RI. Hal ini diketahui berdasarkan hasil uji petik yang telah dilakukan BPK-RI bersama dengan petugas gudang farmasi RSUD Gayo Lues pada tanggal 13 sampai dengan 14 Februari Tahun 2020.

Hal ini disampaikan Ketua PKN Gayo Lues, Abdullah, dalam relisene kepada media ini.

diketahui bahwa obat obatan di gudang farmasi tidak di catat di kartu stok tetapi di catat pada Buku Persediaan Harian. Buku Persediaan Harian dilakukan perekapan pada setiap bulannya dan nilai persediaan obat-obatan tersebut berdasarkan dari rekapitulasi persediaan bulanan dan hasil stock opname per 31 Desember 2019.

“Hasil dari pemeriksaan stock opname diketahui adanya obat yang telah di return yaitu Ferbulin Inhalasi 2,5mg/2ml pada tanggal 26 Juni 2019 dengan nilai

Rp38.877.300,00, penyedia tidak melakukan pengembalian dengan obat yang sama dikarenakan stok obat tersebut habis dan mengembalikan dengan obat yang berbeda,” ungkap Abdullah, Sabtu (28/11/2020).

yaitu 1.Ranitidin INJ 50mg/2ml 2.Alprazolam 1mg@100tab 3.Stesolid RT 5mg tube(box/5)New 4.Levemir FlexPen(box/5) 5.Candesartan 16mg(box/30’s) 6. Stardec Surgical Masker Ear Loop.

Petugas gudang farmasi tidak melakukan pengurangan jumlah persediaan terhadap obat yang di return dan hanya mencatat penambahan persediaan obat penggantinya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kunjungan ke Gudang Farmasi RSUD diketahui adanya ruang penyimpanan obat yang kurang layak dengan kondisi ruangan yang pengap dan kotor.

“Seharusnya bagian instalasi farmasi memperhatikan kebersihan, suhu dan kestabilannya dalam penyimpanan perbekalan farmasi,” katanya.

Permasalahan tersebut mengakibatkan meningkatnya risiko penyalahgunaan persediaan obat-obatan dan adanya potensi salah saji jumlah persediaan obat-obatan.

Abdullah membeberkan bahwa Tahun 2017 dan 2018 Masalah obat-obatan di RSUD Gayo Lues juga sudah pernah menjadi temuan BPK-RI, meski dalam rincian permasalah yang berbeda

setidaknya sudah bisa menjadi pembelajaran mengenai penatausahaan obat-obatan, karena di Balik temuan tersebut BPK-RI selalu merekomendasikan bagaimana seharusnya yang dilakukan.

“Hari ini ditegur besok dibuat lagi kesalahan yang sama, itu jangan,” tandasnya.

Terkait adanya temuan BPK-RI di RSUD tersebut, Direktur RSUD Gayo Lues mencoba dihubungi wartawan, belum memberikan jawaban.(Munandar SP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.