Pandemi Ancam Pendidikan Karakter

Oleh : Rahmi Seswita, S.PdI (Guru SMAN 5 Bukittinggi)

Pandemi Covid-19 telah memberikan gambaran pada kita semua bagaimana kelangsungan dunia pendidikan di masa depan melalui bantuan teknologi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona di lingkungan Pendidikan. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara peserta didik dan pendidik sebab secara akademis memang kegiatan pembelajaran masih dapat dilakukan melalui media digital, tapi Edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, norma, kerja sama, serta kompetensi.

Lalu, apa sajakah yang mengancam pendidikan karakter di masa pandemi?

Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan penting dari Pendidikan Nasional Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Undang-undang tersebut jelas menunjukkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu mencetak generasi yang bermoral dan berkarakter sesuai dengan nilai, norma dan ajaran agama (cerdas spiritual dan emosional). Seiring dengan tujuan dari Undang Undang Sisdiknas diatas, dapat dipahami bahwa pendidikan karakter sebagai ujung tombak untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter bagi peserta didik.

Hari ini Kondisi disekitar yang sangat memprihatinkan dimana persoalan moralitas akibat krisis karakter marak terjadi dikalangan anak-anak dan pelajar. Tawuran antar siswa, bullying, kekerasan terhadap guru dan orang tua, pornografi dan sebagainya seakan menambah Panjang rentetan kasus yang kerap menerpa mereka diusia sekolah. Hal tersebut membuktikan, sejatinya pelaksanaan pendidikan karakter bagi peserta didik harus tetap menjadi prioritas dalam kondisi bagaimanapun.

Sebagaimana kita ketahui bersama, sekolah menjadi salah satu institusi pendidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan serta karakter peserta didik. Orang tua dan masyarakat menaruh harapan dan kepercayaan kepada sekolah untuk itu. Sejatinya proses pembentukan nilai-nilai karakter siswa berjalan seiring proses pembelajaran di sekolah. Namun, sejak pandemi menerjang dan diambil kebijakan agar sekolah ditutup maka, keberlanjutan pendidikan karakter  menjadi hal yang paling dikhawatirkan.

Terancamnya pelaksanaan pendidikan karakter pada masa Pandemi covid-19 ini dapat dilihat dari dua hal : Pertama, system pembelajaran berbasis online membuat siswa kehilangan role model dan sosok yang menjadi panutan mereka. Salah satu kunci pendidikan karakter adalah adanya role model atau contoh teladan individu yang berkarakter.

Kedekatan batin yang terjalin antara pendidik dan peserta didik melalui bimbingan, arahan, dan tauladan antara siswa dan guru seolah tidak berjalan dengan mestinya. Peserta didik seperti kehilangan sosok yang digugu dan ditiru. Kondisi tersebut membawa kekosongan dalam diri siswa terhadap nilai-nilai pendidikan moral dan karakter. Di sekolah, yang menjadi role model bagi peserta didik dalam menumbuhkan nilai-nilai karakter adalah sosok seorang guru. Guru yang berkarakter akan mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai ajaran agama dalam kesehariannya sehingga dapat ditiru oleh peserta didik. Karena pada prinsipnya seorang anak adalah peniru. Peserta didik akan mudah mengembangkan karakternya dengan meniru atau menyaksikan perilaku gurunya.

Pembiasaan dan contoh teladan yang diberikan guru akan melahirkan peserta didik yang memiliki karakter mulia. Misalkan Ketika mengikuti ujian, peserta didik akan berusaha jujur karena menyadari gurunya yang senantiasa mengutamakan kejujuran dalam kesehariannya.

Kedua, penggunaan teknologi ruang digital yang tidak dapat menjamin peserta didik terhindar dari konten-konten negatif yang berakibat pada rusaknya moralitas dan krisis karakter. Intensitas pertemuan guru dan siswa berkurang dan komunikasi hanya dilakukan lewat ruang digital.

Aktivitas belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa ada batasan ruang dan waktu. Ruang digital dengan segala kebebasannya menyajikan beragam informasi baik positif maupun negatif. Peserta didik yang tidak siap dengan informasi yang begitu deras dan berlimpah, maka berpotensi untuk terpengaruh konten-konten negatif yang dapat merusak karakter mereka.

Pengawasan yang intensif dari orangtua dirumahpun belum terlaksana secara maksimal karena tuntutan memenuhi segala kebutuhan rumah juga menjadi tanggungjawab yang tidak bisa diabaikan. Pengaruh negatif lainnya dari media digital yaitu mendatangkan kecanduan bagi penggunanya.

Segala hal tersedia di internet yang membuat sebagian siswa betah berlama-lama. Kondisi demikian dikhawatirkan akan membentuk karakter pelajar menjadi pribadi yang konsumtif, minim kreativitas, malas berinovasi dan ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang instan.

Pengaruh dari kecanduan internet juga membuat siswa malas berpikir, kurang bertanggung jawab sehingga tidak maksimal dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar yang diberikan. Oleh karena itu, sebelum terlambat dan semakin parah sudah saatnya kita secara bersama sama baik sebagai pendidik, orangtua, masyarakat dan para pemangku kebijakan merumuskan hal terbaik dalam mengatasi ancaman pendidikan karakter selama pandemi.

Tidak dapat kita bayangkan pudarnya karakter peserta didik menjadi bagian dari kebiasaan baru dari kehidupan mereka. Sungguh miris, apabila nantinya kita tak lagi merasa aneh melihat generasi muda kehilangan karakter positif akibat sistem pembelajaran yang hanya memprioritaskan transfer pengetahuan tanpa memperhatikan penanaman nilai-nilai moral dan karakter.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
ADVERTISEMENT
Login Areal