Blended Learning Solusi Belajar di Era Pandemi

  • Whatsapp
Anggia Nanda

Oleh: Anggia Nanda, S.Si., M.Si (Guru Matematika / Wakil Kurikulum SMA Negeri 5 Bukittinggi)

Terjadinya kasus pertama Covid-19 yang menimpa warga Depok, Jawa Barat pada tanggal 2 Maret 2020 menjadi pencetus pandemi Covid-19 di Indonesia. Lebih kurang setahun sudah segala sendi kehidupan kita diporakporandakan oleh virus Corona. Semua kebiasaan yang selama ini kita anggap norma tiba-tiba menjadi hal yang mahal dan sulit untuk dilakukan.

Dunia Pendidikan tak terkecuali terkena imbas dari pandemi Covid-19. Pembelajaran tatap muka diganti dengan Pembelajaran jarak jauh. Hal ini memaksa semua pihak untuk beradaptasi secara “paksa”. Handphone yang selama ini tabu bagi sebagian sekolah menjadi satu kebutuhan yang utama. Terjadilah pembelajaran lewat dunia maya yang harus dilakoni dengan segala plus minusnya.

Seiring dengan pasang surutnya kasus Covid-19 di Indonesia, maka dunia Pendidikan pun menjalani dinamikanya. Setelah sekitar 7 (tujuh) bulan melakoni Pembelajaran Jarak Jauh, maka pada bulan Desember 2020 dikeluarkan lah Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 03/KB/2020, Nomor 612 Tahun 2020, Nomor HK.01.08/Menkes/502/2020, Nomor 119/4536/SJ tentang perubahan atas Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/KB/2020, Nomor 516 Tahun 2020, Nomor HK.03.01/Menkes/363/2020, Nomor 440-882 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 di masa Pandemi COVID-19. 

Dalam SKB 4 menteri yang terbaru tersebut disampaikan penyesuian kebijakan pembelajaran di masa COVID-19 yang merupakan hasil evaluasi pemerintah yang menemukan kebutuhan pembelajaran tatap muka dari peserta didik yang memiliki kendala dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Juga pembelajaran tatap muka dapat diperluas sampai dengan Zona Kuning yang memiliki tingkat risiko penularan rendah berdasarkan hasil pemetaan satuan tugas nasional penanganan COVID-19.

Berdasarkan SKB 4 menteri tersebut, maka daerah zona hijau dan kuning sudah dapat memulai pembelajaran tatap muka. Namun dalam pelaksanaannya masih belum bisa seperti tatap muka normal biasa. Selain durasi pembelajaran yang dipersingkat menjadi 30 menit untuk satu jam pelajaran, jumlah peserta didik dalam kelas pun dibatasi menjadi 50 persen dari jumlah keseluruhan.

Hal ini serta merta menjadi permasalahan baru lagi bagi dunia Pendidikan. Guru harus memutar otak lagi bagaimana cara membelajarkan peserta didik secara bersamaan walau mereka berada di dua tempat yang berbeda, Sebagian di sekolah dan Sebagian lagi di rumah masing-masing.

Adalah Blended Learning sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan di atas.  Secara etimologi istilah blended learning terdiri dari dua kata yaitu blended dan learning. Kata blended berarti campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik (Collins Dictionary) atau formula suatu penyelarasan kombinasi atau perpaduan (Oxford English Dictionary) (Heinze and Procter, 2006:236). Sedangkan learning memiliki makna umum yakni belajar, dengan demikian sepintas mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya. Apa yang di campurkan? Elenena (2006) menyampaikan bahwa yang dicampurkan adalah dua unsur utama, yakni pembelajaran di kelas (class room lesson) dengan online learning.

Dalam blended learning terdapat enam unsur yang harus ada, yaitu: (1) tatap muka (2) belajar mandiri, (3) aplikasi, (4) tutorial, (5) kerjasama, dan (6) evaluasi. Yang mana keenam unsur ini harus jalan secara bersamaan agar Blended Learning dapat berlangsung secara efektif. Dalam pelaksanaan di sekolah Blended Learning ini dapat dilakukan secara praktis dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Praktik yang penulis lakukan adalah dengan memanfaatkan aplikasi meeting yang banyak disediakan oleh penyedia layanan perangkat lunak. Peserta didik diminta untuk masuk ke dalam aplikasi meeting tersebut, kemudian layar monitor dihubungkan ke proyektor, sehingga peserta didik di rumah dan di sekolah dapat melihat layer yang sama.

Adapun cara lain yang lebih sederhana adalah dengan menggunakan Tripod, tetap peserta didik yang dirumah diminta untuk masuk ke aplikasi meeting, lalu guru melalukan pembelajaran secara live dengan memafaatkan papan tulis secara konvensional.

Kedua Teknik ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, Cara pertama memungkinkan peserta didik yang di rumah melihat layer secara utuh, akan tetapi untuk yang di sekolah biasanya akan cenderung merasa statis. Terutama karena penulis adalah guru matematika yang biasanya memang akrab dengan papan tulis, jika harus digantikan dengan Pen tablet yang memaksa guru harus duduk di mejanya. Peserta didik merasa kurang mendapatkan “greget” belajar di sekolah.

Cara kedua memungkinkan guru dan peserta didik di sekolah untuk merasakan “aura” belajar di sekolah yang sesungguhnya. Namun kelemahannya adalah ada kemungkinan peserta didik di rumah mendapatkan penjelasan yang kurang jelas karena mengajar live sangat tergantung kepada posisi kamera dan kondisi jaringan.

Terlepas dari plus minus metode ini, Blended Learning memberikan salah satu solusi bagi dunia Pendidikan di era Pandemi ini. Bahkan jika pandemic telah usaipun metode ini tetap bisa dipakai untuk pembelajaran yang lebih efektif.

Bagaimanapun dan dalam kondisi seperti apapun kita tidak layak untuk mengeluh, semua terjadi karena ada alasan, dan akan ada hikmah di baliknya. Tinggal kita berusaha untuk membaca tanda-tandaNya. Sebagai guru tugas utama kita adalah mengajar dan mendidik peserta didik kita, walau dengan cara metode yang beragam. Tetaplah berinovasi guru Indonesia. Masa Depan Pendidikan ada di tangan kita. Hidup Guru Indonesia!!!!

Pos terkait

loading...