Pandemi belum berakhir, masyarakat harus waspada dan patuh

- Editorial Staff

Kamis, 22 April 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Alfisyah Dianasari

Pandemi telah kita lewati selama setahun, tetapi sayangnya masyarakat mulai menurunkan kewaspadaan. Mereka ada yang melalaikan protokol kesehatan dan mulai berkerumun.

Padahal hal ini berbahaya karena bisa membentuk klaster corona baru dan membuat durasi pandemi jadi semakin lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa kabar corona? Penyakit ini tak hanya menyerang fisik manusia, tetapi juga psikologis. Karena mereka yang tidak tertular, berusaha keras agar tetap sehat tanpa terserang virus covid-19.

Namun ada banyak penyesuaian dalam masa pandemi, seperti menjaga protokol kesehatan, imunitas, dan higienitas. Hal ini menyebabkan kita lelah karena harus taat aturan, demi tidak tertular corona.

Masyarakat mulai kelelahan secara mental dan fisik saat pandemi, karena mereka setengah dipaksa untuk stay at home. Kalaupun keluar rumah, harus memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Protokol kesehatan ini wajib dilakukan, karena bisa menolak droplet yang bisa menularkan virus covid-19.

Presiden Jokowi berpesan bahwa pandemi covid-19 belum berakhir di tanah air. Untuk itu masyarakat masih harus menaati protokol kesehatan, untuk mencegah virus corona.

Oleh karena itu, kita harus eling lan waspodo (ingat dan waspada). Dalam artian, setelah setahun pandemi, jangan sampai masyarakat lupa bahwa corona masih ada dan seenaknya melepas masker di jalanan.

Presiden menambahkan, jangan sampai kasus corona meledak lagi, padahal kurva sudah melandai, karena semua orang tidak waspada dan lupa (akan virus covid-19).

Selain itu, beliau juga berharap jumlah pasien covid menurun, setelah protokol kesehatan diperketat dan program vaksinasi nasional dijalankan.

Vaksinasi sudah mencapai 16,5 juta suntikan. Memang belum ada 10% dari penduduk Indonesia, tetapi hasilnya cukup bagus. Karena terbukti vaksin yang disuntikkan tidak memiliki efek samping yang berat.

Untuk mempercepat vaksinasi, maka dibuka jalur mandiri. Sehingga masyarakat mendapatkannya dengan dikoordinir kantor dan diawasi oleh Kementrian Kesehatan.

Sementara itu, menurut data dari tim satgas covid-19, memang ada sedikit penurunan pasien corona, dari 5.000+ orang per hari, menjadi 4.000 orang per 24 jam.

Namun walau ada penurunan, tetap saja jumlah pasien agak tinggi. Jangan sampai angka ini naik lagi seperti di negeri lain seperti India, karena masyarakatnya mengabaikan protokol kesehatan secara bersamaan.

Protokol yang paling sering dilanggar selain melepas masker adalah berkerumun. Apalagi saat bulan baik untuk menikah, seperti pasca lebaran.

Jangan sampai angka pasien covid meningkat karena terbentuk banyak klaster pernikahan. Tahan diri dan jangan adakan resepsi besar-besaran, cukup syukuran kecil dengan undangan maksimal 35 orang (termasuk keluarga inti).

Mematuhi protokol kesehatan wajib dilakukan, walau sudah divaksinasi. Karena setelah 2 kali disuntik, bukan berarti bisa bebas melepas masker.

Walau imunitas tubuh sudah meningkat, tetapi kita belum bebas dari masa pandemi. Situasi ideal ini baru bisa terwujud setelah ada kekebalan kelompok, yang diprediksi terjadi setahun pasca suntikan vaksinasi corona yang pertama.

Oleh karena itu, mari kita taati peraturan dan tidak melanggar protokol, baik secara disengaja maupun tak disengaja. Ingatlah bahwa aturan ini untuk dijalankan, bukan untuk dilanggar. Jika suka nakal dan tidak menaati protokol kesehatan, yang rugi adalah diri sendiri, bukan? Karena kena corona dan terpaksa harus terbaring di ranjang RS selama minimal 2 minggu.

Kita harus tetap siaga, waspada, dan ingat bahwa saat ini masih masa pandemi. Jangan asal-asalan pakai masker dan melepas-pakai, padahal ada di tempat umum. Anak-anak juga wajib pakai masker demi keselamatan mereka.

Patuhi juga protokol kesehatan lain karena jika semua orang tertib, masa pandemi akan lekas berakhir, dan kita bisa hidup normal seperti yang dulu.

Penulis adalah warganet tinggal di Depok

Berita Terkait

Momen HPN 2024, PWI Tuban Sambangi Dewan Pers
Marissya Icha Lakukan Protes Karena Dapat Suara Sedikit
Pencabutan Subsidi BBM untuk Makan Siang, Ini Respon Gibran
Anggota KPPS Meninggal, KPU Beri Santunan 36 Juta dan Biaya Pemakaman
Suara Prabowo-Gibran di Quick Count Akan Sama dengan Real Count
Selesai Bertugas, Anggota KPPS Palangkaraya Meninggal Dunia
Menlu: RI Terus Perkuat Kerjasama dengan 9 Negara Sahabat
Prihatin, 18 Anggota KPPS Gorontalo Dilarikan ke RS

Berita Terkait

Kamis, 22 Februari 2024 - 09:28 WIB

Momen HPN 2024, PWI Tuban Sambangi Dewan Pers

Sabtu, 17 Februari 2024 - 22:47 WIB

Marissya Icha Lakukan Protes Karena Dapat Suara Sedikit

Sabtu, 17 Februari 2024 - 22:43 WIB

Pencabutan Subsidi BBM untuk Makan Siang, Ini Respon Gibran

Sabtu, 17 Februari 2024 - 22:38 WIB

Anggota KPPS Meninggal, KPU Beri Santunan 36 Juta dan Biaya Pemakaman

Sabtu, 17 Februari 2024 - 18:05 WIB

Suara Prabowo-Gibran di Quick Count Akan Sama dengan Real Count

Sabtu, 17 Februari 2024 - 18:00 WIB

Selesai Bertugas, Anggota KPPS Palangkaraya Meninggal Dunia

Jumat, 16 Februari 2024 - 16:12 WIB

Menlu: RI Terus Perkuat Kerjasama dengan 9 Negara Sahabat

Jumat, 16 Februari 2024 - 16:06 WIB

Prihatin, 18 Anggota KPPS Gorontalo Dilarikan ke RS

Berita Terbaru

Nasional

Momen HPN 2024, PWI Tuban Sambangi Dewan Pers

Kamis, 22 Feb 2024 - 09:28 WIB