Isu Efektifitas Vaksin dan Angka Kematian Tinggi Bagi Isoman

Oleh : Bayu Tjumano Wauran

Di tengah angka keterpaparan akibat Covid-19 yang belum melandai, upaya Pemerintah untuk mengatasi pandemi ini “diinterupsi” dengan munculnya sejumlah isu yang dapat menambah gaduh suasana antara isu efektifitas vaksin dan pasien isolasi mandiri yang naik angka kematiannya.
Pemerintah telah memperoleh data dari banyak Direktur Rumah Sakit, penyebab tingginya kenaikan angka kematian akibat Covid-19 adalah karena pasien terlambat masuk ke rumah sakit.
Dalam banyak kasus, pasien Covid-19 cenderung baru datang ke RS saat saturasinya sudah sangat rendah, yaitu turun di angka 80%-70% (normalnya di angka 95%-100%). Dalam kondisi ini, kesehatan pasien cenderung mengkhawatirkan.
Menurut data Satgas Penanganan Covid-19 sampai 27 Juli 2021, penambahan tertinggi ada di Jawa Barat sebanyak 8.589 kasus, Jawa Timur dengan 6.337 kasus dan Jawa Tengah dengan 5.187 kasus. Dalam periode yang sama terlihat masih ada penambahan pasien yang tutup usia. Dalam sehari, jumlah pasien yang meninggal dunia setelah terinfeksi virus corona bertambah 2.069 orang tersebar di 33 provinsi. Dari jumlah tersebut, Jawa Tengah merupakan provinsi yang paling banyak angka kematiannya yaitu 417 orang, Jawa Timur sebanyak 354 orang, Jawa Barat sebanyak 309 orang, Lampung sebanyak 255 orang, dan DKI Jakarta sebanyak 184 orang.*
Sampai 27 Juli 2021, secara kumulatif pemerintah telah memeriksa 25.245.491 spesimen Covid-19 dari 17.189.001 orang. Berdasarkan pemeriksaan spesimen ini, sebanyak 45.203 orang diketahui positif Covid-19. Jumlah itu didapatkan dari 35.199 hasil tes swab PCR, 516 dari TCM, dan 9.488 dari tes swab antigen. Dari data tersebut, angka positivity rate kasus positif Covid-19 harian yaitu 25,08 persen secara total. Namun, jika hanya berdasarkan dengan tes swab PCR, maka positivity rate yaitu sebesar 45,40 persen.
Pemberian vaksin tidak membuat seseorang jadi 100% kebal dari Covid-19. Prinsip kerja vaksin adalah melatih sistem kekebalan tubuh kita dan meningkatkannya. Sementara, terkait temuan dari peneliti China “Vaksin Sinovac Tidak Efektif Setelah 6 Bulan” bahwa penelitian tersebut masih berlangsung. Para peneliti masih mencari tahu bagaimana penurunan antibodi vaksin Sinovac setelah 6 bulan bisa mempengaruhi efektivitas suntikan.
Pemerintah mengajak masyarakat tak perlu meragukan efektivitas vaksin Covid-19. Semua vaksin yang ada di Indonesia efektif melawan berbagai varian virus corona dan efektif mengurangi resiko kematian akibat Covid-19. Disamping itu, Pemerintah terus berupaya mengantisipasi agar pasien Covid 19 yang menjalani isolasi mandiri menjalani proses penyembuhan optimal dengan berbagai fasilitas yang ada sehingga tidak berujung pada kematian. Berbagai aparat akan dikerahkan agar kondisi pasien isoman bisa terus dipantau.
Pemerintah akan terus berupaya mengantisipasi agar pasien yang Isolasi Mandiri menjalani proses penyembuhan dengan optimal melalui pelayanan kesehatan yang ada. Isoman dilakukan pasien yang tanpa gejala atau gejala ringan dengan tingkat saturasi diatas 95%. diluar itu dianjurkan langsung ke rumah sakit atau isolasi terpusat.
Selain itu, hal lain yang menyebabkan tingginya angka kematian adalah masih banyak masyarakat yang menganggap terpapar virus corona sebagai aib, sehingga tidak mau berobat ke fasilitas kesehatan. Pemerintah juga menegaskan sakit Covid-19 bukan aib, justru kalau ada yang sakit harus segera mendapat penanganan cepat bantu untuk mencegah kematian dan tingkat keparahan akibat Covid-19 bisa ditekan semaksimal mungkin.
Terkait isu efektifitas vaksin, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah ataupun jurnal medis yang menunjukkan vaksin-vaksin seperti Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, atau Moderna tidak efektif melawan varian Delta. Justru WHO mendorong percepatan vaksinasi COVID-19 agar herd immunity segera terbentuk. Dengan vaksinasi juga, orang yang akan tertular makin sedikit, mengurangi resiko kematian, dan potensi kemunculan varian-varian baru lainnya dapat dicegah.
Berdasarkan data klaim perawatan Covid-19 di rumah sakit periode Mei-Juli 2021 yang diterima Satgas Penanganan Covid, menunjukkan pasien yang mendapatkan vaksin dosis lengkap bisa terlindungi dari risiko kematian hingga 73% dibandingkan yang belum mendapatkan vaksin. Kemudian pasien yang mendapat vaksin dosis pertama 90 % sembuh. Sementara yang belum dapat vaksinasi sama sekali itu hanya 84% yang sembuh. Inilah proteksi yang didapatkan dari vaksin. Vaksin tidak membuat seseorang jadi 100% kebal dari Covid-19. Prinsip kerja vaksin adalah melatih sistem kekebalan tubuh kita dan meningkatkannya.
Isu efektifitas vaksin jika tidak ditangani secara baik akan menimbulkan berbagai hoax ditengah masyarakat seperti masyarakat meninggal setelah menjalani vaksinasi masih tinggi, vaksin tak efektif melindungi diri dari varian Delta serta vaksin atau tifak vaksin sama saja, masyarakat tepat bisa tertular.
Dampak dari isu angka kematian isoman yang tinggi akan menimbulkan narasi negatif yang menyudutkan Pemerintah bahwa kematian tinggi karena isolasi mandiri (isoman) tidak terpantau optimal oleh aparatur negara.
Menurut penulis, Presiden dapat memerintahkan Kemenkes dan Komite Penanggulangan Covid-Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa semua vaksin COVID-19 yang ada di Indonesia efektif melawan berbagai varian virus corona, termasuk menyampaikan data-data yang menunjukkan efektivitas vaksin.
Disamping itu, Presiden juga dapat memerintahkan Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Kemenkes dan Komite Penanggulangan Covid-Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) untuk menekankan kepada seluruh masyarakat agar tidak termakan isu Isoman penyebab tingginya angka kematian akibat Covid-19. Disamping itu, menekankan upaya Pemerintah memfasilitasi penuh proses isoman masyarakat, mulai dari konsultasi hingga obat gratis.
*)Penulis adalah pemerhati masalah Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.