Video  

Jalan Panjang Khudadadi-Rasouli

jalan-panjang-khudadadi-rasouli

TOKYO-KEMPALAN: Zakia Khudadadi dan Hossain Rasouli akan selalu mengenang momen-momennya dalam Paralimpiade 2021 ini. Bukan karena keduanya datang ke ajang di Tokyo ini dengan gagal mempersembahkan medali bagi negaranya, Afghanistan.
Khudadadi dan Rasouli memang sama-sama tidak membela atas nama negaranya. Tetapi, keduanya jadi bagian dari Refugee Paralympic Team (RPT), alias kontingen berisikan atlet-atlet yang tak bisa bertanding atas nama negaranya dengan alasan apapun.
Keduanya akan selalu mengenang pengalamannya di Tokyo ini karena jalan panjangnya sampai di ibukota negara Jepang tersebut. Khudadadi bahkan sampai harus mengirimkan video permohonannya melalui kantor berita Reuters.
’’Saya meminta dari Anda semua, bahwa saya seorang wanita dari Afghanistan dan yang jadi perwakilan wanita Afghanistan, meminta bantuan Anda untuk membantu saya,’’ harapnya, dalam video yang dikirim Komite Paralimpiade Afghanistan.

Khudadadi dan Rasouli memang sama-sama tidak membela atas nama negaranya. Tetapi, keduanya jadi bagian dari Refugee Paralympic Team (RPT), alias kontingen berisikan atlet-atlet yang tak bisa bertanding atas nama negaranya dengan alasan apapun.

Khudadadi dan Rasouli nyaris gagal berangkat ke Tokyo setelah penguasaan Kabul oleh kelompok Taliban. Komite Paralimpiade Internasional (IPC) bahkan sempat pesimistis keduanya bisa sampai di Tokyo dengan selamat.
IPC bahkan sempat menjanjikan bantuan kepada Khudadadi dan Rasouli untuk turun di Paralimpiade berikutnya pada 2024 di Paris. Dijadwalkan tiba di Tokyo pada 17 Agustus, kedua atlet paralimpiade Afghanistan ini baru mendarat di Tokyo pada Sabtu sepekan lalu.
’’Permintaan itulah (video Khudadadi) yang memulai operasi global untuk mengevakuasi mereka dengan aman dari Afghanistan. Sehingga mereka bisa datang dengan selamat di Tokyo,’’ tutur Presiden IPC Andrew Parsons.
Kedua paralimpian Afghanistan tersebut tidak langsung diterbangkan dari Kabul menuju ke Tokyo. Melainkan harus menempuh perjalanan 7.213 kilometer ke Paris dahulu, lalu kembali terbang 9.706 kilometer jauhnya ke Tokyo.
Khudadadi dan Rasouli sudah gagal mempersembahkan medali. Khudadadi sudah tersisih dalam cabor parataekwondo kelas 49 kilogram putri. Parataekwondoin 22 tahun itu disingkirkan Ziyodakhon Isakova dari Uzbekistan. Dia atlet wanita pertama Afghanistan.
Sementara, Rasouli yang sudah lebih dulu turun dalam cabor lompat jauh putra T47 pun sudah tersingkir dalam final 31 Agustus lalu. Paralimpian berusia 26 tahun itu berada di ranking ke-13.
IPC berharap, jalan Khudadadi dan Rasouli bisa menginspirasi. ’’Melalui partisipasinya di Paralimpiade dan apa yang mereka pertunjukkan di dalam arena, mereka menyerukan harapan, perdamaian, dan solidaritas bagi rakyat Afghanistan dan dunia,’’ tulis IPC dalam pernyataannya.
Sampai hari ini, keduanya masih berada di Tokyo. Keduanya sama sekali tidak berbicara kepada media selama Paralimpiade. Khudadadi dan Rasouli akan berada di Tokyo sampai acara upacara penutupan, akhir pekan ini (5/9).
Seperti yang diungkapkan juru bicara IPC Craig Spence. ’’Kini kami mulai berbicara soal apa yang terjadi saat upacara penutupan dan ke mana mereka harus pergi selanjutnya. Beberapa hari ke depan kami akan membahasnya,’’ tutur Spence. Lalu kemanakah mereka? (Yunita Mega Pratiwi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.