Video  

Organisasi Perlindungan Hewan Buka Penyiksaan Monyet di Thailand

organisasi-perlindungan-hewan-buka-penyiksaan-monyet-di-thailand

BANGKOK-KEMPALAN: Produk kelapa di Thailand diboikot oleh sejumlah penjual karena tudingan bahwa kelapa yang dijual itu diambil oleh monyet-monyet yang dipekerjakan. Elisa Allen dari People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) mengaku bahwa monyet-monyet itu diambil dari habitatnya dan dengan kejam diajari bagaimana untuk mengambil 1.000 kelapa per hari.

Ia mengatakan bahwa hewan itu diperlakukan layaknya mesin dan penyelidikan menunjukkan industri kelapa di negara Asia Tenggara itu menyimpan para monyet di kandang yang sangat sempit serta dirantai dan dipaksa bekerja. Di antara industri ini adalah Chaokoh dan Aroy-D yang mengekspor kelapa ke negara-negara Uni Eropa dan Inggris.

Permasalahan ini menyebabkan sejumlah perusahaan pengimpor kelapa di Inggris menyatakan mereka akan berhenti menjual produk kelapa dari Thailand. Selain itu, lebih dari 15.000 toko tidak akan lagi membeli produk tersebut. PETA sendiri mengaku telah menemukan delapan kebun di Thailand yang mana ada monyet bekerja di tempat tersebut.

Bahkan organisasi tersebut menemukan “sekolah monyet” untuk melatih para kera untuk mengambil kelapa, buah-buahan, naik sepeda atau bermain basket guna memberi hiburan pada para wisatawan. Para monyet itu ditangkap secara ilegal semenjak masih bayi dan memperlihatkan perilaku yang menunjukkan bahwa mereka dalam kondisi amat sangat stress.

Menurut Thaiger, PETA membandingkan dengan negara produsen kelapa lainnya seperti Brazil, Hawaii dan Kolombia yang memanen kelapa dengan cara yang manusiawi. Penyelidikan organisasi ini sendiri muncul dalma bentuk video yang dinarasikan oleh Peter Egan, para monyet itu dipaksa untuk mengambul 1.000 kelapa sehari padahal manusia hanya bisa mengambil 80 per hari. (reza hikam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.