Video  

Peranan Etnis Tionghoa dalam Perayaan Grebeg Sudiro

peranan-etnis-tionghoa-dalam-perayaan-grebeg-sudiro

Nurul Ayu Andari, Rolita Adelia Prasetya, Fauzi Himma Shufya

KEMPALAN: Grebeg Sudiro merupakan acara tahunan kampung Sudiroprajan yang diadakan menjelang peringatan Imlek. Grebeg Sudiro juga telah dijadikan sebagai destinasi wisata oleh Dinas Pariwisata Kota Surakarta. Dalam perayaan ini selalu mengundang massa untuk tak pernah ketinggalan hadir disetiap rangkaian acaranya diantaranya  bazar potensi, wisata perahu kali Pepe, Umbul Mantram (sebagai wujud rasa syukur), dan karnaval budaya.

Keunikan Grebeg Sudiro dibanding perayaan Grebeg di daerah lain yaitu terletak pada pembauran dua budaya yang ditunjukkan melalui “Jodang”. Jodang merupakan tumpukan yang berbentuk gunungan berisikan 4.000 kue keranjang (makanan khas etnis Tionghoa) dengan berat hingga satu ton.

Kemeriahan perayaan besar Grebeg Sudiro ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Menurut Pak Lk selaku Inisiator Grebeg Sudiro bahwa anggaran dalam pelaksanaan Grebeg Sudiro berasal dari Pemerintah Kota Surakarta, DPK(Dana Pembangunan Kelurahan), APBD Pemerintah Kota, dan  dana dari panitia Imlek Bersama.

Sebab panitia Imlek Bersama telah menjadikan Grebeg Sudiro sebagai  agenda kegiatan tahunan mereka. Panitia Imlek Bersama yang merupakan komunitas dari perwakilan etnis Tionghoa, mereka juga membentuk subpanitia khusus untuk pelaksanaan Grebeg Sudiro.

Peserta grebeg sudiro bersatu mengangkat replika burung garuda yang merupakan lambang negara indonesia. (Yudy Bento-Wikipedia)

Menurut Pak Mi selaku Pengurus Kelenteng Tien Kok Sie bahwa pelaksanaan Grebeg Sudiro menghabiskan dana kurang lebih 300 juta dan setiap tahunnya. Pihak Kelenteng selalu mengeluarkan uang 100 juta untuk panitia Grebeg, pemasangan ribuan lampion, dan untuk kegiatan sosial lainnya. Selain itu beliau juga mengharapkan kesenian budaya etnis Tionghoa dapat dinikmati oleh semua elemen masyarakat bukan hanya etnis Tionghoa saja.

Eksistensi simbol budaya etnis Tionghoa yang mencolok dalam Grebeg Sudiro yaitu 4.000 lampion-lampion merah cina dan lampion 12 shio yang digantung rapi di sepanjang area depan Balaikota Surakarta dan terpusat sampai Tugu Jam Klasik Pasar Gedhe Hadjonagoro. Keindahan tersebut dapat dinikmati ketika menjelang malam peringatan Tahun Baru Imlek selama satu bulan.

Simbol Budaya lain yang tidak kalah menarik perhatian dan dinantikan pengunjung yaitu pembagian 4.000 kue keranjang pada saat puncak acara Grebeg Sudiro yang diadakan di depan Pasar Gedhe. Hampir semua orang yang hadir tidak pernah ketinggalan momen perebutan kue keranjang ini.

Hal ini diyakini oleh warga Sudiroprajan sebagai ungkapan rasa syukur dan untuk memperoleh keberkahan. Selain pembagian kue keranjang, etnis Tionghoa menampilkan berbagai pertunjukan kesenian di antaranya kesenian Liong Barongsai hingga kesenian bela diri seperti Wu Shu dan Tai chi. Sehingga dalam pelaksanaan Grebeg Sudiro ini juga melibatkan peran etnis tionghoa dan simbol budaya etnis Tionghoa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.