Akademisi UHN, Perlu Strategi Untuk Pemulihan Pariwisata Di Bali

Photo Istimewa

Denpasar – Pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial yang sudah berlangsung hampir satu tahun lebih telah membuat sektor Pariwisata di Bali terpukul. Hal ini tercermin dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada Kamis (2/09/2021).

Kepala BPS Bali, Hanif Yahya melaporkan bahwa wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Provinsi Bali pada periode Januari-Juli 2021 tercatat sebanyak 43 kunjungan, turun 99 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.069.181 kunjungan.

“Terkhusus bulan Juli 2021, tercatat tidak ada wisawatan mancanegara yang berkunjung ke Bali. Masih diberlakukannya travel restriction serta penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turut memberikan andil dalam penurunan kedatangan wisman ke Bali. Bila dibandingkan dengan kondisi di bulan Juni 2021 serta Juli 2020, maka kondisi kedatangan wisman ke Bali di bulan Juli 2021 menunjukkan penurunan sedalam 100 persen,”

Kondisi ini berpengaruh pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada bulan Juli 2021 yang tercatat sebesar 5,23 persen, turun 11,45 poin dibandingkan TPK bulan Juni 2021 (m-t-m) yang tercatat sebesar 16,68 persen. Sementara, TPK bulan Juli 2021 untuk hotel Non Bintang tercatat mencapai 4,36 persen, mengalami penurunan sebesar 2,42 poin dibandingkan bulan Juni 2021 yang tercatat sebesar 6,79 persen.

Kepala Jurusan Pariwisata Budaya Universitas Hindu Negeri Ida Bagus Sugriwa, Dr. I Wayan Wiwin, SST. Par., M. Par, mengatakan bahwa diperlukan sebuah strategi dalam rangka memulihkan sektor pariwisata di Bali yang sudah terpukul akibat Pandemi Covid-19.

“Strategi Pariwisata ini harus mengedepankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta kualitas daya dukung lingkungan sesuai filosofi Tri Hita Karana dan konsep pariwisata berkelanjutan,” ungkap Wayan Wiwin saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemerintah harus mulai memulihkan perekonomian masyarakat dengan menggelontorkan kebijakan bantuan stimulus subsidi permodalan, hibah perbaikan fasilitas wisata maupun kebijakan penundaan pembayaran kredit khususnya untuk para pengusaha pariwisata, pelaku pariwisata, desa wisata dan komunitas masyarakat pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Bali.

“sehingga dengan hal tersebut mereka terbantu untuk membangun kembali usahanya dan menata kembali DTW yang ada, serta membantu komunitas petani, pengerajin dan UMKM untuk mulai bangkit dan bersinergi dengan sektor pariwisata, minimal dengan target memulihkan pangsa pasar lokal dan domestik,” terang Wayan Wiwin

Langkah berikutnya adalah mengimplementasikan konsep “quality tourist” yang bertujuan selektif memilih wisatawan yang datang dengan cara menghindari “perang tarif” dengan sajian produk wisata yang high class, relatif atau “jual mahal” dan berkualitas.

“Melalui Hal ini maka pangsa pasar tidak akan merusak pasar pengusaha lokal atau DTW yang dikelola oleh komunitas masyarakat lokal”, jelasnya.

Selain itu, para pemangku kebijakan juga harus mulai serius menggarap pasar wisata alternatif seperti wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), Sport tourism, Educational Tourism, Health tourism, Agrotourism, maupun Spiritual Tourism, dimana Bali kaya akan nilai-nilai keraifan lokal yang unik dan universal.

Wayan Wiwin mengatakan model yang bisa diterapkan adalah model  pariwisata berbasis masyarakat lokal. Dalam model ini pembangunan Pariwisata berpola Bottom up. Sehingga kontribusi dan benefit dari pariwisata bisa dinitmati langsung oleh masyarakat.

“Misalkan contohnya Pengembangan Agroeisata, dimana aktivitas pertanian masyarakat desa dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata, sehingga masyarakat tidak hanya mengandalkan hasil ekonomi dari pariwisata, tetapi sektor pertanian sbg tumpuan, sedang aktivitas pariwisata sebagai bonus tambahan dari kegiatan pertanian tersebut,” Tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.