Video  

Mengapa Ada Statistik Pendusta?

mengapa-ada-statistik-pendusta?

Oleh Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar (Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial)

KEMPALAN: Mark Twain berkata, “Ada tiga jenis dusta: ngibul, nipu, dan statistik!”. Dia mengutip, ucapan PM Inggris Benjamin Disraeli (1804-1881) yang mengatakan, “Angka-angka sering menipu saya, terutama ketika saya mengaturnya sendiri”

Ini bukan hal baru. Banyak orang membuat pencitraan dengan statistik. Semisal ini:
“Tujuh dari sepuluh pasien Covid sembuh dengan herbal X” bunyi sebuah iklan.
“70% masyarakat siap mendukung saya” kata seorang cabup, dan
“Setiap hari terjadi 30 kasus perceraian di DIY” tulis sebuah surat kabar.

Darel Huff, seorang penulis Amerika sampai menulis “How to Lie with Statistics”. Ada banyak cara menipu yang tampak ilmiah. Cara itu antara lain: seleksi sampel, memilih metode analisis yang mendukung, dan menggunakan grafik yang distortif.

Statistik dilakukan dengan sampel. Berapa besar? Mewakili siapa? Contoh: sampel air di sungai semestinya tersebar merata. Namun orang lebih suka mengambil yang dekat jalan! Mereka malas berjalan, apalagi bila bayarannya telah dikorupsi.

Terkadang sampel terlalu kecil. Seseorang meneliti peluang munculnya angka 1 pada dadu dengan melempar 10 kali. Dari situ, didapatkan angka 1 muncul 5 kali. Lalu disimpulkan, peluang angka 1 pada dadu bermata 6 adalah ½. Seharusnya 1/6.

Dalam analisis, ada istilah “rata-rata” (average) yang secara statistik bisa memiliki 3 arti: modus (terbanyak), median (tertengah) dan mean (jumlah terbagi rata).

Semisal ada 7 data gaji dalam juta Rupiah, yaitu 9, 9, 9, 12, 15, 85 dan 120 juta. Kalau pakai modus, hasilnya 9 juta. Kalau median, hasilnya 12 juta. Kalau mean, hasilnya 37 juta. Semua ini ilmiah, tergantung bela siapa?

Pendapatan perkapita Indonesia kini US$ 4256/tahun alias Rp 5 juta/bulan. Tinggi bagi kebanyakan pekerja dengan UMR. Bagi ASN senior dengan 1 istri dan 4 anak, mestinya dia berpenghasilan Rp 30 juta/bulan.

Maka statistik menambal dengan indikator GINI, ciptaan statistikawan Italia Corrado Gini (1884 –1965). Gini=0 adalah masyarakat yang seluruh anggotanya berpenghasilan sama. Sedang Gini=1 adalah ketika 1 orang menguasai seluruh penghasilan negara.

Statistik adalah ilmu tentang pengumpulan, pengorganisasian, interpretasi, dan penyajian data. Ketika sensus sedang tak dapat dilakukan, pakar statistik mengumpulkan data dengan survei sampel. Sampel yang representatif memastikan bahwa kesimpulan dapat digeneralisasi.

Adalah menarik untuk tahu bahwa Khalifah Umar adalah yang pertama memerintahkan sensus penduduk. Dicatat, siapa saja yang muslim, ahli kitab, atau selainnya; siapa muzakki atau mustahiq; siapa yang sanggup berjihad, dll. Data ini untuk berbagi harta negara dengan adil beserta tanggung jawabnya.

Di era Abbasiyah bermunculan para statistikawan. Umumnya mereka mempelajari permutasi munculnya huruf dalam sebuah teks yang akan dikirim sandi.

Al-Kindi (801-873 M) dalam “Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages”, memberikan metode statistik awal untuk dekode pesan terenkripsi. Sedang Ibn Adlan (1187-1268) berkontribusi pada penggunaan sampel dalam analisis frekuensi.

Di Barat, statistik dimulai oleh Gerolamo Cardano (1501–1576), perintis probabilitas dari Italia. Sedang Karl Pearson (1857 –1936) dari Inggris dianggap pendiri matematika statistik.

Yang menarik adalah, statistika di Eropa didorong para bandar judi. Mereka ingin, model permainan yang memungkinkan siapapun menang, namun jangka panjang tetap bandar judi yang untung.

Dari sisi ini saja tampak bahwa ilmuwan Islam memiliki motivasi yang berbeda dalam mengembangkan statistik.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang pendusta dan zalim. Barang siapa mendatangi mereka lalu membenarkannya, atau membantu kezalimannya, maka dia bukan golonganku dan aku bukan dari golongannya….” (HR Ahmad No. 17424 ).

Seperti sains apapun, statistik dapat digunakan untuk kebaikan maupun untuk kejahatan. Tinggal kita tanya hati nurani kita.

(Artikel ini juga dimuat Harian Kedaulaan Rakyat, 1 September 2021. Kempalan.com mendapat izin dari Prof Dr Fahmi Amhar untuk mengangkatnya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.