Video  

Memperingati Harlah Gus Dur Bersama Greg Barton

memperingati-harlah-gus-dur-bersama-greg-barton

SURABAYA-KEMPALAN: Bulan ini, Madat Club bersama Komunitas Madani melaksanakan serangkaian diskusi mulai Selasa (7/8) dalam satu rangkaian “Bulan Islam dan Madani” yang mengangkat tema-tema kajian ke-Islam-an yang bersentuhan dengan dunia sosial dan politik.

Pada Selasa (7/8) ini yang bertepatan dengan kelahiran K. H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kedua komunitas itu mengadakan diskusi dengan tema “Pemikiran Islam ala Gus Dur” dengan pemateri Greg Barton yang merupakan profesor Islam Global di Universitas Deakin, Australia. Greg juga merupakan orang yang menuliskan biografi dari presiden keempat Indonesia itu.

Dalam diskusi yang akan dipandu oleh Ima Dini Shafira, seorang mahasiswa dari Universitas Brawijaya, dihadirkan pula Zastrouw Al-Ngatawi, mantan ketua LESBUMI periode 2004-2009 yang juga dekat dengan Gus Dur, untuk memberikan sambutan.

Greg Barton (pemateri, atas kiri), Zastrouw Al-Ngatawi (sambutan, atas kanan), dan Ima Dini Shafira (moderator, bawah).

“Menurut saya, kajian ini memiliki nilai strategis, karena situasi sosial politik dalam konteks Indonesia yang menurut kami sangat membutuhkan pemikiran-pemikiran yang dibawa oleh Gus Dur,” jelas mantan Ketua LESBUMI itu dalam sambutannya.

“Inti pemikiran Gus Dur itu kan agama untuk manusia,” tutur Zastrouw seraya menambahkan agama itu dalam kerangka kemanusiaan yang mengedepankan keselamatan manusia. Menurut Zastrouw, ada proses panjang yang membentuk pemikiran Gus Dur yang ia bagi menjadi tiga fase.

Tiga fase itu ialah: fase pertama yakni habitus pesantren yang berasal dari kitab kuning klasik yang dipelajari dari pesantren, yang kedua ialah ketika Gus Dur bersentuhan dengan pemikiran Timur Tengah yang merupakan fase eksplorasi, dan fase rekonstruksi yang dari khazanah klasik dan diterima dari Barat disandingkan bersama lalu direkonstruksi.

Setelah Zastrouw Al-Ngatawi memberikan sambutan, diskusi masuk pada pemaparan materi dari Greg Barton yang membuka pembahasan dengan menyampaikan bahwa agama tidak hanya berkaitan dengan doktrin, namun juga mengenai kehidupan.

Sambutan oleh Zastrouw al-Ngatawi.

“Memang Gus Dur percaya agama Islam mutlak yang ada dalam kitab suci itu merupakan kebenaran yang mutlak, tapi masalahnya di dunia ini, kita masih dalam posisi yang penuh kekurangan, jadi pemahaman kita selalu ada unsur-unsur manusia,” tutur profesor di Universitas Deakin itu.

Manusia bisa saja belajar menjadi orang yang sholeh, namun menurut Greg, ada saja kemungkinan kesalahan, karena manusia bisa saja kurang memahami. Ia menyatakan bahwa pemahaman Gus Dur terhadap Islam memang sesuai dengan ke-Islam-an dan berkaitan dengan ciri khas ideal manusia.

“Pemahaman Gus Dur tentang agama adalah pemahaman yang progresif dan melihat masa depan,” kata Greg yang menurutnya juga tidak melupakan sisi konvensional seperti Tawasut dan Wasatiyyah dalam konteks pulau Jawa dan NU.

Tidak ada masalah antara adat dan agama dalam pemikiran Gus Dur, namun yang paling baik dalam adat adalah yang paling baik dalam agama, yang paling bisa berjalan selaras. Greg juga menjelaskan bahwa ada kemiripan antara pemikiran Gus Dur dan Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Pemateri membandingkan antara Gus Dur dan Cak Nur, yang mana Gus Dur memiliki dampak yang lebih luas karena lebih dapat diakses. Namun keduanya memiliki pemahaman keagamaan yang sama, namun ada perbedaan terkait dengan penerapannya dalam gerakan sosial.

Cak Nur lahir dari gerakan pembaharuan Islam yang dikaitkan pemateri dengan dunia kampus, sementara Gus Dur lebih di akar rumput. Menurut Greg, dalam konteks politik, Gus Dur adalah seorang reformis dan demokrat.

Pemaparan materi oleh Greg Barton.

“Sebetulnya tidak ada Clash of Civilization, kalau pemahaman Gus Dur tidak clash dengan Barack Obama dan Joe Biden,” ujar narasumber. Menurutnya, ialah Jihad yang baik jika ingin membentuk masyarakat yang lebih baik.

Menurut Greg, ketika ditanya sesuatu tentang kepercayaan, Gus Dur tidak menjawab secara hitam-putih dan ambigu, karena berkaitan dengan sikapnya yang tidak angkuh. Adapun Zastrouw menambahkan bahwa berkaitan dengan hal mistik, harus juga menggunakan hukum akal seraya menjelaskan pengamalannya bersama Gus Dur berkaitan dengan makam Mbah Ganjur yang menjadi nama band Zastrouw, Ki Ageng Ganjur.

Greg juga menjelaskan tentang irasional dan suprarasional. Di mana irasional itu bertentangan dengan akal, sementara suprarasional itu dapat diterima akal tapi sudah melampaui hal itu.

Sementara itu, Zastrouw menambahkan bahwa Gus Dur menolak formalisme agama dalam kehidupan bernegara karena akan penuh dengan manipulasi-manipulasi. Lalu, Greg menambahkan bahwa hal semacam itu berkaitan dengan istilah populis yang bisa menggunakan istilah atau sentimen agama untuk manipulasi. (Madat Club for Kempalan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.