Video  

Penyambutan Salah Kaprah

penyambutan-salah-kaprah

Oleh: Hamid Abud Attamimi (Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon)

KEMPALAN: Mungkin sepotong syair dari lagu ‘Berita Kepada Kawan’, dari Ebiet G. Ade memang benar, “betapa Tuhan telah bosan dengan tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa”.

Bangga dengan kesalahan dan dosa adalah perilaku paling nista, alih-alih menyesali dan mengakui bahwa itu semua sebagai kebodohan dan berharap ampunan-Nya.

Betapa kita tidak miris, ketika media massa secara marak dan demonstratif menayangkan penyambutan atas pembebasan seorang mantan narapidana pecabulan anak.

Apapun alasan penyambutan ini, tak bisa menghapus image bahwa mereka tak peduli pada perasaan korban dan keluarganya, yang masih sangat mungkin trauma dan terluka hatinya.

Media massa pun tak bisa mengelak dari stigma, bahwa mereka menganggap kejahatan kekerasan pada anak sebagai perbuatan biasa saja, padahal para korbannya bahkan bisa terpuruk hingga melampaui masa-masa panjang dalam hidupnya.

Saya tak punya kata lain selain ‘menjijikkan’ menanggapi perilaku murahan media massa kita.

Beginikah media massa yang dijiwai nilai dasar Pancasila yang Berketuhanan Yang Maha Esa dan menjunjung nilai-nilai Kemanusiaan??

Tak memiliki empati sama sekali dan seakan bertengger sendirian di atas puncak lembah, dimana disana tak berlaku nilai apapun selain rating dan raupan materi.

Apakah mereka tak melek data dari yang disodorkan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) tentang kasus kekerasan pada anak? Dalam rentang waktu antara Maret 2020 hingga Juni 2021 tercatat 2.726 kasus dilaporkan, ada 52% terkonfirmasi dan mayoritas kekerasan seksual.

Tahun 2020 terdapat 249 anak yang mengalami kekerasan fisik, jumlah ini meningkat dibanding tahun 2019 yang cuma 157 anak.

Pada angka kekerasan seksual terjadi lonjakan lebih dari 100%, dari 190 kasus pada 2019 menjadi 419 kasus pada 2020, padahal pada tentang waktu 2016-2019 tak ada satu pun kasus. Belum lagi kekerasan pada Perempuan, baik fisik maupun psikis.

Apakah angka diatas cuma dipandang sebagai angka, tidak menggambarkan perubahan perilaku sosial?

Apakah mereka yang menjadi korban tak sama sekali menyentuh perasaan kita, semata karena mereka bukan keluarga dan sahabat kita?

Sebegitu tumpulnyakah hati dan nurani kita, sehingga kecenderungan dan fenomena di atas tak mampu menyadarkan kita, bahwa masarakat ini sedang sakit dan semakin jauh dari jatidiri bangsa yang ada di Timur, menjunjung moral dan sangat agamis.

Beberapa tahun lalu, Puslitbang Kemensos pernah merilis tulisan tentang Kekerasan Seksual Terhadap Anak, dampak dan penanganannya.

Kita akan dapat melihat seriusnya dampak kekerasan seksual pada anak, yang antara lain: Pengkhianatan, kepercayaan anak pada orang dewasa, trauma, merasa tidak berdaya, stigma, bahkan menimbulkan ketagihan dan pelampiasan dendam.

Di sinilah peran Negara mutlak harus hadir, termasuk dalam meluruskan keganasan media massa yang rakus pada materi dan mengabaikan sendi moral, termasuk Komisi Penyiaran Indonesia.

Sudah tak punya dan tak mampu lagi kah kita menemukan tokoh Panutan dan Teladan di sekitar, sehingga harus mengelu-elukan seorang mantan narapidana, yang sekalipun barangkali sudah bertobat, tetapi belum menampak buktinya, dan malah mestinya kita berharap, dia menolak cara penyambutan seperti itu, demi lagi-lagi menjaga perasaan orang yang pernah dicederainya.

Atau.. barangkali, inilah yang patut kita khawatirkan, masarakat ini -atau setidaknya mereka yang menyambut-, sudah dikuasai oleh para pengusung pemahaman yang menafikan Tuhan dan Agama, karena tak ada satu agama pun yang mentolerir perilaku kekerasan pada Anak dan Perempuan.

Anak adalah masa depan, sekalipun mereka kadang berperilaku nakal, tetapi tetap harus dipandang sebagai ujian bagi orang tua. Jangankan orang lain, orang tuanya pun tak layak memperlakukan mereka dengan kekerasan. Mengajar mereka adalah dengan semangat Mendidik, dimana tujuan akhirnya perubahan Akhlak dari kurang baik menjadi lebih baik, itulah makanya Keteladanan lebih berhasil dibanding sekedar ujaran dan perintah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.