Video  

Nasionalisme, Tak Sekedar Mencintai

nasionalisme,-tak-sekedar-mencintai

Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Kalau nasionalisme cuma sekedar ‘mencintai’ bangsa dan negeri ini, maka dulu Belanda juga cinta pada negeri ini. Kalau tidak cinta, mengapa mesti jauh-jauh datang. Kalau benar cinta, maka siapa pun yang mampu dan sanggup melakukan yang terbaik bagi bangsa ini, wajib kita dukung dan bantu, tanpa perlu bertanya siapa dan darimana dia.

Jadi cinta itu melakukan yang terbaik, memberikan yang terbaik, bagi sebesar-besarnya maslahat negeri ini, sekalipun mungkin terlalu sedikit atau bahkan tidak ada manfaat bagi dirinya.

Mungkin dia dicela, dicaci, bahkan difitnah, tetapi jika itu semua memang sebuah keniscayaan bagi mewujudkan cita-citanya dan ikhlas dijalani, in syaa Allah malah memperteguh keistikomahannya untuk negeri yang aman sejahtera.

Adapun ‘nasionalisme’ di sisi yang lain cuma menyempal di mulut dan pemoles di bibir.

Mereka berteriak nyaring, malah lebih mirip gonggongan, karena cuma insidental dan reaksi atas apa yang dilakukan orang lain.

Mereka berkomentar atas apa yang diperbuat orang lain, lebih tepatnya nyinyir, tetapi tak mampu menunjukkan atau menampilkan bukti data secuil pun bahwa apa yang dilakukan tersebut tidak relevan atau tidak bermanfaat. Lalu apa yang disuarakan? Menyedihkan! Mereka malah secara menjijikkan mengupas habis tentang hal-hal yang menyangkut privasi seseorang, seperti keluarganya, keturunannya, jadi menafikan tentang perbuatannya.

Bagaimana mungkin semua yang mereka lakukan itu terkait dengan Nasionalisme?

Bukankah jadi absurd, jika mereka bilang mencintai negeri ini di satu fihak, namun disisi yang lain menghabisi orang yang secara kasat mata diakui Warga Negeri ini, bahkan mancanegara, sebagai tokoh berprestasi dan cerdas.

Dalam khazanah bahasa, kita akrab dengan istilah benci dan dengki. Ini memang penyakit hati, lalu menyeruak ke pemikiran dan berlanjut pada perilaku.

Akumulasinya sangat destruktif, mereka tak mampu lagi berpikir objektif, karena semua diukur atas nama kepentingan dan keuntungan pribadi dan kelompok. Apapun jika itu akan mengeliminasi pribadinya maka akan dilawan, sekalipun hal atau orang tersebut sedang mempersembahkan yang terbaik bagi masyarakat luas.

Tentu kita akan membuang waktu secara sia-sia dan menghabiskan tenaga jika meladeni mereka, karena bahkan mungkin, apa yang dituju oleh mereka sejatinya sekedar menciptakan keputusasaan bagi mereka yang tulus mencintai negeri ini, tetapi tak memberi kontribusi keuntungan materi bagi mereka.

Mereka, para pendengki adalah orang-orang jahil (bodoh), karena tak mampu menangkap essensi kebenaran, maka agama memberikan kiat berinteraksi dengan mereka, yaitu lewati dan tinggalkan.
negeri ini punya banyak orang baik dan cerdas daripada hanya berhubungan dengan mereka dan kita terlalu sibuk untuk mengalokasikan waktu dan kesempatan bagi mereka.

Nasionalisme bukan untuk diteriakkan dan cinta membutuhkan kejujuran, maka tak ada yang paling tepat untuk jadi bukti selain terus bekerja.

Kita bekerja bukan karena ingin dilihat dan dinilai, tetapi itulah bagian dari Ibadah, dunia tempat menyemai… dan in syaa Allah nanti kita akan bersama orang-orang sholeh menuai di akhirat sana… Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.