Video  

Peristiwa 9/11 dan Munculnya Pakar Kajian Keamanan Dadakan

peristiwa-9/11-dan-munculnya-pakar-kajian-keamanan-dadakan

Oleh: Reza Maulana Hikam

KEMPALAN: Tepat hari ini adalah 20 tahun kejadian 9/11, tindakan “teroris” yang mampu masuk ke dalam wilayah kekuasaan Amerika Serikat. Ada dua pesawat yang dibajak oleh kelompok yang disebut-sebut sebagai Al-Qaeda, satu ditabrakkan ke World Trade Center (WTC), sementara satu lagi menyasar Pentagon. Keduanya sampai sasaran dengan tingkat kerusakan yang jauh berbeda.

Semenjak 9/11, nampaknya dunia diselimuti ketakutan berlebihan akan terorisme, padahal di Abad Pertengahan, hampir semua kerajaan berada dalam kondisi peperangan yang abadi dengan satu negara melawan negara lainnya. Hal ini menyebabkan kewarganegaraan yang berganti silih hari selalu berganti. Suatu hari penduduk di sebuah wilayah masuk ke dalam wilayah Kerajaan Hongaria, besoknya mereka sudah menjadi penduduk Kekaisaran Utsmani atau Kadipaten Austria.

Semakin hari, dunia semakin sering menggunakan kata teroris. Kata itu telah menjadi kata yang sifatnya politis. Digunakan untuk menuding musuh politik dari rezim penguasa. Kemarin Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Daulah, dan Mujahidin Indonesia Timur yang menjadi teroris, minggu depan Anarko dan Komunis bisa saja dituding teroris, semua demi keamanan kekuasaan negara.

Namun kata teroris juga naik daun dalam kajian akademis. Setiap kali ada ledakan, mendadak semua orang menjadi ahli penanggulangan terorisme, mendadak mereka menjadi lulusan S3 Studi Keamanan dan berbicara mengenai pentingnya kebijakan negara dalam menanggulangi terorisme, entah dalam bentuk tindakan terhadap para teroris atau menggencarkan deradikalisasi.

Para analis dadakan yang lahir semenjak 9/11 ini kerapkali memiliki analisis yang dangkal karena tidak menguasai medan akibat dari sistem kebut semalam yang mereka terapkan dalam mengomentari permasalahan keamanan. Yang biasanya berbicara mengenai investasi, mendadak berbicara dengan nada “konspiratif” tentang Desain Yahudi di balik terorisme untuk menguasai dunia.

Nampaknya, peristiwa 20 tahun yang lalu itu telah melahirkan semacam wong pinter yang mana ilmunya didapatkan dalam sekejap tanpa membaca buku atau belajar terlebih dahulu. Ilmu itu bisa muncul karena keadaan darurat, jadi mereka diperbolehkan mengutarakan pendapat, diundang dalam talkshow di YouTube, juga menjadi pembicara dalam seminar, asal mendukung upaya rezim/penguasa/pemerintah dalam menanggulangi terorisme, terlepas apapun latar belakangnya.

Banyak motif di balik kemunculan para pakar gadungan ini. Ada yang ingin mendapatkan keuntungan materil (karena diundang menjadi pemateri dalam seminar resmi biasanya diberi semacam pesangon yang pastinya cukup buat ngopi). Namun seringkali tujuannya adalah pamor, karena seketika ada yang meledak di suatu tempat, para “pakar” ini akan mencari panggung dengan platform apapun agar biasa disorot, baik di media sosial maupun media massa.

Lalu bagaimana membedakan antara analis gadungan dengan yang asli? Ini adalah pertanyaan yang cukup sulit, karena pastinya tidak bisa diidentifikasi secara fisik, namun jika para pembaca mau sedikit berusaha, bisa dengan melihat latar belakang dari “pakar” yang berkaitan dengan melihat track record-nya. Apa yang dia bahas sebelum ada “tindak terorisme” yang terjadi baru-baru ini.

Para pakar musiman ini biasanya hanya muncul dalam acara-acara yang membahas terorisme dan studi keamanan, ketika terjadi suatu peristiwa yang berkaitan dengan dua hal tersebut, semisal kemenangan Taliban di Afghanistan, maka demi panjat sosial, ada orang-orang yang tidak pernah membaca tentang Taliban, tidak pernah bersentuhan dengan Taliban, tidak pernah mempelajari Taliban, mendadak memperingatkan khalayak umum tentang bahaya Taliban di Indonesia.

Lalu apa dampak para pakar dadakan, gadungan, dan musiman ini? Membuat pemerintah dan masyarakat Indonesia semakin panik. Ada petasan meledak, dianggap bom bunuh diri, ada kebakaran, dianggap Anarko membakar gedung DPR, ada musibah, dianggap desain Yahudi. Kepanikan ini pada waktunya akan bermuara pada tindakan dan kebijakan yang gegabah, seperti mempermasalahkan janggut, celana cingkrang, dan niqab/burka.

Pada akhirnya, ada penduduk yang justru intoleran terhadap orang-orang yang mempunyai janggut, memakai celana cingkrang, dan menggunakan niqab/burka, padahal hal itu tidak lebih dari sekedar fashion, bukan kriteria seseorang dapat dikategorikan sebagai teroris.

Karena kesesatan akibat pembelajaran kebut semalam, akhirnya istilah apapun dikaitkan dengan terorisme, seperti radikalisme dan fundamentalisme, padahal kedua istilah itu kerapkali memiliki makna yang sangat berbeda dengan terorisme. Hanya satu istilah yang nampaknya tepat disandingkan dengan terorisme, yakni radikalisasi.

Menurut Farhad Khosrokhavar dalam bukunya Radicalization, istilah radikalisasi merujuk kepada proses dimana seorang individu atau sekelompok orang mengadopsi bentuk aksi kekerasan yang secara langsung berkaitan dengan ideologi ekstrimis dengan konten politis, sosial dan keagamaan yang melawan tatanan yang sudah mapan pada tingkatan politik, sosial, dan kultural.

Susahnya adalah istilah radikalisasi dan teroris adalah istilah yang sangat politis. Para pakar gadungan itu akan selalu mendapatkan panggung karena pemerintah/rezim membutuhkan mereka untuk membenarkan setiap kebijakan yang dikeluarkan atas nama “Perang Melawan Terorisme” yang pada suatu titik, bisa digunakan pemerintah/rezim untuk menghilangkan oposisi politik hanya dengan menuding mereka sebagai kelompok teroris, radikal, ekstrem, dan lain sebagainya.

Bagaimana solusinya? Dengarkan atau baca saja apa yang disampaikan para analis kajian keamanan dadakan, namun sama seperti menghadapi kelompok yang dianggap “radikal/ekstrem”, jangan lupa para pembaca mempelajari latar belakang analis tersebut sekaligus menyaring apa yang mereka sampaikan dengan membaca atau mendengarkan dari orang lain yang memang berkecimpung di bidang tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.