Video  

Mengenal Istilah Teologi Politik Bersama Naser Ghobadzadeh

mengenal-istilah-teologi-politik-bersama-naser-ghobadzadeh

SURABAYA-KEMPALAN: Selama Bulan Islam dan Madani, Madat Club dan Komunitas Madani mengundang sejumlah pemateri baik dari dalam negeri maupun mancanegara untuk mengulas permasalahan-permasalahan seputar Islam. Bulan ini dibuka dengan peringatan Harlah Gus Dur yang mengundang Greg Barton dan Zastrouw al-Ngatawi.

Untuk pembahasan kali ini, kedua komunitas di Jawa Timur itu mengundang Naser Ghobadzadeh, akademisi kajian keislaman dari Australian Catholic University membahas “Teologi Politik Islam” yang dimoderatori oleh salah satu pengelola Kedai Resensi Surabaya, A. Faricha Mantika.

Ketika membuka diskusi ini, Naser Ghobadzadeh mengatakan bahwa ada kesalahpahaman umum kaitan Islam dan politik, bahwa Islam adalah agama yang politis. Ada kebingungan antara konsep politik dan Islam.

Menurut Naser, politik lebih luas dari hanya membahas institusi Negara. Keharusan membuat Negara Islam adalah kesalahan. Politik dalam agama berkaitan dengan mengelola masyarakat.

“Nabi Muhammad adalah otoritas politik sekaligus otoritas agama, seperti keempat Sahabat Nabi yang menjadi khalifah, namun khalifah memang menjadi otoritas politik, namun otoritas agama dipindah kepada para ulama,” tuturnya.

Narasumber juga menjelaskan bahwa teologi politik Syiah percaya Imam Ali yang harus menggantikan Nabi Muhammad Saw. Selama tiga abad awal Islam, Syiah selalu kalah dalam politik, tidak ada salah satu dari dua belas Imam berhasil mengambil posisi sebagai Khalifah. Usai pembunuhan terhadap Imam Ali, anaknya, Hasan hanya berkuasa selama tujuh bulan.

“Dalam teologi politik Syiah, posisi penguasa adalah untuk dua belas Imam yang merupakan figur mesianistik dan dari situ penganut Syiah beranggapan bahwa mereka tidak harus mengambil alih kekuasaan negara,” ujar dosen senior Australian Catholic University itu.

“Penganut Syiah selalu aktif dalam politik, tapi sebagai bagian dari masyarakat sipil, tapi bukan sebagai partai politik,” tambahnya.

Selanjutnya, pemateri menjelaskan panjang lebar mengenai kenapa Imam Khomeini adalah agamawan yang berbeda dibanding lainnya, karena ia harus dilihat dalam konteks pada zaman dan tempatnya, Iran.

Pada masa mendekati Revolusi Iran, kondisi negara tersebut sangat disekularisasi atas nama modernisasi sehingga ada percikan-percikan keagamaan yang bermuara pada gejolak politik tersebut, ditambah dengan kehidupan Shah Reza Pahlevi yang begitu mewah.

Secara umum, Naser menjelaskan Teologi Politik Islam dalam konteks Syiah dan Iran, dimana keduanya memang merupakan fenomena politik yang unik pada abad keduapuluh, hal ini dikarenakan ia merupakan penduduk Iran, yang sekarang sedang berdomisili di Australia. (Madat Club)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.