Video  

Perubahan Tradisi Negara Muslim Pusat vs Pinggiran

perubahan-tradisi-negara-muslim-pusat-vs-pinggiran

Judul Buku: A Socio-Religious Change In The Muslim Countries

Penulis: Achmad Jainuri

Penerbit: Umsida Press

Terbit: September 2021

Peresensi: Kumara Adji Kusuma

 

KEMPALAN: Modernisasi merupakan isu yang terus aktual di dunia Islam. Ini karena visi modernisasi seolah tampak berseberangan dengan visi Islam. Modernisasi dituduh mengarah pada paham ajaran sekularisme yang menegasikan eksisteni ketuhanan. Namun modernisasi kemudian tidak bisa dimaknai sebagai gerakan ateisasi, karena moderrnisasi kemudian dimaknai sebagai semangat untuk memaknai dunia sebatas dunia. Karenanya, pemaknaan agama kemudian didialektikakan dengna kontek sosial.

Pemaknaan agama kemudian mengalami perubahan sesuai dengan kondisi sosial suatu masyarakat. Persoalan modernisasi di dunia muslim dalam pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Achmad Jainuri, Ph.D. dalam buku A Socio-Religious Change In The Muslim Countries menggambarkan bagaimana modernisasi itu muncul di negara non Arab Timur Tengah.

Modernisasi itu malah terjadi di negra non-Arab Timur Tengah adalah karena modernisasi lebih laku di daerah Islam pinggiran. Dalam konteks ini, Islam yang core Timur tengah malah tidak menerima moderniasi karena mereka masih merasa sebagai bangsa yang tidak lama maju yakni berakhirnya masa Dinasti Abbas. Jadi kenapa harus impor modernisasi?

Hal tersebut berbeda dengan berbagai negara Muslim pinggiran seperti Mesir, meski bahasanya arab; juga berbeda dengan negara terutama di Asia Tengah, Asia selatan, Asia Tenggara termasuk Indonesia, Turki, dan sebagainya. Hal ini menjadi sorotan penting. Ada Tarik menarik antara continuity dan change di negara pinggiran.

Tarik menarik tersebut terkait bagaimana satu sisi ada kecenderungan mempertahankan tradisi lama. Karena itu perubahan dianggap sebagai pelecehan bagi agama itu sendiri. Sedangkan yang lain menganggap perubahan meski dilakukan asal ajaran Islam dilaksanakan secara baik. Isu yang penting di sini adalah bagaimana moderninsasi mengakomodasi pikiran dan elemen yang berkembang di luar negara muslim itu sendiri. Asal tidak bertentangan dengan prinsip ajaran islam.

Prof Jainuri menjelaskan bahwa walaupun agak lama pemerintahan al Mansur pada masa Dinasti Abbasiyah, peran ibnu Mukhofah menyangkut masalah bagaimana seharusnya perilaku seorang pemimpin memberi pedoman yang bagus. Sangat penting juga dalam konteks  ini untuk mempelajari hal tersebut. Yang penting adalah serapan nilai nilai yang berasal dari Kawasan bukan islam dan dimodifikasi

Inti dari buku in ada pada pambahasan di bab 2, yaitu pemahaman yang memberi legitimasi pembaharuan di dunia muslim memiliki landasan yang kuat. Artinya perubahan itu diperkenankan dalam islam. Pertama karena islam adalah agama rahmatan lilalamin yang universalitas Islam yang memiliki makna yang luas. Baik isi, berlaku sepanjang masa dan menembuh batas geografis. Ini penting karena berbeda dengan pemahaman agama non islam. Terutama kaum sekularis agama menilai agama itu hanya mengurus ritual ibadah. Padahal Islam mengurus semua tidak hanya yang ibadah ritual saja tetapi dari seluruh asepek kehidupan manusia.

Pesoalannya hal yang universal itu tertulis 30 juz dan tidak harus berbeicara secara mendetail, berbicara yang umum, tujuan pokok, kalau alquran itu mendetail maka itu akan menjadi seperti buku kompilasi hukum. Ini justru malah tidak melambangkan keuniversalan tersebut. Sama seperti kompilasi hukum kalau ada kasus  tinggal buka buku saja. Karenanya yang detil itu adalah kita semua yang membaca Al Quran. Dan ini yang diusung oleh kaum muslim abad modern.

Jadi transmisi juga berpengaruh berasal dari luar Kawasan negara islam yang pinggiran. Dalam konteks Indonesia ada pengaruh Timur Tengah yakni Arab Saudi yang lebih kemudian merefleksikan Gerakan purifikasi karena diperoleh para tokoh yang belajar di Arab Saudi. Tauhid dipakai untuk  memverifikasi masyarakat muslim tradsional untuk menghilangkan “yang maburekso.” Fikih untuk memverifikasi ritual yang dikategorikan bidah. Tapi dalam konteks sosial keagamaan yang mengarah pada penddikan lebih banyak ke M. Abduh di mesir dan Indonesia.

Buku ini juga mengungkap bagaimana modernisasi di Asia Tengah. Juga diungkap tokoh yang kemudian melakukukan reformasi seperti di negara Kazakhstan, Turkmenistan, dsb. Lalu di India di aligarkh terutam gerakannya sama dengan KH Ahmad Dahlan. Di Aligarkh sangat berbeda degna New Delhi yang kumuh. Sedangkan Aligarkh benar benar mencerminkan islami.

Kasus Indonesia, isu yang sama pun terjadi, yakni tarik menarik antara usur yang berpegang pada tradisi lama dan yang baru.  Kasus yang terakhir dalam konteksi pemikiran juga diangkat isu yang dilontarkan oleh almarhum Munawir Sjadzali tentang waris. Dia menyebutkan, misalnya, waris untuk laki-laki dibanding perempuan tidak lagi 2:1, karena ini adalah  soal  keadilan.  Ini Mengindikasikan bahwa masyarkaat muslim mulai mengevaluasi kembali pemahaman keagamaan.

Dasar yang digunakan munawir pertama, sebelum membangun rumah tangga ada harta  gono gini, harta yang dibawa pihak laki-laki dan perempuan. Kaum perempuan juga aktif mencari uang, dan sebagainya. Kedua dasarnya adalah di Indonesia jarang orang mewariskan harta. Sebelum orang tua meninggal harta sudah dibagikan. Jadi itu menjadi dasar sehingga orang tua meinggal tiak ada lagi yang diwariskan. Ketiga peran wanita tidak hanya di ranah kehidupan privat tapi juga di ruang publik.

Buku ini sangat menarik bagi mereka yang ingin mengetahui lebih dalam bagaiamana isu perubahan sosial keagamaan dengan isu modernisasi yang terus berkembang di negara-negara Muslim. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.