Video  

Kemenkumham: Para Oknum Banyak Menjual Film Bajakan di Telegram

kemenkumham:-para-oknum-banyak-menjual-film-bajakan-di-telegram

JAKARTA-KEMPALAN: Dunia yang serba digital menimbulkan efek samping negatif dalam industri perfilman. Rawannya terjadi pembajakan dalam industri film mengakibatkan berbagai sineas dan production house (PH) merugi. Telegram menjadi salah satu aplikasi yang biasa menjual film-film bajakan.

Hal ini disampaikan secara gamblang oleh Agung Damarsasongko selaku Kasubdit Pelayanan Hukum dan Lembaga Manajemen Kolektif DJKI Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Ia menguraikan bahwa para oknum pembajak menjajakan film-film ilegal tersebut Telegram.

“Kalau kita lihat sekarang juga banyak orang bisa mendownload film bajakan dari Telegram dan itu dipastikan bajakan,” ujar Agung Damarsasongko dalam diskusi virtual HKI BLC Universitas Gadjah Mada, dikutip dari Suara, pada Sabtu (11/9).

Variasi metode-metode dilakukan oleh pembajak untuk menyalurkan film-film bajakannya kepada konsumen. Tidak hanya aplikasi Telegram, namun juga merambah di berbagai e-commerce lokal yang mudah diakses oleh masyarakat. Bahkan, para pembajak tersebut menjual film tersebut dengan medium USB, sehingga mempermudah untuk mendistribusikan hal tersebut.
Oleh karenanya, menurut Agung sangat penting adanya komunikasi, sinergi, dan koordinasi antara pihak pemerintah dan stakeholder (dalam hal ini sineas atau pembuat film). Kedua lembaga ini harus kooperatif dalam upaya memangkas praktik pembajakan film yang jelas-jelas merugikan industri perfilman.

Dalam forum yang sama, Wiwid Setya selaku Pengajar FFTV Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengafirmasi hal tersebut. Bahkan, ia melihat bahwa digitalisasi ini mengakibatkan mudahnya para oknum untuk membajak film-film dan dijual-belikan sebagai komoditas yang tentu ilegal.

Wiwid menyebutkan jika tindakan negatif seperti ini dilakukan secara masif, maka bukan tidak mungkin industri perfilman dapat mati dan terbunuh. Rasionalisasinya, secara eksplisit para sineas, PH, ataupun pembuat film akan rugi besar. Yang mana berimbas pada tidak untungnya para stakeholder dalam membuat film. (Rafi Aufa Mawardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.