Video  

Pilihan Sikap dan Keyakinan

pilihan-sikap-dan-keyakinan

Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Dalam dunia fauna (hewan), sering ditampilkan bagaimana masing-masing jenis memiliki mekanisme pertahanan diri. Mekanisme itu secara insting dimunculkan ketika mereka dihadapkan pada bahaya yang muncul secara tiba-tiba, atau bahkan ketika mereka baru menengarai ada sesuatu yang mengancam jiwa mereka.

Menyaksikan itu semua, sering kita hanya berujar dan memuji kebesaran-Nya… Subhanallah, betapa Maha Sempurna ciptaan Allah.

Manusia? Tentu sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna, pun dilengkapi dengan kemampuan untuk mempertahankan dirinya, baik secara fisik maupun psikis.

Bahkan dengan kecerdasannya, manusia mampu mengubah situasi atau suasana yang mengganggu tersebut menjadi kondisi yang justru menunjukkan kekuatan diri atau kelompoknya.

Pada manusia, bahkan potensi ancaman itu tidak melulu terkait dengan jiwanya, juga lebih jauh karena berkenaan dengan keyakinan dan prinsip dalam hidupnya.

Bahkan dalam bernegara, secara sistematis negara memformulasikannya sebagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Ini agar kita tidak berhenti pada sekedar memetakan potensinya, tapi juga mempersiapkan diri secara prefentif dan represif.

Seorang Muslim dengan kelengkapan akal serta akhlak, yang dipandu agama, tak perlu menunjukkan jati diri dan eksistensinya dengan kekerasan, sebab kelemahlembutan, kesantunan adalah pesan inti Allah pada Rasulullah.

Tak akan mampu menangkap pesan moral ini, kecuali jiwa yang bersih dan hati yang lapang, ketika berhadapan atau dihadapkan pada situasi dimana pihak lain yang berinteraksi dengan diri mereka menunjukkan sikap yang berbeda.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S Al-Qalaam: 4)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (Q.S Al-Imran: 159).

Indonesia sebagai Bangsa dan Negara dengan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup sudah mampukah menciptakan karakter Warga Negara yang siap untuk berbeda dan santun menyikapinya?

Demokrasi tak sama dan sebangun dengan demokrat, karena Demokrat tak serta merta berjaya karena besar, tapi mutlak harus menghargai perbedaan dan menghormati keberagaman.

Sikap anak-anak kita para Santri yang merasa terusik karena alunan musik, bukanlah tanpa alasan. Kita mesti bangga dengan pilihan sikap mereka, tak suka tetapi tak menegasikan hak orang lain, maka mereka memilih untuk melindungi diri secara maksimal dari potensi yang akan merusak jiwa mereka. Ini keyakinan mereka, sebagai para penghafal Qur’an yang akrab dengan suasana tenang dan damai.

Apa ada yang salah sampai disini? Mereka tidak meminta alunan musik tadi dihentikan, seperti mereka yang merasa terganggu dengan suara adzan, atau keluar ruangan.

Para santri tersebut sedang memenuhi kewajiban negara untuk divaksin, sebagai tuan rumah yang baik, malah seharusnya penyelenggara memahami ketidaknyamanan mereka.

Mereka yang mengolok-olok, mencaci, membuat tuduhan ngawur pada para santri tersebut justru harus diwaspadai sebagai orang-orang yang bukan hanya tak menyukai pilihan sikap para santri tersebut, bahkan sangat mungkin mereka menyimpan kebencian pada santri dan Pesantren.

Sujiwo Tejo, seorang yang kesehariannya bergelut dengan musik saja, bisa memahami dan menghargai pilihan sikap para Santri tersebut yang menutup kedua telinganya.

Seperti ujaran orang bijak: Remember, Growing Older is Mandatory. Growing Up is Optional! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.