Video  

Amalan si Miskin untuk Menandingi si Kaya

amalan-si-miskin-untuk-menandingi-si-kaya

Oleh Gus Fikri, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlussolihin Jember

KEMPALAN: Suatu ketika sahabat-sahabat yang miskin mendatangi Kanjeng Nabi. Mereka bukan mengeluhkan kemiskinan mereka tapi mereka merasa amal mereka kalah banyak dengan amal teman-teman mereka sahabat-sahabat yang kaya.

Mereka menyampaikan betapa enaknya orang kaya. Yang miskin sholat yang kaya juga sholat. Begitu juga puasa dan amal-amal yang lain. Semua yang dilakukan oleh yang miskin juga dilakukan oleh yang kaya. Sedangkan amal yang dilakukan yang kaya tidak bisa dilakukan yang miskin seperti haji umroh zakat dan shodaqoh.

Walhasil sahabat-sahabat yang miskin merasa kalah amal dengan sahabat-sahabat yang kaya. Mereka iri ; kalau dalam urusan kebaikan disebut ghibtoh; dengan sahabat kaya.

Kanjeng Nabi tersenyum mengapresiasi keluhan mereka sahabat-sahabat miskin. Kemudian Kanjeng Nabi memberi solusi. Apa itu?

Kanjeng Nabi menyarankan mereka untuk melakukan amal-amal yang pahalanya sama dengan haji dan umroh yaitu setiap selesai sholat fardlu membaca:

سبحان الله ٣٣ ×
الحمد لله ٣٣ ×
الله اكبر ٣٣ ×

Subhanallah 33 ×
Alhamdulillah 33 ×
Allahu Akbar 33 ×

Kemudian ditutup dengan membaca :

لا اله الا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي و يميت وهو على كل شيء قدير

Dawuh kanjeng Nabi ; Pahala bacaan-bacaan itu sama dengan pahala haji dan umroh. Jadi sahabat -sahabat miskin juga bisa menandingi atau menyamai amalan-amalan sahabat-sahabat kaya yang bisa beramal dengan hartanya.

Subhanallah …..

Kalau Kita perhatikan riwayat diatas Kita bisa mengambil beberapa pelajaran.

Pelajaran Pertama;
Betapa sahabat-sahabat itu sangat semangat dalam urusan ibadah atau urusan akhirat. Mereka tidak silau harta atau kekayaan yang dimiliki sahabat-sahabat kaya.

Mereka tidak iri dalam urusan kebendaan atau urusan dunia tapi iri kalau mengetahui ada orang lain yang amalnya lebih banyak. Mereka berlomba-lomba dan berpacu dalam masalah kebaikan untuk meraih pahala bukan berlomba dalam masalah kesenangan dunia.

Bagaimana dengan kita ?

Seringkali terbalik……….

Kalau urusan dunia sangat semangat tapi dalam urusan akhirat mendadak lunglai loyo tidak semangat. Dalam hal harta dan materi serta kekayaan sangat serakah dan ingin yang lebih banyak yang lebih baik tapi dalam urusan ibadah dan akhirat cukup seadanya bahkan diabaikan.

Lihat orang punya mobil bagus rumah mewah uang banyak jabatan tinggi tergiur ingin juga memiliki tapi melihat ada orang bisa istiqomah sholat jamaah di masjid atau rutin kajian atau rajin baca qur’an dan bangun malam tidak terpesona dan tidak ingin mengikuti.

Pelajaran Kedua;
Iri dalam urusan dunia haram hukumnya tapi iri dalam urusan ibadah dan kebaikan; disebut ghibtoh; diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Bahkan Kanjeng Nabi dawuh ada 2 iri atau hasad yang diperbolehkan; Iri kepada orang kaya yang ahli shodaqoh dan iri kepada orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.

Pelajaran Ketiga;
Betapa banyak amal-amal yang ringan dilakukan tapi punya pahala yg sangat besar contohnya amal diatas.

Contoh lain: Sholat jamaah yang berpahala 25 kali lipat dari sholat sendirian dengan 27 derajat lebih tinggi.

Contoh lain; Memegang istri mendapat pahala 40 kebaikan 😁😁. Mencium istri sama dengan mencium Hajar Aswad 😁😁😁 dsb dst.

Tapi aneh ….. Pahala yang mudah dan gratis Kita enggan dan merasa berat sedang maksiat yang berat bahkan harus membayar Kita semangat.

Masya Allah …… Ada anomali dalam hidup Kita

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi semangat kepada Kita untuk mengejar pahala sebagai bekal pulang Kita menghadap Allah seperti Kita semangat dalam berburu dunia.

Mudah-mudahan tulisan ini barokah manfaat. Kalau ada kesalahan tolong dikoreksi dan dimaafkan.

Wallahu A’lam Bi Al Showab

Salam Sehat Salam Bahagia

❤❤❤

GF fee Riyadlussholihin

Editor: Reza Maulana Hikam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.