Video  

Muslim Sahabat Bagi Siapa pun

muslim-sahabat-bagi-siapa-pun

Oleh: Hamid Abud Attamimi

Aktivis Dakwah dan Pendidikan Tinggi, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Mengapa seseorang bisa serta merta melupakan kebaikan yang pernah diterima dari sahabatnya, cuma karena suatu saat sahabatnya melakukan sesuatu yang dia tidak sukai? Seakan yang ada pada sahabatnya adalah keburukan dan kejahatan, dan yang diingat dan dirasakannya adalah pedih dan sakit hati.

Betapa dia terus kemanapun dan kapanpun membawa luka di hatinya dan sesak di dadanya, setiap mengingat hal yang dialaminya tersebut. Wajah ramah dan senyum santun sahabat yang biasanya menyembul dalam ingatan, lenyap tak berbekas. Sering ia tak mampu berkonsentrasi dan fokus pada apa yang dilakukannya, karena selalu merasa pernah dilecehkan dan direndahkan.

Ia merawat luka dan sesak itu agar jangan pernah sembuh dan hilang dari hati dan pikirannya. Ia seakan menyediakan bilik khusus dihatinya bagi menjaga perasaan terlukai tersebut.

Bukankah bisa kita bayangkan betapa tersiksa hidupnya? Bahkan secara tak sadar kadang Ia bergumam, betapa ia tak akan pernah melupakan apa yang telah diterimanya sampai kapanpun.

Pertanyaannya, benar dan yakinkah sahabatnya melakukan itu secara sengaja dan sadar, ataukah itu hanya sebuah kekhilafan, yang siapapun bisa mengalami?

Benarkah apapun yang kita tidak sukai serta menimpa kita adalah karena kesalahan orang? Bukankah sebagai manusia, kita punya banyak kelemahan untuk memahami semuanya, jangankan pada apa yang terjadi di luar sana, bahkan yang terjadi pada diri sendiripun sering kita membutuhkan orang lain untuk menjelaskannya, misalnya jika kita sakit.

Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa boleh jadi pada apa yang kita tidak sukai tersebut justru ada banyak kebaikan,begitupun sebaliknya.

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al- Baqarah: 216)

Apakah pasti pada keburukan yang kita terima adalah karena ulah orang lain? Kalau selalu menyalahkan orang lain, lalu kapan kita bisa belajar untuk jadi tau dan menjadi lebih baik? Dunia menjadi terlalu sempit bagi orang yang menganggap dirinya selalu dan paling sengsara, seakan orang di luar sana tak pernah bisa memahami dirinya. Lihatlah didiri ini, apa yang sudah kita miliki sedangkan orang lain belum memiliki.

Jadilah pribadi yang terus berlapang dada, mudah memaafkan, tak sungkan menghargai prestasi orang, karena sejatinya kita pun amat berharap menemukan hal-hal yang sama pada sahabat ketika kita lalai dan khilaf.

Berbagilah dan katakan bahwa harapan selalu ada bagi yang terus berusaha. Bersyukurlah dengan memanfaatkan apapun yang telah dikaruniakan-Nya pada kita bagi sebesar-besarnya kemanfaatan orang banyak.

Tak ada orang yang suka bersahabat dengan orang yang terus berharap kita mendengar keluhan-keluhannya, karena setiap orang punya masalah. Percayalah… sesudah itu kita akan merasakan terlahir kembali, udara lebih segar dan banyak orang merasa tak punya alasan tak berbagi senyum pada kita.

Begitulah Muslim… mencintai dan dicintai. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.