Video  

Rusia Dituduh “Mengganggu” Pemulihan Ekonomi Britania Raya

rusia-dituduh-“mengganggu”-pemulihan-ekonomi-britania-raya

London-Kempalan: Badan Usaha Milik Negara Rusia, Gazprom sedang menghadapi investigasi besar-besaran sebagai buntut dari semakin naiknya harga gas yang kemudian semakin membuat mahal harga di Britania Raya. Dalam tuduhannya tersebut, Gazprom dianggap memang sengaja berupaya melemahkan perekonomian Britania Raya dengan semakin meninggikan harga gas dan minyak.

Sebagai pembuka, Rusia sangat bergantung terhadap ekspor minyak dan gasnya yang bahkan sampai 60%. Rusia juga dengan cerdik memainkan geopolitiknya untuk menjadi pemain utama minyak dan gas di Eropa dan sekitarnya.

Gazprom dituduh melakukan “Manipulasi pasar” oleh sekitar lebih dari 40 perusahaan Kontraktor Mekanik dan Listrik di Britania Raya setelah semakin meningkatnya harga listrik yang melejit hingga 11 kali lipat dibanding harga biasanya.

Hal itu bisa terjadi berkat adanya keterkaitan antara suplai gas dari Rusia hingga rendahnya suplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA). Dengan adanya kombinasi kedua permasalahan tersebut, dalam waktu dekat atau panjangnya, Britania Raya akan mengalami kekurangan CO2 yang dapat membahayakan industri-industri terlebih lagi industri daging.

Juru Bicara pemerintah mengatakan bahwa mereka akan memantau situasi tersebut dan akan melakukan regulasi secara cepat supaya permasalahan yang timbul dapat diatasi.

“Kami sedang memonitoring dan mengevaluasi situasi tersebut secar saksama dan akan memberlakukan regulasi secara cepat untuk dapat mengatasi masalah pangan dan pertanian serta industri lainnya” ucap juru bicara pemerintah.

Beberapa perusahaan Kontraktor Mekanik dan Listrik di Britania Raya mengatakan bahwa Gazprom memang menjadi pelaku dari semua ini karena menekan harga minyak dan gas menjadi lebih tinggi.

“Kami memanggil semua Komisi Eropa untuk segera melakukan investigasi terhadap adanya kemungkinan manipulasi oleh Gazprom yang dapat melanggar peraturan Uni Eropa” ucap salah satu perusahaan dalam suratnya.

(LBC, Muhamad Nurilham)

Editor: Freddy Mutiara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.