Video  

Kace bukan Ahok

kace-bukan-ahok

Abdul Rachman Thaha

Oleh: Abdul Rachman Thaha (ART)
Anggota Komite 1 DPD RI

KEMPALAN: Dulu BTP (Ahok) mendapat perlakuan yang bisa dibilang istimewa. Dia tidak ditahan walau sudah ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama. Bahkan setelah jatuh vonis bersalah, Ahok tidak dipenjara bersama para napi lainnya.

Mengapa Kace dan Ahok diberikan perlakuan berbeda? Tak pelak, Kace seperti berstatus ganda. Dia (tersangka) pelaku penistaan agama. Dia juga korban kerja hukum yang tebang pilih.

Nasib Kace menyadarkan kita bahwa andai Ahok ditempatkan di dormitori seperti MK, bisa saja dia mengalami kondisi yang sama. Remuk redam dilibas sesama tahanan atau pun narapidana.

Pada satu sisi, “kasihan” Kace. Kalau saja dia memperoleh privilese seperti yang dulu diberikan ke Ahok, dengan kata lain tidak ada diskriminasi perlakuan hukum, Kace tidak akan menjadi objek berita hari ini.

Pada sisi lain, itulah potret “mahkamah hukum” di dalam penjara.

Foto yang beredar di grup Whatsapp menggambarkan kondisi Muhammad Kace yang dikabarkan menjadi korban penganiayaan

Dalam kehidupan sehari-hari, agama berada pada posisi tertinggi. Tapi begitu ada yang melecehkan agama, hukumannya cuma sekitar lima tahun. Hukuman yang hanya segitu dipersepsikan tidak mewakili kemuliaan agama. Alhasil, tahanan atau pun napi yang ikut merasa terluka akibat agamanya dilecehkan kemudian memilih menegakkan hukum ala mereka sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa narapidana punya semacam kasta. Penjahat seksual berada di kasta terbawah. Konsekuensinya adalah dia dibikin porak-poranda begitu masuk ke dalam penjara. Sedangkan narapidana berkasta tertinggi adalah napi politik. Mereka menjadi guru besar yang dihormati para napi lainnya. Jangan-jangan, aksi Napoleon menjadi preseden bagi munculnya kasta baru yang lebih rendah lagi daripada yang terendah, yaitu narapidana penistaan agama. Dengan dugaan seperti itu, saya mewanti-wanti siapa pun yang nekad menghina agama: bersiaplah diazab si penjara. Saya pastinya menolak segala bentuk penganiayaan. Tapi karena kekerasan dalam penjara sudah menjadi sub budaya, maka sekali lagi, bersiaplah wahai para penista agama.

Sah sudah; dalam revisi KUHP, sanksi pidana bagi pelaku penistaan agama patut dihukum lebih berat lagi. (*)

Editor: Freddy Mutiara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.