Video  

Nenek Moyangku Orang Pelaut

nenek-moyangku-orang-pelaut

Penulis: Hadi Prasetyo

KEMPALAN: MANUSIA Indonesia, seperti juga manusia pada umumnya, saya kira bukanlah cetakan tunggal murni Adam di atas bumi yang ditaruh dalam gelas, tanpa sejarah, tanpa keterlanjuran kebudayaan. Tentang kapan tarikh waktu mulainya, banyak versi yang menuliskan. Dari berbagai temuan nekara, manik-manik dan perangkat logam yang terserak dari Sabang hingga Merauke, banyak ahli menduga bahwa, sejarah budaya manusia Nusantara telah ada jauh sebelum abad Masehi. Menurut telaah Robert Dick-Read, para pelaut Nusantara diduga pernah menempati wilayah India Selatan pada era pra-Dravida—akhir 500 SM—dengan menggunakan kano bercadik satu.

Oleh masyarakat Tamil, para pelaut Nusantara ini disebut sebagai Ras Naga dan kano bercadiknya kemudian diserap dalam kebudayaan Tamil. Dugaan ini dilandasi oleh sebagian besar pakar abad ke 19 yang meyakini bahwa, bangsa India bukanlah bangsa pelaut. Ini artinya, kano milik pelaut Indonesia direplikasi menjadi model kano umum di India. Dan sebaliknya, para penjelajah dunia dari Nusantara itu kemudian pulang dengan membawa beragam pengaruh dari mancanegara. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa, penyebab utama hadirnya pengaruh India di Nusantara adalah karena peran penduduk asli dari berbagai daerah Asia Tenggara yang kembali ke negeri asalnya setelah lama berada di India.

Menurut George Coedes dalam Les Etats Hindouises d’Indochine et d’Indonesie, Nusantara sebelum datangnya kebudayaan Hindu dan Budha telah memiliki kebudayaan sendiri seperti bercocok tanam, seni bangun, dan mengolah logam. Sedang Krom menambahkan penjelasan Coedes dengan kesenian yang telah dimiliki penduduk nusantara seperti Gamelan, Wayang kulit juga kerja membatik. Dalam hal kepercayaan penduduk Nusantara telah menaruh “penghargaan” pada roh-roh Leluhur juga pada benda-benda (pohon, batu, air, tanah) sebagai elemen lain yang menempati dunia ini sebagai penanda bagi eksistensi kekuatan yang lebih besar diluar semua itu yaitu Tuhan.

Ada beberapa teori yang ditawarkan para sarjana Belanda tentang masuknya kebudayaan Hindu-Budha ke Nusantara. Salah satunya adalah teori ksatria sebagaimana dikemukakan C.C Berg. Menurut Berg, kebudayaan India (HinduBudha) berkembang karena kegiatan-kegiatan para hulubalang India yang pindah ke Nusantara dan kemudian menikah dengan penduduk asli dan mendirikan dinastidinasti. Sementara N.J Krom, mengemukakan teori Vaisyanya, yang menerangkan masuknya orang India ke Nusantara dengan damai, aman dan bermula dari pedagang yang menetap di Melayu dan kemudian menikahi penduduk asli.

Namun, kedua teori tersebut mendapat kritikan dari Bosch. Menurut Bosch, hipotesis ksatria tidak mewakili dari hasil-hasil peninggalan yang ada di Nusantara. Prasasti-prasasti yang kemudian ditemukan ternyata tidak menggunakan Bahasa Sansekerta yang murni, tetapi bercampur dengan bahasa lokal. Selain itu, sistem kasta yang ada dalam masyarakat India juga tidak benar-benar dipakai di Nusantara, kecuali di Bali. Seni bangunan seperti candi di Nusantara, juga berbeda dengan candi-candi di India. Menurut Bosh, itu merupakan asli hasil karya penduduk Nusantara. Kemudian, jika yang membawa kebudayaan Hindu-Budha adalah pedagang, maka seharusnya 2 pusat-pusat kebudayaan Hindu-Budha berada di tepi pantai, dan bukan di pedalaman. Hubungan perdagangan itu sendiri tidak cukup untuk mengembangkan kebudayaan tinggi satu-satunya bangsa ke bangsa lain. Dengan demikian, kebudayaan Nusantara itu—dengan berbagai pengaruh tentu saja—dibangun sendiri oleh penduduk asli, begitu pula dengan penyebaran agama Hindu dan Budha. Dan semua itu dimungkinkan karena masyarakat Nusantara, sejak dahulu adalah penjelajah dunia.

Gagasan Bosch sejalan dengan uraian Read…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.