Bersinergi Membendung Radikalisme di Medsos

  • Whatsapp

Oleh : Savira Alifa

Masyarakat perlu bersinergi untuk membendung radikalisme di Media Sosial. Dengan adanya kerja sama semua pihak, maka penyebaran paham berbahaya tersebut dapat ditekan.

Indoensia termasuk negara yang paling banyak menggunakan media sosial, terutama Facebook dan Instagram. Memiliki medsos seolah-olah jadi satu kewajiban, apalagi saat pandemi berhubungan dengan teman dan kerabat makin praktis via medsos. Sayangnya ada bahaya yang mengintai saat kita aktif menggunakan Medsos, yakni menyebarnya radikalisme.

Budayawan Jose Rizal Manua menyatakan bahwa penyebaran paham radikalisme sangat marak disebarkan melalui medsos dan sasarannya adalah generasi muda. Akibatnya masa depan anak-anak muda bisa rusak. Apalagi literasi digital di masyarakat masih sangat minim, terutama pada upaya memberantas radikalisme dan terorisme.
Jose Rizal menambahkan, semua pihak harus bekerja sama memberantas radikalisme di medsos. Penyebabnya karena bisa mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta merusak masa depan para pemuda. Jika mereka sudah berumah tangga maka bisa goyah, karena bisa jadi pasangannya tidak setuju akan radikalisme yang ia percaya.
Kelompok radikal memang sudah ‘gaul’ dan tahu bahwa kaum muda suka mengakses medsos. Oleh karena itu mereka juga menjaring calon kader baru via medsos, dan biasanya memakai kedok. Kadang ada akun Instagram yang menawarkan tentang cara mencapai kesempurnaan hidup, motivasi, dll. Ternyata ujung-ujungnya malah provokasi dan ajakan untuk melawan pemerintah.
Menurut survei BNPT, 85% kaum muda terpengaruh radikalisme dari medsos. Hasil survei ini tentu sangat mengerikan karena sudah banyak yang terjaring radikalisme, dari medsos yang tiap hari kita akses. Hanya dengan bermodalkan kuota, maka kelompok radikal berhasil menjaring kader baru yang bisa dicuci otak.
Kita wajib melawan radikalisme agar tidak lagi merusak masa depan anak-anak muda. Pertama, caranya adalah dengan memberikan edukasi kepada kaum muda, bahwa radikalisme itu terlarang. Memang jihad sudah ada di zaman nabi, tetapi saat ini tidak bisa berjihad dengan serta-merta menghunuskan pedang, karena bisa menjurus ke arah kriminal.
Justru jihad yang paling baik adalah dengan mencari nafkah yang halal untuk keluarga. Mereka harus diajari bahwa suatu ajaran dalam keyakinan tidak bisa serta-merta ‘dimakan’ begitu saja, tetapi harus dilihat penyebabnya. Mengapa sampai turun ayat dan hadis seperti itu? Tentu disesuaikan dengan keadaan dan zamannya.
Cara kedua adalah dengan memberantas konten ujaran kebencian dan radikalisme, dengan melaporkannya ke pihak Facebook dan Instagram. Ada fitur laporan yang bisa dengan mudah diklik, lalu ketika banyak yang me-report, akun itu bisa dihilangkan selamanya. Penyebabnya karena ia dianggap menyebar hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.
Sedangkan cara ketiga adalah dengan penyuluhan, kepada para pemuka agama di Indonesia. Mereka bisa memberi ceramah singkat setelah ibadah bersama, dan meyakinkan jamaah bahwa radikalisme itu salah besar. Ekstrimisme dalam beragama tidak bisa dibenarkan, karena ia tidak menenggang toleransi sama sekali.
Cara terakhir adalah dengan berhati-hati ketika membuka media sosial. Hanya bagikan berita-berita yang positif, dan jangan sampai malah kita ikut terjebak hoaks dan menyebarkannya. Akibatnya makin banyak yang mempercayainya. Ketika ada berita, maka telusuri, apakah ia berdasarkan fakta, atau ternyata buatan kaun radikal.
Radikalisme di medsos sudah sangat menggurita dan jangan sampai anak-cucu kita terperangkap oleh jebakan kaum radikal. Ketika menggunakan medsos maka wajib dilakukan dengan bijak, karena jangan sampai malah ikut menyebarkan hoaks. Waspadalah karena kaum radikal sudah lihai menggunakan medsos, jadi jangan sembarangan follow akun dan asal mengklik, lalu ternyata ia adalah kaum radikal.

)* Penulis adalah Forum Literasi Kalimantan Selatan

Pos terkait

loading...