Mengapresiasi Keputusan Presiden Turunkan Harga Tes PCR

Mengapresiasi Keputusan Presiden Turunkan Harga Tes PCR

Oleh : Agung Ramadhan

Harga tes PCR di Indonesia diturunkan atas perintah Presiden Jokowi. Masyarakat sangat mengapresiasi keputusan ini karena saat ini tes tersebut semakin mudah diakses oleh masyarakat.

Ketika awal pandemi, hampir semua orang jadi panik karena harus stay at home. Akan tetapi, pada masa adapatasi kebiasaan baru, masyarakat boleh beraktivitas di luar rumah dega syarat mematuhi prtkl kesehata, da mereka lega karea bisa melanjutkan peralanan sampai ke luar kota.

Namun untuk menjaga kemugkinan penularan dalam kendaraan umum, maka caln penumpang harus melakuka tes PCR terlebih dahulu.
Beda denga tes Genose atau tes rapid, tes PCR selama ini harganya jauh lebih mahal. Jika rapid test haya berkisar atara 150.000-200.000 rupiah, maka PCR bisa 900.000 rupiah. Mahalnya harga tes ini yang memberatkan masyarakat, karena untuk bisa naik pesawat terbang harus tes PCR dulu, dan hanya berlaku selama 2×24 jam.
Presiden Jokowi memerintahkan agar harga tes PCR ditekan, dan saat ini rata-rata harga tes hanya 275.000 (harga tertinggi di Jawa Bali), sedangkan di daerah lain maksimal 300.000 rupiah. Abdul Kadir, Pelaksaan Tugas (Plt) Direktur Jederal Pelayanan Kesehatan Kemekes menyatakan bahwa keputusa ini diambil setelah melakukan evaluasi ke seluruh kompenen tes PCR, seperti layanan, harga reagen, dan biaya administrasi overhead.
Masyarakat sangat senang karena presiden mendengarkan suara rakyat. Jika harga tes PCR ditekan maka pengeluaran mereka saat keluar kota naik pesawat terbang juga ditekan. Apalagi rata-rata mereka terbang bersama keluarga, jadi ketika 4 orang yang naik pesawat, maka akan sangat hemat.
Turunnya harga tes PCR ini melegakan, terutama bagi mereka yang melakukan perjalanan low budget. Tidak semua yang naik pesawat itu orang kaya atau dibiayai kantornya utuk beli tiket dan melakukan tes. Oleh karena itu saat harga tes PCR turun, mereka bisa sejenak mudik atau melakukan perjalanan dinas dengan hemat.
Apalagi saat pandemi, kemampuan ekonomi banyak orang jadi berkurang. Sehingga turunnya harga tes PCR amat melegakan, karena mereka tetap bisa naik pesawat tanpa bingung dari mana biaya tesnya.
Abdul Kadir menambahkan, turunnya harga tes PCR bukan berarti menurunkan kualitasnya, karena harga sejumlah alat kesehatan jauh lebih murah daripada saat awal pandemi. Sehingga wajar jika harga tes PCR yang membutuhkan alkes tersebut, juga bisa ditekan. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan juga telah melakukan audit secara transparan.
Hasil pemeriksaan tes PCR bisa keluar sehari setelah tes, dan di Indonesia ada 1.000 laboratrium yang bisa meyelenggarakannya. Ketika ada daerah yang belum memiliki lab untuk tes PCR, maka akan ditangani oleh Kemenkes dan dicarikan solusinya. Kemenkes juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat agar mereka mengetahui pentingya mesin tes PCR.
Tes PCR menjadi syarat lagi untuk terbang dengan pesawat, dan masyarakat diharap mengerti serta tidak megeluh. Pasalnya, saat ini kapasitas pesawat sudah ditingkatkan menjadi 90% penumpang, sehingga untuk mencegah penularan corona tentu butuh tes PCR yang hasilnya lebih valid daripada tes rapid. Semua ini demi keamanan, karena masih masa pandemi.
Pemberlakuan kembali tes PCR sebagai syarat untuk naik pesawat terbang harap dimengerti dan tak jadi kontrversi, karena saat ini hampir semua maskapai memiliki kapasitas penumpang pesawat yang yaris full. Tes ini demi keamaanan bersama, dan harganya juga diturunkan sampai 1/3-ya oleh pemerintah. Masyrakat mengapresiasi turunnya harga tes PCR dan berterima kasih kepada pemeritah.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.