Dukung Pemerintah Tindak Tegas Kelompok Teror

  • Whatsapp

Dukung Pemerintah Tindak Tegas Kelompok Teror

Oleh : Aulia Hawa

Kelompok penebar teror merupakan kelompok yang harus ditindak tegas, mereka telah terbukti mengganggu suasana kedamaian serta menebar kebencian. Masyarakat pun mendukung Pemerintah kepada kelompok teror yang ada I Indonesia.

Baru baru ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri telah berhasil menangkap 5 tersangka teroris Jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang ditangkap dari sejumlah daerah di Jawa Timur.

3 tersangka teroris dengan inisial BA, AS, dan RH, berhasil dibekuk petugas Densus 88 pada pagi hari, selanjutnya sekitar pukul 11.32 WIB, Densus 88 kembali menangkap 2 tersangka teroris dengan inisial AN dan MA. Saat ini para tersangka teroris itu masih diperiksa lebih lanjut oleh Densus 88. Petugas masih melakukan interogasi awal.
Kepala Bagian (Kabag) bantuan Operasi Densus 88 Kombes Aswin Siregar mengatakan ketiga tersangka teroris itu ditangkap pada 2 waktu yang berbeda. Salah satu tersangka teroris yang ditangkap di Jatim adalah AS. Kediaman AS ada di Jalan Granit Kumala 3. RT 1 RW 15, Perumahan Kota Baru Driyorejo, Desa Petiken, Kecamatan Driyorejo, Gresik.
Kepala Desa Petiken, Mardi Utomo membenarkan soal adanya penangkapan terduga teroris di Kota Baru Driyorejo. Mardi bersama Ketua RT dan RW setempat menjadi saksi dalam penggeledahan rumah terduga teroris tersebut.
Sebelumnya, Ketua RT 1, Sarpan mengaku sempat mendengar terkait penangkapan terduga teroris tersebut. Lalu, kemudian Sarpan diminta untuk menjadi saksi dalam penggeledahan rumah AS. AS sendiri dikenal sebagai tukang servis elektronik. Dirinya juga memiliki bisnis jual beli laptop.
Berdasarkan kartu keluarga yang diterima oleh Sarpan, AS merupakan kelahiran Kabupaten Lamongan. Sementara istrinya lahir di Surabaya. Sementara itu, Densus 88 juga menangkap terduga teroris di Bojonegoro. Tersangka berinisial BA, tinggal di Desa Semen Kidul, Sukosewu, Bojonegoro. Sebelumnya BA merupakan seorang penjual telur. Namun usaha dagang telur itu telah ditinggalkan setelah pondik yang dibangunnya mulai banyak santrinya.
Kepala Desa Semen Kidul Lugito dan warga desa juga tidak pernah menyangka kaau selama ini BA memiliki kegiatan lain yang dilarang oleh pemerintah. Padahal warga telah mengetahuinya bahwa setiap sore aktivitas BA hanya ngajar ngaji.
Lugito mengatakan bahwa kehidupan keluarga BA selama ini memang terkenal tertutup, apalagi istri BA yang bercadar. Setiap hari istri BA yang berinisial M hanya keluar rumah saat berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dirinya mengatakan, saat dilakukan penggeledahan, pihak Densus 88 berhasil menyita sejumlah barang termasuk buku tentang jihad.
Perlu kita ketahui bahwa Jamaah Islamiyah (JI) merupakan organisasi yang berbahaya. Sebelumnya Densus 88 juga pernah membongkar pusat latihan perang JI di sebuah vila dua lantai di Desa Gintungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tak tanggung-tanggung setidaknya ada 12 lokasi latihan perang ditemukan di provinsi Jawa Tengah.
Irjen Pol Argo Yuwono selaku Kadiv Humas Polri mengatakan, bahwa pelatihan perang tersebut telah dimulai sejak tahun 2011 oleh seorang bernama Joko Priyono alias Karso dan delapan pelatih lain.
Para anggota atau kader merupakan murid pondok pesantren yang terafiliasi dengan Karso. Rata-rata yang diajak bergabung untuk mengikuti pelatihan selama enam bulan adalah 10 siswa terbaik.
Selama pelatihan para kader diberikan pengetahuah tentang beladiri diri dengan tangan kosong, senjata tajam dan api, menyergap orang, hingga merakit bom. Kesepuluh kader tersebut tidak semuanya lolos. Terdapat mekanisme seleksi pula.
Beberapa kader ternyata sudah pernah berangkat ke Suriah untuk melanjutkan pelatihan bersama Jabhah Nusrhrah. Sementara itu peneliti terorisme Al Chaidar pernah mengatakan bahwa JI adalah organisasi yang rapi, apalagi jika dibandingkan dengan JAD. Atas dasar inilah JI menjadi organisasi yang lebih rumit dan membutuhkan waktu lama untuk menumpasnya. JI juga menggalang dana dengan menyebar kotak amal, hasil galang dana tersebut digunakan untuk membayar pelatih dan ongkos kader untuk berangkat ke Suriah.
Aksi teror tentu tentu saja tidak bisa dibiarkan, pemerintah perlu melakukan langkah antisipatif agar organisasi teroris tidak memiliki sarana untuk mendapatkan kader. Selain itu masyarakat juga perlu mendukung upaya pemerintah dalam memberangus kelompok teroris, agar Indonesia tetap menjadi negeri yang sejahtera dalam keberagaman yang ada.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Pos terkait

loading...