Mewaspadai Potensi Lonjakan Kasus Covid-19

  • Whatsapp

Mewaspadai Potensi Lonjakan Kasus Covid-19

Oleh : Denny Indrayana

Kita patut mewaspadai lonjakan pasien Corona yang dapat memicu serangan gelombang ketiga, yang diprediksi muncul pada akhir tahun ini. Untuk pencegahannya, maka harus meningkatkan vaksinasi dan tetap disiplin dalam menaati protokol kesehatan.

Pandemi sudah kita jalani selama hampir 2 tahun dan mulai muncul tanda-tanda selesai. Pertama, sudah tidak ada lagi wilayah yang berstatus zona merah dan PPKM level 4. Kedua, jumlah pasien Corona makin sedikit, kurang dari 500 orang per harinya di bulan November 2021 (menurut data tim satgas penanganan Covid-19). Selain itu, rate infection hanya 0,4 % dan jumlah pasien yang meninggal dunia juga tidak sampai 3%.

Akan tetapi keadaan aman ini jangan membuat kita lengah karena ada potensi serangan Corona gelombang ketiga. Hal ini sudah diprediksi oleh para epidemiolog, karena biasanya saat kurva pasien menurun, ada kemungkinan untuk naik lagi. Apalagi jika berkaca pada tahun lalu, saat ada serangan Covid gelombang kedua pasca liburan akhir tahun.
Liburan Nataru (natal dan tahun baru) dulu memang menyenangkan tetapi ketika pandemi bisa berubah jadi bencana, karena menuai pasien-pasien Corona baru. Pasalnya, banyak yang nekat berlibur dan tidak mematuhi protokol kesehatan. Padahal kita tahu bahwa saat liburan mobilitas bertambah, dan hal itu juga bisa memicu naiknya kasus Covid di Indonesia.
Kita patut mewaspadai potensi serangan gelombang ketiga, apalagi sebelum libur Nataru sudah ada peningkatan kemacetan di jalan. Penyebabnya adalah pelonggaran PPKM dan tidak ada lagi penyekatan, dan diganti dengan aturan ganjil-genap.
Menko Manives Luhut B Pandjaitan berpesan pada masyarakat agar mewaspadai kenaikan mobilitas, yang berpotensi menaikkan lonjakan kasus Corona. Apalagi ada sejumlah kabupaten atau kota di Jawa dan Bali yang tingkat vaksinasi Covidnya belum mencapai target.
Kenaikan mobilitas warga, menurut Google mobility, meningkat sebanyak 6%. Kenaikan ini terutama di pertokoan, mall, kafe, dan restoran, karena mereka boleh untuk menyediakan tempat dine in walau dengan Prokes yang ketat. Apalagi di daerah yang terkena PPKM level 1 dan 2 sudah boleh masuk mall tanpa harus menunjukkan sertifikat vaksin atau aplikasi Peduli Lindungi.
Jangan sampai kenaikan mobilitas dan liburan Nataru membuat kita akhirnya kena Corona berjamaah, karena nekat traveling tanpa divaksin terlebih dahulu dan tidak mengindahkan Prokes. Vaksinasi adalah suatu kewajiban, apalgi digratiskan oleh pemerintah. Dengan disuntik vaksin Covid-19, selain meningkatkan daya tahan tubuh juga memperkecil penularan Corona pada keluarga tercinta.
Jika memang ingin liburan, karena pariwisata mulai dibuka, harus menaati Prokes. Untuk lebih amannya, gunakan kendaraan pribadi karena bisa menjaga jarak antar penumpang. Jadi tidak boleh tumplek-blek di mobil seperti dulu, tetapi kapasitas maksimal 50%. Pakailah masker walau di dalam mobil dan tiap 1-2 jam sekali memakai hand sanitizer.
Selain itu, taati juga Prokes lain seperti jaga jarak dan menghindari kerumunan. Ketika beristirahat saat lelah di jalan tol, pilih rest area yang sepi atau menyingkir dari kerumunan pengunjung lain. Saat jam makan siang juga lebih aman untuk makan bekal daripada makan di foodcourt rest area, karena jika dine in harus melepas masker, dan berpotensi ada penularan droplet dari OTG.
Kewaspadaan memang harus ditingkatkan jelang libur Nataru dan harus memperketat Prokes, karena kita tidak mau pasca traveling malah tepat kena Corona, bukan? Menaati Prokes amat mudah karena selama hampir 2 tahun ini kita sudah biasa pakai masker dan menaati poin-poin yang lain. Lakukan juga vaksinasi agar daya tahan tubuh makin kuat.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Pos terkait

loading...