Moderasi Beragama Efektif Tangkal Radikalisme

- Editorial Staff

Rabu, 24 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Moderasi Beragama Efektif Tangkal Radikalisme

Oleh : Abdul Razak

Moderasi beragama diyakini masihi efektif untuk menangkal radikalisme. Masyarakat dan tokoh agama pun diminta untuk berperan aktif untuk menyosialisasikan pentingnya moderasi beragama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Moderasi beragama adalah cara pandang beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun kiri. Pemahaman ini amat penting karena memang kita tidak boleh berlebihan dalam melakukan segala sesuatu. Jangan sampai jadi ekstrimis, pun jangan pula jadi terlalu liberalis.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Batang H.M Aqsho M.Ag menyatakan bahwa moderasi beragama adalah cara beragama untuk memeluk agama. Agama sejatinya mengajarkan nilai kebaikan dalam bersikap, bukannya melarang perilaku sosial yang berbeda dengan yang dianutnya dan mengkafir-kafirkan orang lain. Dalam artian, kita dilarang keras untuk menjelekkan orang lain, jika memahami agama secara moderat.
Moderasi beragama memang salah satu cara untuk mencegah radikalisme. Penyebabnya karena ia bisa mengajari masyarakat cara untuk memeluk agama secara moderat, tanpa harus melakukannya secara ekstrim. Sedangkan kaum radikal sangat ekstrim dan hobi sekali menyalahkan pihak lain yang tidak sealiran dengannya.
Oleh karena itu moderasi beragama wajib diajarkan di sekolah-sekolah, agar para murid memahami cara memeluk agama yang baik, dan tidak terseret arus radikalisme. Direktorat PAI Kementrian Agama RI mewujudkan program moderasi beragama di semua elemen, khususnya di kalangan guru NU. Sehingga mereka bisa mengajarkannya pada murid-murid dan akhirnya tidak ada yang mau teracuni oleh radikalisme.
Ketua panitia Kegiatan Peningkatan Kapasitas Moderasi Beragama Guru PAI tingkat SMA dan SMK Kab Pekalongan, Achmad Zuhri, menyatakan bahwa kapasitas peningkatan moderasi beragama di sekolah sangat penting, karena di situlah pengenalan budaya washatiyah dan nilai-nilai pancasila. Dalam artian, guru menjadi ujung tombak dalam mengenalkan moderasi beragama dan pengenalan pancasila pada sang murid.
Jika semua guru memahami moderasi beragama maka tidak ada yang mengajarkan radikalisme, karena ia memahami bahwa tidak boleh memeluk dan mengajarkan agama secara ekstrim. Pemahaman moderasi beragama amat penting karena jika guru sudah teracuni radikalisme, bisa berbahaya. Penyebabnya karena ia bisa mengajak para murid untuk berjihad dan jadi ekstrimis sejak kecil.
Apalagi jika yang diajar adalah murid yang masih SD, bahkan TK. Mereka masih sangat lugu, jadi mau-mau saja diajari radikalisme dan berbagai ajarannya yang menyesatkan. Masih ingatkah ketika ada beberapa murid yang merusak makam umat dengan keyakinan lain? Mereka jadi korban guru yang mengajarkan radikalisme, dan melakukannya karena belum paham mana yang benar dan mana yang salah.
Sebaliknya, jika sang guru memahami moderasi beragama, maka para muridnya akan mengekor karena mereka memahami bahwa radikalisme itu salah, dan yang benar adalah moderasi beragama. Tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain yang tidak sependapat. Indonesia adalah negara berbhinneka tunggal ika dan ada 6 agama yang diakui secara resmi, sehingga tidak boleh ada radikalisme yang terlalu kaku.
Oleh karena itu pengajaran tentang moderasi beragama dilakukan di sekolah-sekolah lain dan didukung penuh oleh Kemenag. Tujuannya agar makin banyak guru yang paham moderasi beragama, dan mereka paham bahwa hal itu bisa mencegah radikalisme.
Moderasi beragama bisa mencegah timbulnya radikalisme, karena ia mengajari banyak orang cara memeluk agama yang baik, dan tidak menjelek-jelekkan pihak lain. Ketika seseorang beragama secara moderat maka ia taat beribadah tanpa harus menghina yang lain, dan tidak mau terseret dalam arus radikalisme.

)* Penulis adalaha kontributor Pertiwi Institute

Berita Terkait

5 Rekomendasi Model Rambut untuk Pria Berrahang Tegas, Nomor 1 Potongan Cepak
Tugas Utama AHY Setelah Dilantik Jokowi
Momen HPN 2024, PWI Tuban Sambangi Dewan Pers
Marissya Icha Lakukan Protes Karena Dapat Suara Sedikit
Pencabutan Subsidi BBM untuk Makan Siang, Ini Respon Gibran
Anggota KPPS Meninggal, KPU Beri Santunan 36 Juta dan Biaya Pemakaman
Suara Prabowo-Gibran di Quick Count Akan Sama dengan Real Count
Selesai Bertugas, Anggota KPPS Palangkaraya Meninggal Dunia

Berita Terkait

Senin, 26 Februari 2024 - 08:53 WIB

5 Rekomendasi Model Rambut untuk Pria Berrahang Tegas, Nomor 1 Potongan Cepak

Kamis, 22 Februari 2024 - 12:07 WIB

Tugas Utama AHY Setelah Dilantik Jokowi

Kamis, 22 Februari 2024 - 09:28 WIB

Momen HPN 2024, PWI Tuban Sambangi Dewan Pers

Sabtu, 17 Februari 2024 - 22:47 WIB

Marissya Icha Lakukan Protes Karena Dapat Suara Sedikit

Sabtu, 17 Februari 2024 - 22:43 WIB

Pencabutan Subsidi BBM untuk Makan Siang, Ini Respon Gibran

Sabtu, 17 Februari 2024 - 22:38 WIB

Anggota KPPS Meninggal, KPU Beri Santunan 36 Juta dan Biaya Pemakaman

Sabtu, 17 Februari 2024 - 18:05 WIB

Suara Prabowo-Gibran di Quick Count Akan Sama dengan Real Count

Sabtu, 17 Februari 2024 - 18:00 WIB

Selesai Bertugas, Anggota KPPS Palangkaraya Meninggal Dunia

Berita Terbaru

Politik

Syarif Hasan: Hak Angket Pemilu itu Kontraproduktif

Senin, 26 Feb 2024 - 10:10 WIB

Politik

38,1 Persen Pemilih AMIN Setuju Pemilu Banyak Kecurangan!

Senin, 26 Feb 2024 - 10:06 WIB

Politik

TKN Fanta Ingin Kabinet Prabowo Banyak Anak Muda

Senin, 26 Feb 2024 - 10:04 WIB