Simak Gaes! Tour de Joksyn 9 Kota, 64 Pelayang Berlaga Tehnik Ulur di Jakarta

JAKARTA – Sebanyak 64 pemain layang-layang dari berbagai wilayah di Jabodetabek berlaga adu ketangkasan dalam Turnamen Layangan Aduah Khusus Ulur yang digelar Joksyn di Lapangan Safa Marwa, Jakarta Timur, Minggu 5 Desember 2021.

Gelaran yang didukung Laskar Ngawi dan Paranormal Mbah Mijan ini merupakan kali kedua dalam rangkaian Tour de Joksyn 9 Kota. “Pertama sudah diadakan di Madiun pada 27 Nopember lalu, dan hari ini di Jakarta,” terang Ketua Panitia Tour de Joksyn Jakarta, Prima MM, Senin (6/12/2021).

Selanjutnya Tour de Joksyn akan menyusul di tujuh kota lainnya, yakni Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Tegal, Bandung dan Tuban. “Nantikan saja kedatangan Joksyn di kota-kota kalian,” sambungnya.

Prima menambahkan, turnamen dengan tehnik ulur klasik ini gampang-gampang susah, berbeda dengan tehnik tarik, jepret dan sejenisnya yang belakangan menjadi tren di belantara tanah air.

“Bermain layangan aduan teknik ulur sebenarnya cukup santai dan menghibur. Kendati demikian tetap dibutuhkan kecermatan, kejelian dan kesabaran. Jadi memang gampang-gampang susah. Ini jadi tantangan tersendiri bagi pelayang,” urainya.

Lebih dari itu, lanjut Prima, kejujuran dan fair play dalam bertanding menempati posisi yang cukup penting. “Boleh jadi, inilah hal mendasar yang harus dimiliki para player layangan,” pungkas dia.

Sementara itu Denmas Syahnoer, Owner Gelasan Joksyn mengatakan pihaknya senantiasa berupaya menyuguhkan sesuatu yang berbeda.

“Jadi Joksyn tidak pernah kenal lelah untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Dulu kita mengawali sistem undian bagan yang dikocok di lokasi, kemudian memberdayakan semua peserta dapat makan gratis dari panitia,” terangnya.

“Hari ini Joksyn kembali menyuguhkan lagi sesuatu yang berbeda, turnamen layangan aduan khusus ulur yang kita kemas dalam Tour de Joksyn 9 kota,” sambungnya.

Selain memperebutkan Thropy, Tour de Joksyn di Madiun juga ada hadiah uang tunai, piagam dan merchandise dari Joksyn.

Sebagaimana diketahui, teknik ulur adalah teknik tradisional yang sudah diterapkan sejak jaman dulu sebelum diterapkan sistem tarik atau jepret dalam layangan aduan.

“Dengan menerapkan teknik ulur ini bisa bernostalgia, mengembalikan teknik tradisional dalam layangan aduan yang sudah jarang digunakan dalam turnamen,” jelas pria asal Kota Ngawi Jawa Timur ini.

Syahnoer menambahkan, selain teknik atau kemampuan, benang juga harus dipersiapkan. “Tak seperti teknik tarik, dalam ulur ini memerlukan benang yang panjang dan kejelian mata saat mengamati layangan yang terkadang lebih tinggi,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.