Tetap Taat Prokes Menjelang Nataru

Tetap Taat Prokes Menjelang Nataru

Oleh : Celia Ramadhani

Masyarakat diharapkan terus menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) secara ketat. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan potensi lonjakan Covid-19 jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), utamanya pasca ditemukanya varian Omicron di Indonesia.

Apa kabar pandemi di Indonesia? Sayang sekali banyak yang mengira pandemi sudah berakhir karena mulai ada yang nongkrong di kafe sambil bergerombol, dan tentu saja melepas masker. Padahal kenyataannya belum ada rilis resmi dari pemerintah bahwa status pandemi sudah berakhir, tetapi sayang ada pelanggaran di mana-mana.

Satgas penanganan Covid-19 mengingatkan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan karena masih pandemi. Namun faktanya, kedisiplinan untuk mematuhi protokol kesehatan 10M menurun sejak november 2021 lalu. Hal ini amat menyedihkan karena takut akan memicu klaster corona baru jika banyak yang mengabaikan protokol kesehatan.

Sonny Harry B, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid menyatakan bahwa harus segera direspon oleh satgas daerah agar kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan tidak turun terus dan bahkan meningkat kembali. Dalam artian, pegawasan perlu dilakukan lebih ketat agar tidak ada lagi pelanggaran protokol kesehatan.

Sonny melanjutkan, skor kedisiplinan masyarakat pada November 2021 turun ke angka 7,86 untuk memakai masker, 7,85 untuk jaga jarak, dan 7,91 untuk cuci tangan. Turunnya skor tentu berbahaya karena menujukkan ketidak disiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan yang bisa memicu corona.

Jelang libur Natal dan tahun baru, kebanyakan orang pakai masker tetapi sayang posisinya kurang pas karena melorot dan tak menutupi hidung dan mulut, padahal fungsi masker adalah melindungi 2 organ tersebut. Ada lagi yang memakai masker hanya dalam perjalanan tetapi sampai kantor malah dilepas. Padahal bisa jadi ada klaster perkantoran karena sudah 100% work from office sehingga susah untuk menjaga jarak.
Tetaplah pakai masker dan jangan dilepas saat di luar rumah. Bahkan kita disarankan untuk memakai masker ganda oleh WHO, yakni masker sekali pakai yang dilapisi oleh masker kain. Cara ini akan meningkatkan filtrasi udara sehingga bisa meminimalisir penularan corona. Pemakaian masker juga maksimal 4 jam saja sehingga wajib membawa masker cadangan.
Protokol kesehatan jaga jarak juga sering dilanggar oleh masyarakat karena sudah banyak yang mengadakan pesta pernikahan dengan mengundang ratusan, bahkan ribuan tamu. Di akhir tahun ada libur Nataru sehingga dimanfaatkan untuk berpesta. Padahal kita tidak tahu siapa di antara tamu yang berstatus OTG sehingga lebih baik skip undangan saja.
Kalaupun masih ingin mengadakan syukuran pernikahan di masa pandemi, maka tamu maksimal hanya 50% dari kapasitas gedung. Makanan tidak dikonsumsi di ruangan tetapi dibawakan ke tamu dalam sebuah kotak, sebagai oleh-oleh. Penyebabnya karena saat makan otomatis akan melepas masker, sehingga lebih baik para tamu makan di rumahnya sendiri.
Saat libur Nataru memang tidak ada ada PPKM level 3 tetapi diganti dengan pengetatan. Hal ini disadari oleh owner rumah makan atau kafe, maka ia harus menaati protokol kesehatan dan batas maksimal tamu adalah 75%. Jangan menerima semua customer dengan alasan uang, karena akan memicu kerumunan. Jika ketahuan oleh tim satgas Covid maka ia bisa didenda dan rumah makannya disegel.
Masyrakat juga wajib mencuci tangan dengan sabun antiseptik atau bisa juga diganti dengan memakai hand sanitizer. Jika perlu bawa sebotol cairan antiseptik, jadi saat sampai di suatu tempat, kursi dan mejanya langsung disemprot.
Taatilah protokol kesehatan dan jangan lengah sedikitpun. Apalagi di akhir tahun dan ada libur Nataru, sehingga diprediksi ada kerumunan di tempat umum. Hindari kerumunan dan tetaplah menaati protokol kesehatan yang lain, seperti pakai masker dan mencuci tangan. Walau ada libur Nataru tetapi harus tetap disiplin.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.