Waspada Penyebaran Radikalisme di Media Sosial

Waspada Penyebaran Radikalisme di Media Sosial

Oleh : Agus Rahmat

Media sosial saat ini diyakini sebagai ladang subur penyebaran radikalisme, intoleransi, dan terorisme. Masyarakat pun diminta mewaspadai penyebaran paham terlarang tersebut dan selalu bijak dalam menerima informasi.

Keganasan radikalisme makin terlihat kala mereka merambah media sosial sebagai tempat baru untuk menebar racun. Mereka paham bahwa banyak orang Indonesia yang suka curhat di Medsos, terutama anak-anak muda.

Oleh karena itu media sosial dijadikan tempat yang tepat untuk menyebarkan paham radikal dan teroris sekaligus menjaring banyak kader baru untuk regenerasi.

Kombes Aswin Siregar, Kepala Bagian Operasi Densus 88 antiteror Polri menyatakan bahwa kemajuan teknologi dan kondisi pandemi dalam 2 tahun terakhir memaksa banyak orang untuk masuk ke dunia virtual yang borderless, dan hal ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal dan teroris.

Dalam artian, mereka berbahaya karena sudah mengikuti tren terkini untuk menyebarkan radikalisme.

Kombes Aswin Siregar menambahkan, saat ini kelompok radikal memiliki ahli IT (informasi teknologi) dan mereka memanfaatkan multimedia serta sosial media dalam menjalankan aksinya. Dalam artian, keberadaan ahli IT yang menjadi kader kelompok radikal adalah sesuatu yang miris karena kepintaran mereka malah dijadikan cara untuk menyebarkan radikalisme, bagaikan memanfaatkan pisau di tempat yang salah.
Seluruh WNI wajib mewaspadai merebaknya radikalisme di sosial media karena jangan sampai banyak yang terjebak oleh bujuk-rayu kelompok radikal. Pasalnya, ada orang yang terlalu polos dan mau-mau saja diajak berkenalan di Facebook, ternyata diam-diam mereka dihipnotis untuk mau masuk ke kelompok radikal. Jika ini yang terjadi maka sungguh mengerikan.
Anggota kelompok radikal memanfaatkan sosial media karena rakyat Indonesia masuk ke dalam 5 besar pengakses Medsos terbesar di dunia, berarti makin sering mereka menebarkan radikalisme, makin banyak pula yang terjebak karenanya. Hal ini patut diwaspadai karena saat seseorang membuka media sosial dalam keadaan rileks sehingga apapun yang dibaca akan masuk ke otak, padahal berbahaya seperti radikalisme.
Jangan sampai anggota kelompok radikal bertambah karena banyak yang terkena di media sosial, terutama kaum muda, karena mereka yang hampir tiap jam membuka Instagram dan Facebook. Anak-anak muda perlu belajar cara menggunakan internet dan Medsos secara sehat dan tidak sembarangan dalam menerima friend request di Facebook. Mereka juga tak boleh terlalu sering chatting karena bisa jadi yang diajak mengobrol adalah kelompok teroris.
Selain itu, cara selanjutnya untuk mencegah tersebarnya radikalisme di media sosial adalah dengan menggunakan critical thinking. Jika ada yang membujuk agar masuk ke dalam kelompok radikalisme dan kenalnya di Facebook atau Instagram, maka pikirkan lagi. Benarkah jihad itu keren? Apakah benar di Indonesia cocok jadi negara khalifah? Para pemuda harus banyak membaca dan berpikir kritis agar tak dibohongi kelompok radikal.
Jika kita sudah sadar bahwa di media sosial bisa jadi ajang penyebaran radikalisme maka saatnya pemberantasan paham ini. Pertama, laporkan akun yang sering menyebar hoaks dan propaganda tentang radikalisme dengan klik report this account dan erahkan banyak orang agar akun itu bisa dibekukan oleh pengelola Medsos. Kedua, laporkan saja kepada polisis siber jika ada akun radikal dan teroris.
Kita wajib waspada akan penyebaran radikalisme dan terorisme di media sosial karena dunia maya adalah tempat yang cocok untuk memviralkan sesuatu, termasuk berita dari kelompok radikal. Jangan sampai radikalisme merebak gara-gara kader radikal memanfaatkan Medsos. Jika ada yang mencurigakan maka jangan ragu untuk menghubungi polisi siber.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Khatulistiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.