Diduga Korban Mafia Tanah, Seorang Ibu Dijemput Eksekusi Maut

Prosesi pengabenan almarhum Ni Nyoman Rimpen. (Ist)

Badung – Seorang ibu bernama Ni Nyoman Rimpen sebagai ahli waris yang berharap puluhan tahun untuk uang penjualan tanahnya seluas 5,6 hektar di Ungasan, Kuta Selatan Badung yang dijanjikan pembeli sampai akhir hayatnya tak kunjung didapat.

Malah tanahnya sendiri yang belum lunas dibayarkan pembeli dieksekusi pengadilan. Malangnya lagi, mengetahui ada eksekusi dari Pengadilan Negeri (PN) Denpasar membuat ia syok lalu jatuh sakit dan dijemput maut.

“Beliau syok mendengar ada eksekusi dari pengadilan. Kondisinya lalu drop dan sakit. Tubuhnya terus melemah sampai akhirnya beliau meninggal. Hari ini beliau diupacarai ‘Ngaben’. Tanahnya almarhum lagi dua hari kembali dieksekusi pengadilan setelah kemarin tertunda,” ungkap I Made Suka anak dari almarhum kepada wartawan melalui sambungan telepon di Denpasar, Senin (21/02/2022)

Made Suka menjelaskan, semasa hidup almarhum jika ada tamu datang pasti menanyakan apakah itu utusan dari pembeli. Diungkapkan Made Suka, bahwa ibunya ini sudah puluhan tahun menunggu kejelasan pembayaran tanahnya.

“Tiang (saya) sering ditanya pembayaran tanah. Cen pis wadah tas (mana uang dalam tas). Jika ingat itu kita jadi sedih dan merasa bersalah. Apalagi setelah ngaben ini ada eksekusi lagi dari pengadilan. Tiang tidak tahu hukum berkeadilan dan kemanusiaan itu seperti apa. Tapi tiang yakin hukum karma pasti ada,” tandasnya.

Untuk diketahui sebelumnya, Siswo Sumarto, S.H yang akrab disapa Bowo sebagai kuasa hukum ahli waris menyampaikan rasa dukanya yang mendalam. Mengetuk hati para pencari keadilan di negeri ini untuk melihat fakta terjadi. Pihaknya mengaku sangat prihatin dan terenyuh atas dampak eksekusi yang dilakukan oleh PN Denpasar pada tanggal 9 Februari 2022 lalu.

“Itu Ibu Rimpen selaku ahli waris pemegang hak kemarin syok dan sangat stress hingga akhirnya kemarin pada tanggal 12 Februari 2022 beliau menghembuskan nafas terakhir. Semasa hidupnya hingga meninggal ini, beliau stress selama hampir 21 tahun memikirkan tidak ada kepastian hukum atas haknya,” beber Bowo

Ia sangat menyayangkan, pihak PN Denpasar tidak mengindahkan norma-norma kemanusiaan dimana ahli waris kembali mendapatkan surat pemberitahuan eksekusi yang kedua pada tanggal 23 Februari 2022. “Bagaimana kita dapat menerima hal ini, di tengah ahli waris semua dalam kondisi berduka,” pungkas Bowo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.