Ormas Keagamaan Ujung Tombak Menangkal Radikalisme

Ormas Keagamaan Ujung Tombak Menangkal Radikalisme

Oleh : Muhammad Yasin

Radikalisme wajib dicegah agar tidak makin menggila penyebarannya. Ormas keagamaan bisa menjadi ujung tombak untuk menangkal ajaran berbahaya ini, karena mereka memiliki pengaruh yang besar di masyarakat.

Serangan dan pengeboman yang terjadi di Indonesia adalah akibat dari kelompok radikal dan teroris. Oleh karena itu radialisme terus diberantas oleh pemerintah, karena mereka melakukan kesalahan fatal, dengan melakukan tindak kekerasan, kriminal, dan intoleran.

Radikalisme jika dibiarkan saja akan jadi berbahaya karena bisa memecah perdamaian di negeri ini.

Pemberantasan radikalisme menjadi fokus pemerintah. BNPT (Badan Nasional Pemberantasan Terorisme) sebagai lembaga resmi yang diberi tugas tersebut, terus berusaha agar radikalisme dihapuskan dari Indonesia.

Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid Direktur Pencegahan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme menyatakan bahwa terorisme adalah gerakan politik kekuasaan dengan memanipulasi dan mempolitisi agama yang bertujuan mengganti ideologi negara dengan ideologi transnasional.

Wataknya adalah intoleran terhadap perbedaan dan keberagaman, serta eksklusif terhadap perubahan.
Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid menambahkan, untuk memberantas radikalisme maka diperlukan peran Ormas keagamaan. Mereka bisa jadi ujung tombak pencegahan radikal terorisme dengan cara menggaungkan nasionalisme melalui pendekatan agama.
Dalam artian, sebuah Ormas keagamaan tak hanya berceramah tentang kewajiban manusia untuk salat, zakat, haji, sedekah, dll. Akan tetapi para ustad dan kiai yang tergabung dalam Ormas tersebut bisa memberi tema nasionalisme. Sehingga audience akan mendengar bahwa mencintai negeri adalah salah satu ciri umat beragama, dan rasa nasionalisme mereka akan lebih kuat.
Para ustad bisa berceramah tentang perjuangan kiai dan pemuka agama lain dalam perang kemerdekaan Indonesia, misalnya KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, dll. Mereka memberi contoh bahwa membela negara juga berpahala. Sedangkan saat ini cara untuk membela Indonesia ketika perang sudah usai adalah dengan mempertahankan rasa nasionalisme dan tidak mau ketika diajak berjihad.
Contoh lain adalah ceramah tentang cerita Nabi Muhammad, bahwa beliau telah mencontohkan rasa cinta tanah air sejak ratusan tahun lalu. Jika Nabi sudah bersabda, mengapa kelompok radikal dan teroris malah mengajak masyarakat untuk membenci negaranya sendiri?
Justru mereka yang salah karena ngotot ingin membentuk negara khilafah padahal Indonesia sudah jelas berideologi pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara, dan tidak dapat diganggu gugat. Para ustad bisa menjelaskan bahwa khilafah tidak cocok di Indonesia karena kurang sesuai dengan situasi masyarakatnya yang pluralis dan ber-bhinneka tunggal ika. Sedangkan khilafah cocoknya di luar negeri, di negara-negara monarki.
Peranan para ustad dan kiai amat penting karena mereka memiliki pengaruh besar, tak hanya di Ormasnya sendiri, tetapi juga di kalangan masyarakat. Jika warga yang menyimak ceramah mereka memahaminya maka akan tidak mau ketika dirayu oleh kelompok radikal dan teroris. Mereka sadar bahwa ajakan itu salah besar, karena radikalisme dan terorisme adalah sebuah kejahatan besar.
Oleh karena itu Ormas keagamaan diharap untuk selalu mengingatkan anggotanya dalam berdakwah. Bisa sekali ditambahkan materi tentang nasionalisme dan cinta negeri. Penyebabnya karena setia pada negara sudah dicontohkan oleh nabi.
Ormas keagamaan bisa menjadi ujung tombak dalam memerangi radikalisme dan para ustad serta kiai yang menjadi anggotanya menjelaskan ke masyarakat tentang bahaya intoleran, radikalisme, dan terorisme. Mereka terus menggaungkan nasionalisme karena bisa menumpas radikalisme di Indonesia. Jangan malah mendukung kelompok radikal dan menggaungkan jihad dan perlawanan, karena sama saja menjadi penghianat negara.
)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Pos terkait

loading...