Ormas Keagamaan Ujung Tombak Sebarkan Moderasi Beragama

Ormas Keagamaan Ujung Tombak Sebarkan Moderasi Beragama

Oleh : Muhammad Zaki

Moderasi beragama adalah cara pandang dalam beragama secara moderat yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem.

Ormas keagamaan wajib jadi ujung tombak untuk menyebarkan moderasi beragama, karena mereka memiliki pengaruh besar di masyarakat.

Beberapa tahun ini muncul kelompok radikal dan teroris yang mengacak-acak perdamaian di Indonesia.

Jika ditilik dari sejarahnya, maka radikalisme dan terorisme muncul dari sikap ekstrim dalam menjalankan keyakinan. Saking ekstrimnya, mereka sampai membenci umat dengan keyakinan lain dan berjihad dengan cara-cara kasar.

Padahal nabi sendiri tidak pernah mengajarkan yang seperti ini, sehingga kaum radikal memang salah besar.

Untuk mengatasi radikalisme dan terorisme maka dibutuhkan moderasi beragama, yakni cara beragama dengan moderat alias di tengah-tengah.

Dalam artian, dalam menjalankan aturan agama, beribadah, dan ritual lain, maka dijalankan dengan moderat, tidak ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Penyebabnya yang ekstrim dan berlebihan itu tidak baik.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menyatakan bahwa seharusnya seluruh ormas keagamaan di Indonesia menjadi ujung tombak dalam menyebarkan moderasi beragama. Penyebabnya karena ormas keagamaan memiliki banyak cabang di provinsi-provinsi di Indonesia, sehingga bisa dengan mudah menyebarkannya.

Mereka juga memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat sehingga ketika mengajarkan tentang moderasi beragama, maka akan diikuti.
Ormas-ormas keagamaan wajib menyebarkan moderasi beragama karena cara ini yang paling efektif dalam menjalankan ibadah dan ritual agama lain. Jika seseorang terlalu ekstrim kiri maka ia bisa menjadi sosialis, sedangkan jika ekstrim kanan maka bisa menjadi ekstrimis. Semuanya salah dan seharusnya dalam menjalankan agama, berada di tengah-tengah.
Jika ormas keagamaan rajin dalam menyebarkan moderasi beragama maka dijamin Indonesia akan lebih damai, karena semua WNI memahami cara beragama dengan moderat. Dengan begitu, tak ada lagi permusuhan walau akidahnya berbeda. Semua orang sadar bahwa Indonesia adalah negeri yang pluralis dan mengakui enam keyakinan, dan bukannya negeri monarki yang khilafah.
Ketika semua orang memahami moderasi beragama maka akan bertoleransi karena menyadari bahwa perbedaan itu indah. Sebagai contoh, ketika ada hari raya umat lain maka tidak akan ada sweeping. Malah saling menghormati dan menyadari bahwa mereka sedang bahagia saat merayakan hari istimewa tersebut.
Ormas keagamaan bisa menyebarkan moderasi beragama dengan cara-cara berikut ini: pertama, dengan ceramah langsung karena masyarakat masih suka untuk mendengarkan dakwah lewat ceramah. Ustad dan kiai yang tergabung dalam ormas tersebut bisa menceritakan kisah ketika ada salah satu paman nabi yang punya keyakinan lain, tetapi sangat melindungi dakwah nabi. Itulah contoh toleransi yang bisa ditiru.
Kedua, cara untuk menyebarkan moderasi beragama bisa lewat dunia maya karena netizen Indonesia masuk ke dalam lima besar dunia. Banyak WNI yang asyik nongkrong di media sosial seperti twitter dan instagram, dan mereka akan senang karena mendapat asupan berita mengenai moderasi beragama yang penuh kasih.
Penyebaran moderasi beragama lewat media sosial lebih praktis dan jangkauannya lebih luas karena bisa mencakup seluruh dunia. Selain itu, kita perlu untuk lebih banyak menyebarkan berita positif daripada negatif, agar netizen di seluruh dunia juga tahu bahwa rakyat Indonesia beragama dengan moderat.
Ormas-ormas keagamaan yang ada di Indonesia diminta untuk menyebarkan moderasi beragama dan mereka jadi ujung tombak karena memiliki pengaruh besar di masyarakat. Dengan menyebarkan moderasi beragama maka rakyat Indonesia bisa hidup damai dan penuh toleransi, serta menolak penyebaran radikalisme, terorisme, dan ekstrimisme.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.