KTT G20 Mendorong Kerja Sama Riset dan Teknologi

KTT G20 Mendorong Kerja Sama Riset dan Teknologi

Oleh : Salsabila Sufyan

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 merupakan event internasional yang patut untuk mendapat dukungan dari semua pihak.

Kerja sama multilateral tersebut tidak hanya mampu mendorong pemulihan perekonomian namun juga pengembangan riset dan teknologi untuk kemajuan umat manusia.

Di masa depan, riset adalah hal yang penting dilakukan. Khususnya riset pada bidang teknologi dan medis.

Di mana kedua hal tersebut merupakan bagian dari upaya memajukan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 harus menjadi motor penggerak kerjasama riset dan teknologi.

Dalam kesempatan KTT G20 tersebut Indonesia secara proaktif mendorong pembentukan kemitraan riset keanekaragaman hayati guna menghadapi tantangan global dalam upaya pengelolaan, pemulihan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan, Keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya, termasuk riset kesehatan dan medis merupakan kunci masa depan bangsa Indonesia.

Handoko mengemukakan bahwa pembentukan kemitraan global penting karena sampai saat ini belum ada mekanisme yang mapan dan kesepakatan bersama mengenai riset keanekaragaman hayati global.

Dukungan terhadap pemanfaatan keanekaragaman hayati yang lebih masif amatlah diperlukan, salah satunya melalui kolaborasi berbasis kesetaraan untuk kemakmuran umat manusia.

Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu negara dengan megabiodiversitas menilai bahwa G20 perlu membuat skema kemitraan riset global mengenai keanekaragaman hayati untuk mendorong kolaborasi pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Pada awal Pertemuan Inisiatif Riset dan Inovasi G20 yang diselenggarakan BRIN, Handoko menyampaikan bahwa Indonesia saat ini telah lebih siap untuk berkontribusi mewujudkan kemitraan riset keanekaragaman hayati global. Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa budaya riset dan pengembangan juga masih kurang sehingga transfer inovasi, teknologi dan pengetahuan masih terbilang minim.
Kondisi pandemi Covid-19 yang saat ini masih dihadapi oleh negara anggota G20 dan di waktu bersamaan juga dituntut mengambil tindakan nyata terhadap perubahan iklim. Terkait dengan dua hal tersebut, Handoko menegaskan, tidak perlu dipertanyakan lagi betapa pentingnya riset dan inovasi.
Di masa pandemi sejak tahun 2020, Handoko mencermati, dunia banyak belajar bagaimana riset dan inovasi berperan sangat signifikan dalam memerangi Covid-19. Di sisi lain ia juga menyoroti perubahan drastis komunitas sains, khususnya di bidang medis, untuk berjuang bahu membahu melawan pandemi.
Ada juga begitu banyak pekerjaan sukarela dan sukarelawan lintas batas, termasuk munculnya kesadaran untuk membuka data untuk kepentingan rakyat. Misalnya, platform GIS-AID untuk berbagi data genomik Covid-19 ke seluruh dunia.
Sebagai salah satu negara Mega biodiversitas, Indonesia percaya bahwa skema Global Biodiversity Research Partnership (GBRP) harus dibentuk demi mengambil tindakan yang lebih konkrit guna mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati global dan kolaborasi global di dalamnya.
Dalam kesempatan tersebut, Handoko juga melihat beberapa negara anggota G20 tampak sudah akrab dengan skema Group of Senior Officials on Global Research Infrastructures (GSO-GRI) yang berfokus infrastruktur riset untuk mendukung big science.
Dirinya menegaskan, kemungkinan pihaknya dapat mengadopsi beberapa praktik terbaiknya untuk mewujudkan Kemitraan Riset Keanekaragaman Hayati Global Sesegera mungkin. Kemitraan itu nantinya diharapkan akan mempercepat riset dan inovasi berbasis keanekaragaman hayati yang lebih maju dan global di masa depan tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, para Ketua Delegasi Ring G20 dari berbagai negara juga mendukung dan mengapresiasi terhadap kedua usulan tersebut. Delegasi Italia dan Jepang juga mendorong adanya kerja sama pada kedua bidang tersebut dan harus dituangkan ke dalam program yang lebih spesifik berupa konsep atau platform konkrit yang bersifat global.
Delegasi dari Kanada tampak antusias dengan memberikan dukungan terhadap usulan BRIN. Konsep green and blue economy yang telah diimplementasikan oleh Kanada bergantung pada penggunaan sumber daya berkelanjutan yang menyediakan fungsi yang lebih baik untuk regulasi perubahan iklim, aspek sosial dan lingkungan.
Sementara itu, delegasi dari Inggris tertarik untuk mempertimbangkan hubungan antara sektor keanekaragaman hayati dengan bidang lain seperti pertanian dan pangan, kehutanan, penggunaan lahan dan sebagainya. Begitupun keterkaitan antara marine and ocean research dengan berbagai sektor tersebut.
KTT G2O tentu saja bisa menjadi panggung koordinasi antar negara untuk menjalin kerja sama di bidang riset dan teknologi, segenap dukungan dan masukan dari negara anggota G20 tentu saja akan sangat bermanfaat bagi kemajuan Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.