Moderasi Beragama Sebagai Pemersatu Bangsa

Moderasi Beragama Sebagai Pemersatu Bangsa

Oleh : Abdul Karim

Indonesia merupakan negara yang majemuk dan heterogen, beragam suku, bahasa dan agama. Oleh sebab itu diperlukan penguatan moderasi beragama sebagai strategi pemersatu bangsa.

Salah satu upaya menjaga persatuan di Indonesia adalah dengan Moderasi Beragama. Dalam bahasa latin “moderation” memiliki arti ke-sedang-an.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata moderasi memiliki arti penghindaran kekerasan atau penghindaran keekstreman. Kata ini diserap dari kata “moderat” yang berarti sikap selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem dan kecenderungan ke arah jalan tengah.

Sedangkan kata “moderator” berarti orang yang bertindak sebagai penengah (hakim, wasit dan sebagainya), pemimpin sidang baik itu rapat atau diskusi yang menjad pengarah pada acara pembicaraan atau pendiskusian masalah.

Berdasarkan rujukan tersebut, maka moderasi beragama tersebut menunjuk kepada sikap dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip untuk selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem (radikalisme) dan selalu mencari jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa Indonesia.

Sikap moderat dan moderasi bisa diartikan merupakan suatu sikap dewasa yang baik dan sangat diperlukan. Radikalisasi dan radikalisme, kekerasan dan kejahatan, termasuk ujaran kebencian/caci maki dan hoaks, terutama atas nama agama adalah sikap kekanak-kanakan, jahat, memecah belah, merusak kehidupan patologis, tidak baik dan tidak perlu.
Moderasi beragama sendiri merupakan upaya kreatif untuk mengembangkan suatu sikap keberagaman di tengah pelbagai desakan ketegangan (constrains) seperti antara klaim kebenaran absolut dan subjektivitas, antara interpretasi literal dan penolakan yang arogan atas ajaran agama, juga antara radikalisme dan sekularisme.
Komitmen utama moderasi beragama terhadap toleransi menjadikannya sebagai cara terbaik untuk menghadapi radikalisme agama yang mengancam kehidupan beragama itu sendiri dan pada gilirannya, mengimbasi kehidupan persatuan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kita juga tidak bisa menyangkal bahwa agama telah menjadi roh utama bangsa Indonesia, sehingga para tokoh agama memiliki peran penting untuk menjaga kemajemukan sebagai kekayaan dan modal sosial Indonesia.
Bagi Indonesia, keragaman telah diyakini sebagai kehendak yang Maha Kuasa. Rakyat Indonesia tidak pernah meminta keragaman, sehingga bisa diartikan Tuhan-lah yang mencipkatan Keragaman dan hal ini tentu saja tidak bisa ditawar.
Dengan kenyataan beragamnya masyarakat Indonesia tersebut, bisa kita bayangkan betapa beragamnya pandangan, keyakinan dan kepentingan masing-masing warga bangsa termasuk dalam beragama. Beruntungnya kita memiliki satu bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang berlaku dari Sabang sampai Merauke. Namun, gesekan akibat keliru mengelola keragaman tersebut juga terkadang masih kerap terjadi.
Dari sudut pandang agama, keragaman sendiri merupakan anugerah, apabila Tuhan menghendaki, tentu saja tidak sulit bagi hamba-Nya menjadi seragam dan satu etnis saja. Namun Tuhan telah menghendaki agar umat manusia diciptakan beragam suku, bahasa dan berbangsa agar saling mengenal satu sama lain. Dengan demikian, keragaman adalah sesuatu yang indah yang perlu kita syukuri.
Lalu timbul pertanyaan, mengapa bangsa Indonesia membutuhkan moderasi dalam beragama? Pertanyaa tersebut tentu saja bisa dijawab karena keragaman dalam beragama adalah suatu keniscayaan. Tidak mungkin dihilangkan. Ide dasar moderasi adalah untuk mencari persamaan dan bukan mempertajam perbedaan.
Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kebaikan moral yang relevan dangan komunitas dan lembaga. Apalagi sebagai negara yang plural dan multikultural, konflik berlatar agama bisa menjadi sangat potensial terjadi di Indonesia.
Sehingga moderasi beragama bisa dijadikan solusi agar dapat menjadi kunci utama demi menciptakan kehidupan yang damai dan harmoni dalam keberagaman, serta menekankan keseimbangan baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.