Bau Tak Sedap Dugaan Korupsi Berhembus di Tubuh KONI Bali

Ilustrasi. (net)

Denpasar – Bau tak sedap terjadi dalam internal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Bali semakin berhembus kencang. Kabar pun santer beredar, tidak saja disinyalir terjadi nepotisme namun disebut-sebut juga sudah ada pelaporan ke aparat penegak hukum (APH) akan adanya dugaan korupsi.

Terbukti, Kasi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, A Luga Harlianto ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan telah menerima laporan pengaduan masyarakat, akan adanya dugaan korupsi di tubuh KONI Bali.

“Iya benar. Terima kasih saya sampaikan bagi masyarakat yang telah menyampaikan laporan tersebut ke Kejati Bali. Sebagaimana SOP di Kejaksaan, tentunya hal ini akan ditelaah terlebih dahulu pelaporan tersebut. Dan kami juga akan melakukan penelusuran untuk mendapatkan info awal apakah merupakan kewenangan Kejaksaan dan kebenaran adanya  pelaporan tersebut,” ungkap Luga Harlianto kepada wartawan, Sabtu (19/3/2022).

Untuk diketahui sebelumnya, Drs. I Wayan Sueta sebagai pencinta olah raga dan sering menyelenggarakan kegiatan olah raga baik bersifat daerah maupun nasional mendatangi Kejati Bali.

Pihaknya melaporkan, adanya dugaan penyimpangan anggaran negara di tubuh KONI Bali. Meminta kepada kejaksaan untuk mengusut dan melakukan audit penggunaan anggaran keuangan secara mendalam.

Ia menegaskan, bahwa setiap warga negara berhak untuk melapor, apalagi ada kaitan korupsi. Hal tersebut dikatakan, tentunya dilindungi undang-undang serta dapat reward dari negara.

“Jelas kami sebagai pelapor dilindungi undang-undang, kejaksaan jamin itu juga. Kan banyak sekali perlu diaudit seperti anggaran PON kemarin. Dalam pengadaan barang juga, apakah penunjukan langsung atau tidak ini nanti kan diungkap kejaksaan. Begitu juga tiket pesawat, kwetansi hotel dan lain-lain jelas nanti pasti disusuri,” pungkas pemilik Club Sepak Bola Bali All Stars.

Wayan Suata yang juga mantan Ketua Forki Badung beralasan, pelaporan dilakukan tidak lain lantaran sekarang ini dalam tubuh KONI Bali dirasa sarat dengan permainan. Tidak saja disinyalir terjadi penyimpangan anggaran namun juga disebutkan, kuatnya nepotisme kepengurusan dinasti.

“Nepotisme ini sengaja dibangun. Seperti sekarang dalam pemilihan Ketua KONI Bali sengaja didorong biar jatuhnya aklamasi. Dugaan syarat yang dihembuskan bahwa harus didukung 20 cabor baru dapat mendaftar, ini terkesan pengkondisian oleh Steering Committee (SC) dan Organizer Committee (OC) yang tentu membuat tidak sehat jalannya pemilihan Ketua KONI baru, dengan dugaan bahwa aturan rancangan tata tertib ini dibuat oleh calon yang juga ikut mendaftar menjadi calon Ketua Umum KONI Bali,” jelas Wayan Suata.

Pos terkait

loading...