Bambang Haryo Duga Proyek Bendungan Wadas Hanya Konspirasi dan Kamuflase, Apa Karena Emas?

Bambang Haryo saat terjun ke Waduk Bener

Purworejo – Apa urgensinya membangun Bendungan Bener di kecamatan Wadas senilai 2,1 triliun yang saat ini menjadi satu polemik karena akan menggusur salah satu Desa yang sangat subur dan bisa memberikan kehidupan untuk masyarakat Desa tersebut turun temurun. Demikian dikatakan, Bambang Haryo Anggota DPR-RI periode 2014-2019

Menuturnya, di wilayah Purworejo, Wonosobo dan Kulonprogo sangat berlimpah air dari banyak sungai dan bahkan banyak jumlah waduk dan bendungan yang ada di wilayah sekitar Desa Wadas tersebut, seperti Waduk Wadaslintang yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Waduk Wadas, mempunyai volume sekitar 500juta m3 dan sudah berfungsi mulai tahun 1998 (Jaman Presiden Soeharto). Dan Waduk Mrica mempunyai volume sekitar 47juta m3 serta Waduk Sempor yang berjarak sekitar 50kilometer dari tempat tersebut dan mempunyai volume 56.700.000 m3.

“Ketiga waduk tersebut sudah berfungsi sebagai Irigasi air baku dan pembangkit listrik di wilayah Banjarnegara, Kebumen, Purworejo dan bahkan sebagian Kulonprogo. Sedangkan volume Waduk Wadas/Bener yang sedang dalam pembangunan juga sangat besar sekitar 90juta m3 yang sampai saat ini belum direncanakan manfaatnya untuk irigasi wilayah mana dan bahkan fungsi air baku hanya digunakan untuk bandara YIA serta penanggulangan banjir yang ada di wilayah Purworejo”Terang Bambang Haryo

Perencanaan ini, kata pemilik sapaan akrab BHS, terkesan terlalu dipaksakan dan asal – asalan karena irigasi di wilayah Purworejo dan Kulonprogo sudah sangat sempurna dialiri dari berbagai sumber air sungai dan bahkan diwilayah Kecamatan Wadaspun semua sawah sudah berfungsi secara penuh untuk mendapatkan air 24 jam setiap hari dari sungai Pelus termasuk juga wilayah Magelang dan Kebumen.

Bambang Haryo saat di Bendungan Wiji

“Air bakupun dikatakan untuk Bandara YIA, padahal Bandara YIA itu diapit oleh hilir atau muara dari sumber Sungai Bogowonto dan Sungai Serang yang mempunyai air baku yang sangat melimpah dan malah dikhawatirkan akan memberikan dampak banjir di kawasan bandara YIA, sehingga kementerian PU akan membuat long storage (kolam retensi) untuk penambungan air serta pengerukan dan pelebaran sungai dimuara Sungai Bogowonto dan sungai serang yang mengapit bandara tersebut yang tentunya bisa dimanfaatkan sebagai air baku di Bandara tersebut, manfaat air baku dari Waduk Wadas untuk YIA buat apalagi”Kata BHS, mempertanyakan

Perancanaan Waduk Wadas ini, ungkap BHS, juga dipakai untuk pencegahan banjir di wilayah Purworejo, padahal Purworejo ada di bawah dari waduk tersebut. Tentunya tidak tepat posisi waduk dibandingkan dengan lokasi banjir yang ada dibawah daripada waduk tersebut.

“Harusnya terbalik, waduk penampungan harus dibawah lokasi banjir dan bila bendungan dari waduk yang mempunyai ketinggian sekitar 150 sampai 200 meter tersebut jebol, maka air waduk tersebut bisa menenggelamkan seluruh Kabupaten Purworejo bahkan Kulonprogo”Tutur Alumnus ITS Surabaya

Dilanjutkan Bambang, dirinya mengaku heran dalam pembangunan waduk yang dibagi dua kontraktor PT. Waskita Karya dan PT. PP untuk membangun dua sisi dinding dan dasar masing masing yang sama. Tetapi salah satu sisi yaitu PT. PP menggunakan bahan baku andesit untuk fondasi bendungan, sedangkan PT. Waskita Karya tidak menggunakan batu andesit untuk sisi dasar dan dinding lainnya.

Sambung anggota dewan Pakar Partai Gerindra ini, bahwa untuk mendapatkan andesit harus membongkar/merusak Desa Wadas yang sudah sangat makmur dan ekosistemnya bagus termasuk mengintimidasi rakyat didesa tersebut serta memanipulasi informasi – informasi. Saya khawatir ada pihak – pihak yang diduga menginginkan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar batu andesit karena dikatakan batu andesit adalah merupakan seratnya emas.

“Saya juga mengkhawatirkan proyek wadas ini diduga hanya satu proyek – proyekan yang tidak ada manfaatnya untuk masyarakat seperti halnya beberapa waduk dibangun akhir – akhir ini yang belum dimanfaatkan, termasuk Long Storage Kalimati yang ada di Sidoarjo yang mempunyai kapasitas 4juta m3 dengan biaya sekitar 500 Milyar tidak dimanfaatkan sama sekali sebagai irigasi, airbaku ataupun yang lainnya dari yang sudah selesai tahun 2019 hingga sampai dengan saat ini”Katanya

Pemerintah harus ingat bahwa uang APBN adalah uang rakyat yang harus dipertanggung jawabkan untuk kepentingan rakyat sebesar – besarnya. Diduga terjadi KONSPIRASI untuk kepentingan PRIBADI/KELOMPOK dan siapa yang bertanggung jawab terhadap dugaan proyek – proyekan waduk ini. Tutup BHS.

Berikut videonya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.