Keluhan Tak Direspon Direktur, Warga Pasaman Ini Terpaksa Nikmati Air Keruh dari PDAM di Idul Fitri

Foto aliran Air keruh Perumda Air Minum Tirta Saiyo kiriman pelanggan Ade Chandra di hari Pertama Hari Raya Idul Firti, Senin 2 April 2022.
Foto aliran Air keruh Perumda Air Minum Tirta Saiyo kiriman pelanggan Ade Chandra di hari Pertama Hari Raya Idul Firti, Senin 2 April 2022.

Pasaman, – Ade Chandra seorang warga Pasaman mengaku pelanggan PDAM Pasaman yang kini namanya telah berganti menjadi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Saiyo, terpaksa menikmati air keruh di hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Senin 2 April 2022.

Sebelumnya pelanggan Perumda ini mengaku telah menyampaikan keluhannya terkait air keruh kepada Direktur Perumda Air Minum Tirta Saiyo, Ahmad Subur, pada 1 Maret 2022 lalu via WhatsApp, namun tidak ditanggapi.

“Ini 1 Maret 2022 tidak ada tanggapan,” kata Ade Chandra mengirimkan bukti pesan yang ia kirimkan kepada Direktur Perumda Air Minum Tirta Saiyo sambil mengirim foto air keruh tersebut.

Baca juga: Idul Fitri Sudah di Ambang Pintu, Warga Pasaman Cemas Soal Air PDAM

Momen Tidak Pas, Khairuddin Simanjuntak Minta PDAM Pasaman Tunda Penagihan

Dikatakan Ade Chandra, air PDAM keruh ketika turun hujan di Tanjung Beringin, Lubuk Sikaping.

“Setiap hari hujan (air keruh), kadang tidak ada hujan sampah – sampah daun hitam yang datang. Masih keruh sampai hari ini,” terangnya, Senin 2 April 2022.

Disampaikan pelanggan ini, ketika air keruh bisa mencapai waktu 30 menit, baru berkurang.

“Kadang kita coba saring, tapi tidak bisa. Hari ini mungkin banyak orang Pasaman yang pulang kampung, pasti mereka juga mengeluhkan air bersih,” ujar Ade Chandra, di hari pertama Hari Raya Idul Fitri 2022 kepada deliknews.com.

Terkait informasi Direktur PDAM, Ahmad Subur, tidak merespon keluhan pelanggan. Dicoba dikonfirmasi kepada Ahmad Subur via WhatsApp, namun tidak tersambung. Diduga memblokir WhatsApp setelah dikirimkan pemberitaan soal keluhan masyarakat terkait penagihan jelang lebaran, dan konfirmasi aset PDAM Rp60 miliar yang belum jelas kepemilikannya.

Sebelumnya diberitakan ribuan warga Pasaman pelanggan Perumda Air Minum Tirta Saiyo menerima surat bahwa Perumda akan melakukan penghentian aliran air dan akan dikenakan biaya membongkar instalasi pipa apabila pelanggan tidak melunasi tunggakan dan denda dari tunggakan 3 bulan atau lebih.

Baca juga: Jelang Lebaran, PDAM Pasaman Bongkar Pipa Air Bila Warga Tak Bayar Tagihan dan Denda

Terkesan Ancam Pelanggan, Fopbindo Tuding PDAM Pasaman Kurang Nurani

Saham Rp60 M Dipertanyakan, PDAM Pasaman Langgar Peraturan Pemerintah

Bagi beberapa pelanggan surat tersebut dirasa sangat menambah beban dimasa ekonomi sulit karena kalau tidak segera dilunasi, maka akan diputus aliran air Perumda.

Tidak tanggung – tanggung, meskipun menjelang lebaran Idul Fitri 1443 H / 2022 M pelanggan hanya diberi waktu selama 7 hari untuk melunasi tunggakan dan denda tersebut.

Idul Fitri sudah di Ambang Pintu, ternyata bukan hanya pelanggan yang menunggak mengeluh terhadap pelayanan dan kualitas air Perumda Air Minum Tirta Saiyo, namun juga pelanggan yang tidak pernah menunggak mengeluhkan ketidakcukupan air dan keruh ketika hujan tiba.

Seperti diungkap akun Facebook Rhrin Endang Soetardi di grup SEPUTAR PASAMAN yang beranggotakan 32 ribuan akun, menyebut bahwa kondisi sekarang bukan lagi terancam air bersih, namun memang air itu sendiri tidak mengalir.

“Bukan terancam lagi… Udah hampir 2 bln air ndak pernah siang msk, klu mlm jam 11 atau jam 2 dini hari baru hidup itupun kdg hidup kdg ndak dgn tekanan air yg sgt kecil pula, ntah bagaimana lah besok hr lebaran…… ,” kata Rhrin Endang Soetardi, menanggapi berita dengan judul Jelang Idul Fitri 2022, Ribuan Pelanggan PDAM Pasaman Terancam Air Bersih.

Rhrin Endang Soetardi menjelaskan Ia beralamat di Bypass Taluk Ambun, Lubuk Sikaping. Tidak pernah menunggak tagihan, walaupun air mati hampir 2 bulan, namun tetap mematuhi pembayaran.

Akun FAtma OLifano mengaku warga Kecamatan Bonjol juga mengeluhkan hal yang sama, “di Bonjol pun kalau hujan lebat air akan mati berjam – jam. Setelah hidup akan keruh dulu. Padahal dulu sejak kecil sampai kepala 3 hampir tidak pernah rumah saya mati PDAM, gak tau berubah nya dimana dan salahnya apa,” ujar FAtma OLifano menyampaikan keluhan.

Sementara Bagian Pelayanan Perumda Air Minum Tirta Saiyo, Edi Warman, mengatakan tidak ada pertimbangan Perumda untuk penghapusan denda, meskipun denda dari tunggakan tagihan dari masa pandemi Covid-19, dan denda tetap dikenakan meskipun ada keluhan air keruh dan kapasitas kecil.

“Kita diperusahaan ada hak dan kewajiban, bahasanya bukan ancaman tapi mengingatkan. Namun dalam surat ada batas waktu 7 hari, kalau tidak dilunasi tunggakan dan denda maka akan dikenakan biaya pembongkaran,” kata Edi Warman, Kamis (28/4/22).

Menurut Edi Warman, ada ribuan pelanggan yang disurati karena menunggak dari 3 bulan atau lebih. Kalau disebut air keruh itu tidak selamanya.

Kemudian Kabag Teknik, Adi Marta, juga mengakui kapasitas air di daerah Lubuk Sikaping memang kecil karena banyaknya pelanggan dan untuk mengantisipasi air keruh. Stok air banyak tapi pipa masih kecil.

(Darlin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.