Hampir Sebulan Laporan Kasus Dugaan Pemerkosaan Anak Dibawah Umur Dipolres Malaka Mengecewakan Keluarga Korban

Malaka, NTT, deliknews- Keluarga Korban kecewa pemerosesan laporan dugaan kasus pemerkosaan Anak dibawah umur, CT 13 tahun yang sudah dilaporkan ke Mapolres Malaka Nusa Tenggara Timur, semenjak 18 April 2022 lalu, baru direspon pihak penyidik saat puluhan kelurga korban datang ke Mako Polre Malaka, Rabu(4/5/2022)

Kedatangan keluarga korban dari desa Kakaniuk Kecamatan Malaka Tengah itu mempertanyakan perkembangan pemerosesan Hukum terhadap kasus dugaan pemerkosaan CT, juga mendesak pihak penyidik untuk mengambil para pelaku, supaya dimintai keterangan pada Rabu Kemarin. Kemudian, Kamis(5/5/2022) sekitar pukul 13.30 an keluarga korban kembali ke Kantor Polres Malaka.

Roy S Tei Seran, selaku keluarga korban ungkap rasah kekecewaan terhadap pihak penyidik itu, karena laporan tindakan kekerasan terhadap CT itu, telah dilaporkan ke pihak APH di Mapolres Malaka semenjak 18 April 2022 belum ada tindak lanjutnya, sampai pihak keluaga korban datang ke Makopolres, kemudian pihak korban menanyakan kasus tersebut pada Kasatres Malaka dan dapat jawabannya itu, kasus ini belum cukup bukti. Ungkap Roy S Tei Seran didepan Kantor Polres Malaka,Kamis(5/5/2022)

Seusai ungkapan rasa kekecewaan Roy S Tei Seran, lalu ditemui media ini, lalu Roy S Tei Seran meminta No Whassaph, kemudian Ia megirimkan tulisannya pada Wartawan deliknews.

“Tanggal 4 Mei, sekitar pukul 10.30, rombongan keluarga, di damping oleh pihak Gereja Katolik Keuskupan Atambua, dalam hal ini Frater Top Paroki Wekmidar, di mana korban tinggal di wilayah Paroki tersebut, didampingi Pengacara dan para awak Media, bersama warga sekitar kota Betun, berjumlah sekitar 60an orang mendatangi Mako Polres Malaka.

Keluarga diterima dengan baik oleh Pihak Serse Polres Malaka, dalam hal ini Kasat Reserse dan Kriminal Polres Malaka, Iptu Zainal Arifin Abdurahman SH, Didampingi Kanit TPPA, Pak Urip.

Di dalam ruangan Kasat, Kasat menjelaskan bahwa masih kekurangan alat bukti dan Visum belum ada. Keluarga kemudian mendesak agar segera diambil hasil Visum, yang sudah berlarut, dan sudah ada korban langsung mengakui, ada foto pelaku, ada mami kos yang dipanggil bersaksi, kemudian keluarga langsung menuju ke RSUPP Webua-Betun untuk mengambil hasil Visum.

Awalnya Pihak RSUPP menolak memberikan hasil Visum dengan Alasan dokter yang melakukan pemeriksaan korban tanggal 18 April tidak berada di tempat, dan sempat perawat meminta keluarga menelpon dr. Lina selaku Direktur RSUPP Betun, namun keluarga menolak karena prosedurnya tidak demikian dan harusnya menjadi pekerjaan sesame perangkat di RSUPP Betun, karena manajemen RSUPP sedang Libur, namun keluarga memaksa karena kasusnya sudah dilaporkan sejak tanggal 18 April. Liburan baru terjadi, kemudian sejak tanggal 18 April hingga sekarang, apa yang dikerjakan pihak RSUPP? Dan peluang Pelaku melarikan diri dari Malaka. Karena desakan tersebut, akhirnya hasil Visum Et Repertum keluar, diambil oleh pihak kepolisian yang di ambil oleh Ibu Polwan Eby bersama rekannya di ruang Manajemen.

Sekembalinya ke Mako Polres Malaka, pihak keluarga kembali mendesak pihak kepolisian untuk menangkap Pelaku, dan Pak Kasat mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan terhadap Pelaku. Sebelumnya Pak Kasat mengatakan belum cukup bukti, namun dengan foto, rekaman percakapan upaya pendekatan pelaku pada keluarga untuk diselesaikan secara kekeluargaan, sudah jadi alat bukti yang cukup menahan pelaku.

Pak Kasat kembali memerintahkan anggotanya, yakni pak Marcko yang ada di bagian SPKT, tidak jauh dari Ruang Kasat, bersama Ibu Eby, bersama keluarga dan korban melakukan Visum sekali lagi ke RSUPP Betun.

Sekitar 30 menit kemudian, keluarga yang di RSUPP menelpon keluarga lain di Mako Polres Malaka, bahwa dokter masih menangani pasien darurat lain di lantai 2 IGD RSUPP Betun. Keluarga lain mendatangi lagi RSUPP dan Ibu Dokter Endah yang bertugas saat itu langsung mengatakan kalau hasil Visum pertama sudah cukup, namun Ibu Eby mengatakan tidak masalah, silahkan diperiksa lagi dan dibuatkan visum kedua dengan jenis Laporan Visum Et Repertum: Persetubuhan pada Anak, yang sebbelumnya Visum Et Repertum pertama; Eksploitasi pada anak. Keluarga bertanya, dan pihak Kepolisian mengatakan Visum Et Repertum diperlukan lagi, untuk memenuhi alat bukti. Anak kami pun diperiksa lagi dan kemudian tak lama berselang, sekitar 15 menit, hasilnya keluar dan dibawa ke Mako Polres lagi.

Kemudian keluarga menunggu di sekitar Teras Mako Polres Malaka, untuk melihat kerja Kepolisian sekaligus Pelaku yang telah melecehkan anak mereka dan seluruh anak perempuan di dunia, agar kejadian ini tidak berulang oleh pelaku yang sama, maupun oleh siapapun yang punya niat jahat merusak masa depan anak.

Dalam penantian, Korban kembali di periksa oleh Kanit TPPA, Pak Urip, didampingi ibu kandung korban dan Ibu Sherly yang mengaku jika dirinya berkerja di kementerian Sosial RI, khususnya di bidang PEKSOS, dan bertugas di Malaka.

Sekitar pukul 16.30, Anggota Kepolisian pergi menjemput pelaku dengan menggunakan 2 unit mobil. Keluarga Korban juga menawarkan mobilnya untuk dipakai, sebagai bentuk dukungan keluarga terhadap pihak Keplisian yang terkenal dengan semboyan Mengayomi dan melayani Masyarakat.

Korban pun selesai diperiksa oleh pak Urip, selaku kanit TPPA, dan diperkenankan untuk beristirahat sejenak bersama kedua orang tuanya, di bawah pohon mangga, dalam kintal Mako Polres Malaka. Kemudian sekitar pukul 18.00 WITA, korbban dipanggil oleh salah seorang penyik, Pak Dula, Penyidik Tipidum, masuk ke ruangan mereka, didampingi Ibu Korban.

Pak Dula sempat menekan korban dengan nada tinggi, seolah memaksa korban mengakui kalau korban bersetubuh dengan pacarnya, bukan dengan pelaku, disaksikan ibu dan kakak korban di ruangan itu, hingga korban menagis histeris dan memukul meja, kemudian terjadi kericuhan karena keluarga tidak terima dengan keadaan anak mereka yang masih dalam keadaan traumatis, kemudian dipaksa mengakui apa yang tidak dilakukannya. Beberapa keluarga dipanggil masuk ke ruang Kanit TPPA, bertemu dengan Pak Urip dan Pak Urip menjelaskan proses penanganan kasus ini sudah sejauh mana. Korban pun mengakui kalau ia mengnal pak Dula yang sering pergi ke kosan mereka dan bergaul dengan Mami kos layaknya kawan dekat.

Dari sana, keluarga menaruh curiga, mengapa kasus ini berlarut, dan mengapa pak Dula selaku Kanit Tipidum memaksakan diri memeriksa korban, yang harusnya diperiksa oleh pihak TPPA. Kemudian usai kericuhan, keluarga hendak melaporkan kejadian tersebbut ke pihak Propam, dan sesaat kemudian, sekitar pukul 19.00, pak Dula pergi meninggalkan Lokasi Mako Polres Malaka, kemudian Pak Urip selaku kanit TPPA, menenangkan keluarga, dengan mengatakan pada keluarga bahwa ia yang bertanggungjawab pada korban anak 13 tahun ini. Korban juga sudah dicecar dengan banyak pertanyaan, dan menjadi BAP, sudah disahkan namun diperiksa lagi oleh pak Dula yang harusnya tidak mengurusi Unit TPPA.

Sekitar Pukul 24.00, keluarga masih tetap berada di lingkungan Mako Polres Malaka, menunggu kedatangan pelaku yang katanya sedang dikejar. Sekitar pukul 02.00 pagi, keluarga meinta SPTL dan disambut baik, dilayani baik oleh pak urip sekalu Kanit TPPA.

Kemudian keluarga meminta HP korban yang juga disita bersamaan dengan HP Pelaku. Menurut keluarga HP Korbban tidak perlu disita. Namun HP korban disita juga, sehingga keluarga kembali meminta HP Korban dan dirahkan kembali oleh Pak Urip dengan baik.

Lewat Bapak Yulius Klau, Keluarga menaruh harapan penuh pada kepolisian agar member rasa damai pada internal keluarga sebelum ada hal-hal yang makin runyam terjadi di luar sana, karena kasus ini sudah viral di media sosial dan mendapat perhatian dari berbagai kalangan, baik dari Lembaga perlindungan Anak, Rumah Perempuan, Gereja Katolik, dan jadi perbincangan di hampir setiap lorong kota dan desa di Kabupaten Malaka.

Keluarga berterima kasih kepada Pak Kasat, yang telah mengerahkan segenap kekuatan Polri, khususnya Polres Malaka untuk menangkap Pelaku Kejahatan kemanusiaan ini.

Sekitar tanggal 20an April, Pelaku dan kroninya berupaya mendekati orang tua kandung korban untuk diselesaikan dengan cara kekeluargaan (Berdamai). Sempat menjanjikan, disepakati 350 Juta rupiah, ditambah Beras 1 akrung, Babi 1 ekor, tuak 1 karton, namun pelaku tidak memenuhi komitmennya, hingga orang tua kandung melaporkan kasus ini pada keluarga besar. Karena orang tua kandung korban tidak cukup pendidikan (Tidak tamat SD pun), keterbatasan berbahasa Indonesia, dan juga terbatas secara ekonomi, mudah diperdaya.

Keluarga besar mengambil alih dan turut mendampingi orang tua korban untuk diselesaikan melalui jalan Hukum Positif, Lewat APH, terutama Kepolisian dan mendesak agar kasus ini segera ditangani secara serius.

Keluarga juga mempunyai maksud, peristiwa ini jangan sampai terjadi pada anak perempuan lain di mana pun, tertutama di Malaka, yang masyarakatnya masih jah tertinggal pemahaman hukumnya. Sekaligus menjadi awasan bagi sekalian kita sebagai orang tua yang mempunyai anak, baik terutama perempuan, maupun anak laki-laki di bawah umur yang mudah diperdayai dan dijahati.” tutup tulisan Roy S Tei Seran.

Brita kasus dugaan pemerkosaan Anak dibawa Umur CT 13 tahun tersebut, belum dikonfirmasikan media ini pada pihak APH. (Dami Atok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.