Tidak Tepat Sasaran, Dosen dan Mahasiswa Kampus Milik DPRD Sumbar Leli Arni Terima Bantuan Ternak

Ilustrasi
Ilustrasi

Padang, – Berdasarkan informasi yang diterima Kelompok Wanita Tani (KWT) KMS dan Kelompok HMB penerima bantuan ternak ayam dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemprov Sumbar dibentuk diduga tidak atas musyawarah kelompok. Pengurus diduga hanya ditunjuk oleh Sdr. Ad merupakan anak pemilik Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama (STITNU) Sakinah Dharmasraya.

Pemilik STITNU Sakinah Dharmasraya merupakan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Leli Arni, Ketua dan anggota KWT KMS merupakan dosen dan mahasiswa pada STITNU Sakinah Dharmasraya. Selain itu, pengurus Kelompok HMB merupakan dosen dan staf pada STITNU Sakinah Dharmasraya.

KWT KMS dan Kelompok HMB menerima bantuan ternak ayam pedaging masing-masing sebanyak 2.000 ekor dan dipelihara dalam satu kandang yang sama serta berada di lahan depan STITNU Sakinah Dharmasraya.

Baca juga: Bantuan Sapi Kurus Ternyata Pokir DPRD Sumbar

Bantuan Ternak dari Pemprov Sumbar Diduga Gagal Perencanaan

KPK Tunggu Laporan soal Bantuan Ternak Pemprov Sumbar

Berdasarkan informasi yang diterima, kelompok tersebut tidak memiliki pengalaman dalam beternak ayam dan pernah menolak untuk membentuk kelompok sebagai penerima bantuan ternak ayam tersebut.

Selain itu, diketahui bahwa KWT KMS dan Kelompok HMB tidak dapat memenuhi permintaan untuk menghadirkan seluruh anggota kelompoknya pada saat pertemuan dengan pendamping kelompok oleh dinas terkait.

Atas kondisi tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya mengadakan pertemuan dengan Dinas PKH Provinsi Sumatera Barat untuk membahas apakah kedua kelompok tersebut akan tetap ditetapkan sebagai calon penerima bantuan ternak ayam. Hasil dari pertemuan tersebut adalah KWT KMS dan Kelompok HMB tetap menjadi calon penerima bantuan ternak ayam dan diminta melengkapi persyaratan administrasi yang dibutuhkan.

Informasi tersebut tidak dibantah oleh Leli Arni ketika dikonfirmasi deliknews.com, Rabu (11/5/22). Berikut penjelasan Leli Arni.

Persoalan ini sudah kita klarifikasi beberapa waktu yang lalu dengan kelompok. Beberapa hal yang bisa saya sampaikan :

1. Terkait dengan pembentukan kelompok sudah sesuai dengan proses pembentukan kelompok yang ada.

2. Terkait dengan lokasi kandang, itu juga sesuai dengan kesepakatan kelompok, meskipun lahan tersebut berada di dekat kampus stitnu akan tetapi merupakan lahan sewa milik orang lain.

3. Untuk keanggotaan kelompok kita serahkan kepada kebijakan kelompok apakah dari kalangan mahasiswa atau tidak pada waktu itu kelompok sudah berkoordinasi dengan Nagari dan Dinas terkait dengan kenggotaan kelompok.

4. Terkait dengan pengalaman kelompok, mereka mengakui tidak memiliki pengalaman tetapi kelompok tani penerima juga tidak mensyaratkan adanya pengalaman yg penting kelompok tersebut terdaftar di simluhtan.

(Darlin)

Pos terkait

loading...