Silaturahmi Mengurai Kebencian dan Intoleransi

Silaturahmi Mengurai Kebencian dan Intoleransi

Oleh : Muhammad Yasin

Suasana Lebaran masih bisa kita rasakan di bulan Syawal ini. Meski demikian silaturahmi tidak hanya sebatas saling memaafkan saja, namun diharapkan dapat mencegah kebencian hingga aksi intoleransi.

Dalam keterangan tertulisnya Habib Husein mengatakan bahwa Silaturahmi itu di dalamnya bukan hanya ada pemaafan dan pemberian maaf, melainkan ada kesepahaman, kesalingkenalan satu sama lain.

Karena kenal itu, masalah menjadi terurai dan kalaupun ada masalah menjadi termaafkan.

Habib Husein mengatakan, membangun silaturahmi juga sejatinya mampu mengurangi perbedaan di antara individu.

Habib Husein memandang perlu melestarikan budaya silaturahmi yang berkembang di Nusantara untuk menjadi kearifan lokal dan menjadi momen untuk lebih memahami esensi ajaran agama.

Untuk terus melestarikan dan menjaga silaturahmi, menurutnya yang pertama adalah dengan mengetahui betapa besarnya pahala bagi orang yang menjaga tali silaturahmi dan betapa besar dosanya orang yang memutus tali silaturahmi tersebut.
Habib Husein juga menyinggung enggannya generasi muda untuk menjalin dan membangun silaturahmi. Hal ini disebabkan oleh pola pikir anak muda yang pragmatis dalam melihat hubungan.
Dirinya menuturkan, kalau tidak ada hubungan bisnis atau tidak ada kepentingan di antara mereka untuk bertemu, ya, enggak bertemu. Itu yang membuat mereka enggan melakukan silaturahmi. Padahal hubungan-hubungan yang berbasis kultural itu yang menjadi kekuatan bagi mereka, termasuk dalam bisnis.
Habib Husein menilai saat ini justru forum silaturahmi seperti forum motor bersama, forum mobil atau forum hobi bersama bisa menjadi bagian dari silaturahmi. Hal tersebut tumbuh dari kesadaran pada kesamaan hobi atau kesamaan fesyen. Bahkan, nantinya pada dasarnya tanpa kesamaan itu sendiri justru dalam titik perbedaan mereka seharusnya membangun silaturahmi agar bisa mengurangi perbedaan di antara mereka.
Meski ujaran kebencian masih berseliweran di berbagai media sosial, namun ucapan hari raya dan saling memaafkan rupanya menjadi core value di Bulan Syawal. Saling memaafkan sesungguhnya merupakan terapi untuk menggapai perdamaian dan mencegah kebencian dan perilaku intoleran. Silaturahmi merupakan gerakan kultural untuk menangkal kebencian dan intoleran. Bahkan niscaya, silaturahmi menjadi starting point untuk menolak paham radikal.
Silaturahmi adalah media untuk menyambung persaudaraan dan ikhlas memaafkan merupakan terapi menuju pencapaian kesehatan mental. Sedangkan, intoleran yang berdasarkan kebencian dan dibalut dengan paham radikal merupakan virus bagi kesehatan mental.
Padahal kesehatan mental kaum intoleran dan radikal itu patut dipertanyakan. Radikalis berawal dari kondisi mental yang tidak sehat, di mana sikap ini dilingkupi perasaan benci, gelisah, ingin menyerang dan lain sebagainya.
Kaum radikal kemudian memberikan manipulasi teks-teks seolah kekerasan dan radikalisme merupakan hal yang dibenarkan oleh agama. Dengan begitu mereka akan dengan mudah merekrut kader agar menjadi bagian dari kelompok yang berpemikiran radikal.
Pada hakikatnya, radikalisme bertentangan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kekerasan yang mengatasnamakan agama bukanlah bagian dari kegiatan beragama. Pemahaman ini semestinya diwariskan tanpa putus, sehingga kaum radikal akan kesulitan dalam merekrut anggota baru.
Spirit Idulfitri haruslah selalu dipelihara agar kedamaian dan perilaku shalih sosial terwujud dalam laku sehari-hari. Sudah semestinya Idulfitri menjadi momen untuk membersihkan hati dari kebencian.
Silaturahmi juga semestinya harus selalu di-upgrade, tidak hanya melalui pertemuan kontak fisik, melainkan adanya interaksi batin yang saling memaafkan, menghormati dan mengasihi. Kabar baiknya, silaturahmi yang hakiki seperti ini dapat melanggengkan kedamaian dan ketenteraman hati. Tentu saja dalam hati yang damai akan kecil kemungkinan dihinggapi sikap intoleran. Silaturahmi juga harus dilakukan dengan penuh kesadaran, menyadari bahwa memaafkan kesalahan dan menjaga perdamaian adalah bagian dari ibadah.
Radikalisme dan intoleransi akan menjadi lemah di tengah kuatnya kebersamaan persaudaraan dan ikatan silaturahmi yang suci dan kuat. Kebencian akan luruh dengan kebaikan dan ikatan persaudaraan.
Menjalin persaudaraan dengan silaturahmi rupanya bisa menjadi kekuatan untuk menghalau paham radikal dan intoleransi, persaudaraan bisa dirajut dengan sikap saling memaafkan dan saling memahami bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri.

)* Penulis adalah Kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.