Pengadaan Alat Praktik Siswa Disdik Sumbar Tidak Sesuai Spek, Kabid PSMK Ariswan Bungkam

Padang, – Pengadaan peralatan praktik utama siswa SMK – Tanaman Pangan dan Hortikultura, Pengolahan Hasil Pertanian, serta Ternak Unggas pada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat tahun 2021 tidak sesuai spesifikasi kontrak Rp480 juta lebih sehingga menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Pengadaan ini diketahui terdapat 6 unit Digital Egg Analyzer yang terdiri dari dua unit Digital Egg Analyzer pada masing-masing sekolah, yaitu SMKN 1 Gunung Tuleh, SMK PP Nagari Padang Mengatas, dan SMKN 2 Solok Selatan.

Digital Egg Analyzer yang diterima tidak sesuai spesifikasi teknis/kontrak yang dipersyaratkan karena jenis barang yang diterima sekolah adalah Digital Haugh Tester yang merupakan alat untuk menguji kualitas albumin telur dan bukan alat untuk mengukur parameter kualitas telur.

Baca juga: Pengembalian Uang Negara Tidak Hapuskan Pidana, Ini Peran Audit BPK

Kasus Edotel Berlanjut, Polresta Bukittinggi Akan Panggil Kabid SMK Disdik Sumbar

Harga alat Digital Egg Analyzer dalam kontrak pengadaan adalah sebesar Rp80.048.348,60 per unit, sehingga total harga Digital Egg Analyzer yang tidak sesuai spesifikasi kontrak adalah Rp480.290.091,60.

Berdasarkan reviu dokumen pengadaan, lebih lanjut diketahui bahwa pada dokumen penawaran, CV BT mengajukan spesifikasi teknis alat Digital Egg Analyzer seperti pada gambar sebagai berikut.

Namun, pada brosur peralatan yang menjadi kelengkapan dokumen penawaran, CV BT mengajukan jenis alat berbeda, yaitu Digital Haugh Tester yang ditulis dengan nama Digital Egg Analyzer, seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Perbedaan kedua alat tersebut terlihat pada tampilan, dimensi, berat, dan fitur, serta kemampuan alat. Digital Egg Analyzer dilengkapi dengan printer yang bisa menunjukkan hasil pengujian kualitas telur yang tidak dimiliki Digital Haugh Tester.

Hasil penelusuran di internet atas barang yang serupa dengan Digital Haugh Tester diketahui bahwa harga per unit Digital Haugh Tester adalah sebesar US$1.700,00 atau setara dengan Rp24.452.800,00 (kurs tengah Bank Indonesia tanggal 20 Desember 2021 sebesar Rp14.384,00) di luar biaya tambahan seperti pengiriman, impor, asuransi, dan biaya lain.

Hal tersebut mengakibatkan tujuan pengadaan barang Digital Egg Analyzer untuk mendukung pembelajaran dan praktik siswa tidak tercapai karena alat tidak dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar dan kelebihan pembayaran sebesar Rp480.290.091,60 atas pengadaan barang yang tidak sesuai spesifikasi yang dipersyaratkan dalam kontrak.

Masih menurut BPK, permasalahan tersebut terjadi karena Kepala Dinas Pendidikan selaku PA kurang melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan belanja modal di lingkungan kerjanya, KPA dan PPTK lalai melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, dan penyedia barang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai kesepakatan kontrak.

Terkait persoalan ini dicoba mengonfirmasi Kabid PSMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Ariswan via WhatsApp pada (20/6/22) namun belum merespon hingga berita ini ditayangkan.

(Darlin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.