Mengutuk Aksi Brutal KST Papua Lukai Warga Sipil dan Pendeta

Mengutuk Aksi Brutal KST Papua Lukai Warga Sipil dan Pendeta

Oleh : Alfred Jigibalom

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua kembali berulah dan kali ini dinilai sangat keterlaluan karena mereka membantai 10 orang warga sipil di Nduga, Papua dan salah satunya adalah seorang pendeta. Masyarakat mengutuk aksi brutal KST dan mendukung penegakan hukum terhadap gerombolan tersebut.

Papua adalah bagian dari Indonesia dan diakui oleh hukum internasional. Namun sayangnya ada sebagian oknum yang ingin agar Papua merdeka, dan mereka mendirikan OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan organisasi kaki-tangannya, KST (Kelompok Separatis dan Teroris).

Dalam praktiknya, KST menjadi peneror dan memaksakan agar rakyat mengikuti mereka untuk membelot.

Tanggal 16 Juli 2022, 21 orang anggota KST mengepung pemukiman warga di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga.

Awalnya hanya ada 1 anggota KST yang datang dan mengacungkan senjata tajam ke kios milik warga. Kemudian menyusul 20 rekannya yang membawa 15 senjata laras panjang.

KST meminta agar seluruh laki-laki di sana keluar dan 5 orang tersebut dipukuli dan ditembak. Masih belum puas, mereka menghadang truk yang datang dan 5 warga sipil yang ada di dalamnya langsung ditembak. Total ada 10 korban pembantaian KST dan salah satunya berprofesi sebagai pendeta, yang bernama Eliaser Baner.
Para korban langsung dilarikan ke RSUD Mimika dan mereka saat ini sudah meninggal dunia. Selain 10 korban jiwa, ada juga ada 2 orang yang mengalami luka berat. Hal ini dinyatakan oleh Kombes Ahmad Musthafa, Kabid Humas Polda Papua.
Masyarakat mengecam kebrutalan yang dilakukan oleh KST. Bagaimana bisa mereka menyerang warga sipil yang tidak bersalah? Masyarakat tentu tidak punya senjata sebagai alat untuk membela diri, dan di bawah ancaman senjata laras panjang maka akan langsung ketakutan dan jadi korban.
Jika ada peristiwa tragis seperti ini maka biasanya KST beralasan bahwa masyarakat yang bersalah karena adalah mata-mata alias aparat yang menyamar. Padahal sudah jelas bahwa mereka warga sipil biasa, tetapi tetap KST tidak percaya. Anggota KST sudah dicuci otaknya oleh sang pentolan sehingga mau-mau saja melakukan kekejaman seperti ini.
Pendeta yang jadi korban juga orang asli Papua dan mereka (KST) sangat tega membantai saudara sesukunya sendiri. Orang normal akan menghormati pendeta sebagai tokoh masyarakat. Namun KST malah menghabisi seorang pemuka agama, dan hal ini menunjukkan moral mereka yang nista.
Jika ada peristiwa seperti ini maka para pendatang juga ketakutan karena mereka niat untuk bekerja di Papua. Namun malah terancam oleh keberadaan KST yang tidak pandang bulu dalam melakukan aksi kriminal. Apalagi 8 dari 10 korban peristiwa penyerangan di Nduga adalah pendatang, dan jenazah mereka diterbangkan ke Palu dan ke NTT.
Konflik yang disebabkan oleh KST membuka mata masyarakat bahwa permasalahan di Papua sangat rumit. Tidak hanya tuntutan kemerdekaan oleh kelompok pemberontak. Namun sudah merembet ke pertikaian yang menyebabkan kerugian besar di kalangan pendatang.
Oleh sebab itu perlu ada imbauan dari tokoh masyarakat yang jadi penengah, bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Seluruh warga bersatu, tak hanya orang asli Papua tetapi juga para pendatang. Jika kompak dalam melawan KST maka masyarakat optimis bahwa kelompok pemberontak tersebut bisa dibubarkan.
Faktor keamanan juga perlu diperhatikan, dan jumlah aparat juga ditambah. Pengamanan lebih intens dilakukan di daerah-daerah di Papua yang sering konflik, seperti Nduga dan Intan Jaya. Pihak aparat keamanan tidak hanya fokus ke penangkapan KST, tetapi juga ke pencegahan. Mata-mata bisa disebar agar tidak ada penyerangan yang memakan banyak korban jiwa seperti ini.
Masyarakat Papua sendiri tidak kaget jika ada aparat keamanan di sekitar mereka, karena menyadari bahwa aparat datang untuk menyelamatkan mereka dari serangan KST. Keberadaan aparat adalah untuk pencegahan, dan tidak akan mengubah Papua menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) seperti di Aceh beberapa puluh tahun lalu.
Sementara itu, untuk pemberantasan KST maka aparat lebih intensif lagi dalam penangkapan anggota-anggotanya. Operasi Damai Cartenz terus dilakukan agar KST secepatnya ditangkap. Pengejaran dilakukan sampai ke pelosok Papua, agar kelompok pemberontak tersebut tidak datang ke pemukiman warga lalu melakukan teror selanjutnya.
Warga Papua juga bekerja sama dengan aparat keamanan dengan menjadi informan. Mereka tidak ada yang pro-KST. Sebaliknya, orang asli Papua memberi tahu ketika ada aktivitas yang mencurigakan, yang ditengarai dilakukan oleh KST. Dengan kerja sama antara rakyat dan aparat maka masyarakat optimis KST lekas diatasi.
Masyarakat mengutuk keras aksi brutal yang dilakukan oleh 21 anggota KST di Nduga, Papua. Peristiwa yang memakan korban jiwa ini amat memilukan dan jangan sampai terjadi lagi. Oleh karena itu penangkapan anggota KST terus dilakukan secara intensif.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.