Moderasi Beragama Perekat Kesatuan Bangsa

Plt Wali Kota Padang Hendri Septa disalami santri Pondok Tahfiz Dar Al Madinah, Jumat (2/4/21).

Moderasi Beragama Perekat Kesatuan Bangsa

Oleh : Pandu Wijaya Kusuma

Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan memiliki keragaman latar belakang agama. Untuk menjaga keutuhan bangsa, maka penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebuah keharusan.

Penulis menyadari bahwa bukan suatu hal yang mudah dalam menyatukan berbagai macam pikiran, sehingga perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak terkait untuk dapat berkolaborasi dengan pemerintah dalam menjaga persatuan bangsa.

Dalam hal ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjungi salah satu Pondok Pesantren yang berada di Berjan, Purworejo.

Ganjar menyampaikan sejumlah persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia seperti inflasi dan intoleransi hingga situasi sosial politik dunia saat ini yang berdampak pada sektor perekonomian di Indonesia.

Ganjar berharap santri dapat mengambil peran sebagai kalangan terpelajar yang mampu memberikan kemajuan di masyarakat dan memberikan kontribusinya untuk bangsa sebagai generasi penerus melalui moderasi beragama.

Penulis sependapat dengan Gubernur Jawa Tengah karena hal tersebut sangat tepat dimana para santri yang belajar tentang ilmu agama sekaligus generasi penerus bangsa ikut andil dalam memberikan kemajuan bagi bangsa Indonesia melalui moderasi beragama.

Dengan kedatangan Gubernur Jawa Tengah ke Pondok Pesantren tersebut, harapannya ada banyak ilmu dan pengalaman yang bermanfaat yang didapat dari acara sewelasan di Pondok Pesantren tersebut. Sehingga selain mendapatkan spiritualisme, juga mendapat hubungan sosial serta kemasyarakatan yang bermanfaat bagi generasi penerus bangsa.
Selain itu, untuk menerapkan moderasi beragama kepada masyarakat, Ahmad Muhtadi selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak, memaparkan tentang konsep moderasi beragama kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat yang berada di Kabupaten Demak.
Hal tersebut didasari dari penguatan moderasi beragama yang merupakan salah satu diantara tujuh program prioritas Kementerian Agama. Oleh karena itu, konsep moderasi agama terus dipaparkan bagaimana tentang nilai-nilai dan semangat dari gerakan moderasi beragama sebagai perekat kesatuan bangsa.
Menurut penulis, keberagaman bangsa Indonesia menjadi salah satu identitas bangsa yang membedakan dari bangsa lain di dunia. Selain menjadikan interaksi di dalam masyarakat berjalan dinamis, keberagaman juga menjadikan hidup sebuah bangsa jauh lebih berwarna apalagi dibarengi dengan toleransi.
Dengan demikian, munculah konsep moderasi beragama yang memiliki makna memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak terlalu kaku dan juga tidak terlalu liberal serta toleran dengan penganut agama lain. Moderasi beragama sendiri sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yg memiliki beragam suku dan agama agar masyarakat dapat hidup dengan rukun dan damai meskipun dalam perbedaan.
Melalui konsep moderasi beragama, masyarakat dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai. Semua mendapat hak dan kewajiban yang sama dalam berkontribusi untuk merekatkan kesatuan dan persatuan bangsa. Namun, sikap moderat sering disalahpahami dalam konteks beragama di Indonesia. Tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa seseorang yang bersikap moderat dalam beragama berarti tidak teguh pendirian, tidak serius, atau tidak sungguh-sungguh dalam mengamalkan ajaran agamanya.
Kesalahpahaman terkait makna moderat dalam beragama inilah yang berimplikasi pada munculnya sikap antipati masyarakat yang cenderung enggan disebut sebagai seorang moderat, atau lebih jauh malah menyalahkan sikap moderat.
Untuk itu penulis berpendapat bahwa moderasi beragama sama sekali bukan berarti mengkompromikan prinsip-prinsip dasar atau ritual pokok agama demi untuk menyenangkan orang lain yang berbeda paham keagamaannya, atau berbeda agamanya. Moderasi beragama juga bukan alasan bagi seseorang untuk tidak menjalankan ajaran agamanya secara serius, justru dengan moderasi beragama berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang.

Dengan begitu, penulis mengajak kepada seluruh masyarakat betapa pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan moderasi beragama, kita menjadi paham dan menyadari perbedaan adalah ketentuan Tuhan. Kemudian keanekaragaman adalah fitrah bangsa.
Menurut penulis, moderasi beragama merupakan sikap dan cara pandang beragama secara moderat yang tidak berlebihan. Tidak ekstrim kiri dan ekstrim kanan, mengambil posisi ditengah-tengah. Moderasi beragama tidak pernah menggunakan istilah musuh, lawan, perangi, atau singkirkan terhadap siapapun yang dinilai berlebihan dan melampaui batas dalam beragama.
Selain itu, bukan hanya karena hakikat moderasi itu adalah mengajak dan merangkul mereka yang dianggap ekstrem itu ke tengah untuk lebih adil dan berimbang, tetapi juga karena beragama tidak mengenal permusuhan dan perseteruan, melainkan bimbingan dan pengayoman terhadap mereka yang ekstrem sekalipun.
Muncul harapan bahwa sikap moderat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menjaga keutuhan, sekaligus kebhinekaan Indonesia yang berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam menerapkan moderasi beragama, penulis berpendapat bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus terus berkolaborasi dengan semua pihak, khususnya dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat agar memiliki satu pemahaman yang sama.
Sebagai penutup, penulis kembali mengajak seluruh masyarakat untuk dapat bangkit bersama dalam membangun Indonesia yang lebih baik, khususnya pasca pandemi yang banyak memberikan dampak bagi masyarakat. Dengan moderasi beragama, dapat menjadi modal utama untuk merekatkan dan menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa.

*Penulis adalah kontributor Paramadina Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.