Demonstrasi KTT Y20, Pemuda: KTT Y20 Tidak Inklusif dan Representatif

Pemuda memberikan sumbangan besar bagi perjuangan bangsa Indonesia sejak tercetusnya sumpah pemuda 28 Oktober 1928 yang diikuti oleh para pemuda dari seluruh pulau-pulau nusantara. Hal ini menjadi salah satu pondasi bagi terwujudnya Indonesia yang merdeka dan Bersatu.

Pada tahun 2022, Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah G20 yang diikuti serangkain kegiatan termasuk kegiatan Y20. Pemuda Indonesia yang berjumlah 64 juta jiwa merupakan pengerak utama bagi perekonomian, politik dan perubahan sosial Indonesia dan tentunya memberikan warna bagi kemajuan peradaban dunia.

Pemuda Indonesia diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan dunia seperti krisis pangan, energi dan juga perdamaian Rusia dan Ukraina.

Tentunya kita berharap Y20 juga dapat mewakili keberagaman pemuda Indonesia dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi penduduk dunia yang berjumlah 7,9 milliar jiwa. Namun demikian, sangat disayangkan pelaksanaan Y20 terkesan jauh dari kata inklusif dan representatif.

Sejumlah pemuda melakukan unjuk rasa terhadap pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Y20 pada hari Kamis, 21 Juli 2022. Masa yang berjumlah puluhan orang ini menolak hasil KTT Y20 karena menganggap konferensi tersebut tidak inklusif serta tidak merepresentasikan pemuda/i Indonesia dan hanya mewaliki kepentingan pemuda yang privilege. Masa menuntut agar isu-isu yang dibahas adalah isu-isu yang merepresentasikan masalah sosial, ekonomi dan lingkungan di Indonesia terutama untuk kelompok-kelompok underprivilege. Hal ini untuk mengingatkan kita Kembali bahwa pemuda Indonesia datang dari berbagai kalangan dan kelas sosial yang ikut merekat keIndonesian kita sebagai sebuah bangsa.

Terlihat demonstran mengangkat poster bertuliskan “Y20 is not us” (Y20 bukan kami), “Y20 fails to voice the voiceless (Y20 gagal menyuarakan mereka yang tidak bisa bersuara) mencoba menarik perhatian internasional bahwa KTT Y20 tidak membawa kepentingan pemuda indonesia.

Para tokoh muda yang diundang menjadi pembicara berlatarbelakang privilege seperti Maudi Ayunda, Putri Komarudin, dan Roro Esti. Dimana mereka berasal dari keluarga ekonomi atas, berafiliasi dengan kekuasaan serta menikmati pendidikan tinggi di universitas terbaik dunia. Para tokoh muda ini bukanlah representasi mayoritas pemuda Indonesia.

Tidak ada perwakilan pembicara dari latar belakang ekonomi lemah, Indonesia Timur seperti Papua, Maluku dan NTT, dan juga Indonesia terluar seperti Aceh atau Kalimantan Utara. Dapat dikatakan, ajang Y20 ini adalah ajang berkumpul pemuda pemudi dari kelas menengah keatas yang “jago” bahasa inggris, mayoritas dari Jakarta dan Jawa. Seharusnya Y20 mengakat isu-isu perdamaian di Aceh yang berhasil diwujudkan oleg peran pemuda, isu pembangunan di wilayah timur dan isu pembangunan IKN.

KTT Y20 merupakan event sampingan resmi dari G20 yang menjadi wadah konsultasi bagi para pemuda dari seluruh negara anggota G20 untuk dapat saling berdialog. KTT Y20 berlangsung dari tanggal 17-24 Juli 2022 di Jakarta dan Bandung. Nampak banyak tokoh nasional yang hadir tokoh nasional serta Menteri yang hadir antara lain Ketua DPR RI Puan Maharani, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Menteri Parekraf Sandiaga Uno dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Namun sayangnya gagal menghadirkan perwakilan pemuda dari wilayah rural seperti dari Indonesia Timur dan daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar).

Tema yang dibahas pun merupakan tema-tema yang bersinggungan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) namun tidak terlihat pula tokoh-tokoh muda Indonesia, yang walaupun hanya lulusan SMP atau SMA/SMK, tapi telah melakukan banyak perubahan di berbagai tempat di Indonesia.

Perlu diketahui, data dari BPS 2021 menunjukkan bahwa mayoritas pemuda Indonesia hanya bersekolah hingga SMP saja, dan sebagian lagi “drop out” di SMA. Trianggulasi data menunjukkan bahwa kurang dari 18% pemuda pemudi Indonesia yang memiliki “privilege” bersekolah hingga jenjang S1, dan hanya sedikit yang dapat bersekolah ke luar negeri.

Bila komponen terbesar anak-anak muda Indonesia ini tidak terundang dan terwakilkan, maka dapat dikatakan, acara ini tidak representatif dan tidak inklusif menggambarkan kondisi pemuda dan pemudi Indonesia.

Diketahui, KTT Y20 diselenggarakan oleh Indonesia Youth Diplomacy (IYD) dengan Michael Sianipar, Budi Sudandi, Nurul Hidayatulah, Indra Dwi Prasetyo dan Rahayu Sarasawati sebagai co-chair. Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak penyelenggara terkait tuntutan demonstran.

Kita berharap adanya rekontruksi ulang Y20 yang lebih merajut kebhinekaan Indonesia dan yang lebih penting mengali kearifan lokal yang telah sukses dan membawa perubahan baik keberlangsungan lingkungan, ketahanan pangan, perdamaian, dan pembangunan yang berkelanjutan untuk disampaikan kepada dunia.

Kita harus berani setidaknya mendengarkan rasa Indonesia dari batubata yang disusun dari Barat dan Timur Indonesia sehingga menjadi rumah yang sempurna untuk menjadikan Indonesia perfect nation.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.