Waspadai Varian Baru Covid-19 BA.2.75

Waspadai Varian Baru Covid-19 BA.2.75

Oleh : Astrid Widia

Subvarian Covid-19 BA.2.75 kini telah ditemukan di Indonesia. Masyarakat pun diminta untuk lebih waspada dengan menerapkan prokes ketat dalam beraktivitas.

Pandemi yang diakibatkan oleh virus Covid-19 berlangsung sejak awal tahun 2020 dan belum dinyatakan selesai oleh WHO. Berbagai cara dilakukan agar penyakit ini tidak menular, dan masyarakat bersyukur karena vaksinnya sudah ditemukan.

Namun permasalahan belum selesai karena cakupan vaksinasi di Indonesia belum 100% dan muncul subvarian baru dari Corona varian Omicron.

Subvarian baru Corona Omicron diberi nama BA2.75 yang ditemukan di India dan sudah menyebar ke Amerika Serikat. Dikhawatirkan subvarian ini akan menyebar pula ke negara-negara lainnya.

Dalam artian, virus yang bermutasi sangat berbahaya karena rata-rata lebih ganas dan seluruh warga dunia harus mewaspadai subvarian BA2.75 ini.

Terkait hal tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi virus Covid-19 subvarian Omicron Centaurus alias BA.2.75 telah terdeteksi di Indonesia.

Berdasarkan data Kemenkes, hingga saat ini sudah ada tiga kasus terkonfirmasi positif akibat varian tersebut. Hal tersebut disampaikan Menkes pada 18 Juli 2022 melalui Youtube Sekretariat Presiden.

Direktur virologi klinis dari Mayo Clinic, Massachutes, Amerika Serikat, Matthew Binicker, menyatakan ada kekhawatiran bahwa subvarian BA2.75 menular dengan lebih cepat dan menghindari infeksi sebelumnya. Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Namun di India penularannya menunjukkan peningkatan.
Dalam artian, jika seseorang pernah kena Corona maka bisa jadi ia bisa terinfeksi lagi oleh virus Covid-19 varian Omicron subvarian BA 2.75. Oleh karena itu tingkat kewaspadaan masyarakat harus dinaikkan agar tidak kena Corona untuk pertama atau kedua kalinya.
Apalagi efek Corona begitu dahsyatnya karena ada orang yang sudah sembuh tetapi terkena long Covid-19. Jika kena long Covid-19 maka daya tahan tubuhnya akan lebih rendah. Hal ini akan sangat merugikan karena imunitasnya lemah dan bisa dengan mudah diserang virus dan bakteri lain.
Selain subvarian BA 2.75 ada lagi subvarian BA.5.2.1. yang ditemukan di RRC. Kasusnya ditemukan di Distrik Pudong, Kota Shanghai, tanggal 8 Juli 2022 lalu. Shanghai telah di-lockdown dan mobilitas masyarakat dibatasi secara ketat untuk mencegah penularan subvarian Omicron ini.
Wakil Ketua DPD (Dewan Perwakilan Daerah) Muhaimin Iskandar menyatakan bahwa Departemen Kesehatan akan berkoordinasi dengan WHO (World Health Organization) untuk mengetahui perkembangan subvarian Omicron yang berkembang di sejumlah negara. Kementerian Kesehatan bisa mendapat informasi yang valid dari WHO dan mensosioalisasikannya ke masyarakat.
Sosialisasi mengenai subvarian Omicron yang terbaru sangat penting karena masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan terhadap hasil mutasi Corona tersebut. Jika mereka paham bahwa subvarian Omicron lebih ganas maka akan lebih disiplin dalam menjaga imunitas tubuh dan mematuhi protokol kesehatan.
Kedisiplinan dalam menjaga protokol kesehatan adalah kunci sukses dalam menghadapi ganasnya pandemi. Masyarakat Indonesia yang sudah tahu ada subvarian Omicron terbaru dan paham bahwa virus ini terus bermutasi, akan tetap memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah. Mereka paham bahwa masker adalah perlindungan dari droplet yang membawa virus Covid-19.
Untuk meningkatkan kedisiplinan masyarakat dalam memakai masker maka jangan hanya dengan razia masker, karena bisa jadi masker hanya dikenakan agar tidak kena tegur petugas. Namun pemerintah daerah bisa menggalakkan lagi pembagian masker seperti dulu di awal pandemi.
Selain itu, sosialisasi protokol kesehatan terus dilakukan, dan cara yang efektif adalah melalui sosial media. Para influencer dan selebgram bisa ditunjuk untuk jadi duta protokol kesehatan dan mereka memiliki pengaruh besar di kalangan netizen. Mereka mencontohkan bahwa memakai masker itu keren dan wajib juga untuk cuci tangan, jaga jarak, dan menaati protokol lain dalam protokol kesehatan.
Dengan cara ini maka sosialisasi protokol kesehatan akan berjalan dengan sukses dan masyarakat kembali mengenakan masker dengan senang hati. Mereka taat protokol karena tidak mau kena Corona dan sekaligus mengikuti para idolanya yang juga disiplin prokes.
Muhaimin melanjutkan, jika sudah ada rilis resmi dari WHO, maka pemerintah bisa mengambil keputusan. Apakah ada pembatasan kunjungan dari negara-negara yang memiliki kasus subvarian BA2.75 dan BA5.2.1 atau hanya pengetatan di pintu-pintu masuk Indonesia. Mengingat Corona pertama kali masuk ke negeri ini melalui pergaulan dengan warga negara asing.
Pemerintah berusaha keras agar virus Covid-19 varian Omicron subvarian BA2.75 dan BA5.2.1 jangan masuk Indonesia. Pengetatan di bandara, pelabuhan, dan pintu-pintu masuk ke Indonesia akan dilakukan dengan intensif. Para turis asing juga harus kooperatif dalam menaati peraturan di bandara, karena di masa pandemi semuanya harus disiplin, agar tidak kena atau menularkan Corona.
Subvarian baru Omicron yang ditemukan di India, Amerika Serikat, dan RRC, dan kini telah masuk Indonsia harus membuat masyarakat makin waspada. Dengan adanya kewaspadaan tersebut, maka risiko penularan Covid-19 diharapkan dapat terus ditekan dan pemulihan ekonomi nasional dapat terus berjalan.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.