Prostitusi Puluhan Tahun di Balik Kawasan Suci Sanur

Ilustrasi. Net

Denpasar – Sulitnya memberantas bisnis esek-esek di kawasan Sanur bukan hal asing bagi masyarakat Bali.‎ Sudah puluhan tahun lamanya tempat itu jadi pusat perhatian dan juga tempat kaum lelaki menuntaskan sahwatnya.

Namun satu sisi dengan munculnya penolakan rencana pembangunan Terminal LNG (liquefied natural gas) Sidakarya oleh Bandesa Adat Intaran bersama warga adatnya dan beberapa politisi Denpasar serta Walhi Bali yang menempatkan wilayah Sanur sebagai kawasan suci yang terdampak dari sisi lingkungan sangat menarik dicermati dibalik status sosial daerah Sanur selama ini sudah berjalan.

Direktur Walhi Bali, Made Krisna Dinata sendiri mengungkapkan, kekhawatiran dengan adanya Terminal LNG di kawasan pesisir berpotensi menghancurkan kawasan suci khususnya sejumlah pura di wewidangan Desa Adat Intaran yang terletak tak jauh dari tempat terminal akan dibangun.

“Di pesisir Sanur kurang lebih kami mendapati enam titik suci pura yang ada,” paparnya kepada wartawan berapa waktu lalu.

Terlepas dari lingkungan alam tentunya sebagai kawasan suci, apa disampaikan Direktur Walhi Bali ini jadi dukungan moral baru bagi para penggiat lingkungan sosial dalam membersihkan wilayah Sanur dari prostitusi.

Publik berharap, pernyataan itu bukan menjadi dagelan atau kelucuan serta kepentingan sesaat lantaran potret Sanur disebut-sebut begitu indentik sejak tahun 1948 sebagai tempat lokalisasi.

Mesti dalam perkembangan serta pesatnya pariwisata nampak hanya tersisa satu lokalisasi yaitu di jalan Danau Tempe, tapi berapa tempat ‘XX’ seperti Bungalow Shot Time dan Akuarium (pangkalan perempuan penjaja kenikmatan sesaat) masih gegap gempita berjalan. Bisnis esek-esek di wilayah Sanur pun belum surut antara vulgar dan dilakukan sembunyi-sembunyi.

Seperti disampaikan Tokoh masyarakat Sanur I Made Arjaya mengatakan kepada salah satu wartawan media online, sejarah munculnya lokasi praktek pelacuran di kawasan Sanur dimulai sejak tahun 1948.

“Sudah ada sejak tahun 1948 an di kawasan Semawang, dulu di sana ada wisma bahari. Kalau dulu istilahnya WTS itu penayang, banyak juga yang warga kita sendiri, dari daerah pesisir Bali,” ungkapnya tanpa merinci daerah yang dimaksud yang dikutip dari beritabali.

Selanjutnya, dalam perkembangan waktu aktifitas tersebut tetap berlangsung hingga sekarang.  Hanya satu lokasi di Danau Tempe yang jelas tersisa. Berkembangnya hotel-hotel tahun 1970 dan 1980, kemudian mempersempit pertumbuhan praktek prostitusi ini.

“Kita menolak lokalisasi, pro dan kontra akan tetap ada. Sempat kita agak keras, dulu kita tangkepin, masukin panti rehabilitasi, tapi itu tidak mempan juga. Tapi sekarang faktor ekonomi lebih memberikan prospek persaingan, jadi mereka kalah bersaing, makin menyempit. Kalau dulu sangat tinggi potensinya,” imbuhnya.

Sekarang secara kontinyu,  petugas dari Dinas Trantib juga setiap saat melaksanakan pengendalian ketertiban lokasi esek-esek di Sanur.

“Jadi sudah signifikan penurunannya, kita lawan dari sisi ekonominya, dari pengembangan alih fungsi villa serta tempat wisata,” pungkas Arjaya saat itu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.