Ganjil, Penanganan Tanah Waris Jero Kepisah di Polda Bali

Keluarga Jro Kepisah saat menggelar upacara persembahyangan di pura keluarga. (Ist)

Denpasar – Tudingan adanya oknum penyidik Polda Bali diduga melakukan upaya kriminalisasi terhadap Keluarga Jero Kepisah terkait penanganan tanah waris sehingga tidak ada kepastian hukum mencuat ke publik.

Dikabarkan sebelumnya, pelapor inisial EW yang bukan bagian dari keluarga Jero Kepisah disinyalir main mata dengan penegak hukum berupaya merampas tanah waris telah bersertifikat yang tidak jelas menjadi haknya.

Pun demikian disebutkan, dibalik EW sebagai pelapor dicurigai ada oknum penyokong dana ikut bermain. Bukan tanpa sebab, dimungkinan lantaran tanah waris itu diungkap lokasinya strategis di bilangan Kota Denpasar yang memiliki nilai jual cukup tinggi sehingga menjadi incaran para oknum mafia tanah.

I Putu Harry Suandana Putra, S.H.,M.H selaku kuasa hukum dari keluarga Jero Kepisah menjelaskan, perkara yang ada di Reskrimsus Polda Bali sekarang ini sebenarnya bukan yang pertama. Pelapor EW sebutnya, sudah dari tahun 2015 mengincar tanah waris milik kliennya melaporkan dengan berbagai upaya yang disampaikan kepada wartawan, pada Rabu, (31/08/2022)

Bahkan kata Putu Harry, salah satu ahli waris dari Jero Kepisah sempat ditetapkan sebagai tersangka dalam pelaporan terdahulu oleh kepolisian. Namun dalam perjalanan, pihkanya sebagai kuasa hukum mengaku mengajukan praperadilan akan adanya penetapan tersangka itu dan ditegaskan sudah di SP3.

“Pihak pelapor EW pernah melaporkan klien kami di Polda Bali dengan dasar penyerobotan tanah, penggelapan hasil dan pemalsuan dokumen seperti itu. Dalam proses pengajuan praperadilan permohonan kami diterima. Sehingga penetapan tersangka terhadap klien kami Anak Agung Ngurah Oka Wijaya gugur atau tidak sah. Kemudian dilanjutkan SP3 oleh penyidik Polda Bali,” ungkap Putu Harry.

Meski sudah di SP3, hal membuat ia kaget sebagai pengacara, bagaimana upaya EW begitu ngotot. Kembali kliennya dilaporkan dalam hal pencucian uang atau TPPU dikatakan tanpa dasar di Krimsus Polda Bali dan ditindaklanjuti penyidik.

Bahkan pengaduan ke polisi kesekian kali itu, diduga dengan dasar dokumen palsu yang disebutkan juga dijadikan alasan ATR/BPN Denpasar untuk menghambat proses pemecahan sertifikat sudah berjalan.

“Seharusnya Aparat Penyidik Polda Bali lebih teliti dan jeli melihat kasus ini tidak secara parsial namun harus dilihat secara utuh, terkait nama yang tertera di sertifikat itu sama, tetapi alamat dan orangnya berbeda. Hal itu bisa dilihat di silsilah keluarga,” singgung Putu Harry.

Sementara Penglingsir (tetua) Jero Kepisah, Anak Agung Ngurah Suadnya Putra menyampaikan, bahwa dalam pemeriksaan sudah disampaikan kepada penyidik berulang kali terkait keberadaan silsilah Jero Kepisah. Begitu juga dengan tegas dikatakan tidak ada hubungan dengan EW sebagai pelapor.

“Sebenarnya kami tidak ada masalah dengan tanah waris dari leluhur kami namun sengaja dipermasalahkan pihak lain. Masalah yang membelit keluarga saya juga sudah 3 kali diperiksa polisi. Di sana saya ditanya-tanya dengan pertanyaan yang sama selalu begitu dari dulu. Baik saat diperiksa di Krimum dan juga di Krimsus,” sebut Anak Agung Ngurah Suadnya Putra.

Hal senada juga disampaikan Anak Agung Ngurah Oka yang sempat dijadikan tersangka menyebut, bahwa pintu masuk pelapor EW untuk mengadukan kepemilikan tanah waris keluarganya dari mengutak-atik silsilah yang sudah baku turun temurun ketika ada kesamaan nama. Hal ini dikatakan sebagai tolak ukur EW untuk mengklaim tanah waris milik Jero Kepisah merupakan bagian dari tanah leluhurnya di Jero Suci.

“Nama Gusti Gde Raka atau Gusti Gde Raka Ampug itu satu orang. Alamatnya jelas tetap di Banjar Kepisah Pedungan tidak punya beliau alamat lain lagi. Dari kitir pajak, surat menyurat desa dan lainnya ya pasti di sini. Dan Keluarga saya membikin silsilah itu berdasarkan dengan nama wajib pajak yang terdaftar, karena kita belum punya penetapan silsilah, apalagi akta kelahiran belum ada dahulu,” tegas Agung Ngurah Oka.

Lebih mengejutkan ia juga menyatakan dengan nada tinggi, bahwa pipil yang digunakan untuk mengkasuskan tanah waris keluarganya diduga adalah palsu. Setelah ditelusuri berdasarkan tanggal, bulan dan tahun dibuat pada hari minggu. Ia juga kecewa, permasalahan ini diterima aparat penegak hukum dan terkesan dibenarkan sehingga tidak memberikan kepastian hukum.

Banyak pihak menyayangkan, fakta riel dasar hak tanah waris milik Jero Kepisah diduga diabaikan dalam penanganan kasus ini. Tidak saja fakta adimistrasi seperti kedudukan alamat, pipil serta warkah, tapi bukti nyata riwayat tanah dari keterangan penggarap atau penyakap yang tinggal di lokasi ratusan tahun secara tumurun-temurun terkesan dianggap tidak penting dalam penyelidikan.

“Tiang sejak kecil sudah tahu melalui orang tua tiang setiap panen nyetor ke Jero Kepisah. Apalagi tiang sendiri sampun 50 tahun garap tanah Jro Kepisah,” ungkap Wayan Merbawa selaku penggarap tanah waris milik Jero Kepisah kepada wartawan.

Lanjut dikatakan, kalau ada yang mengaku-ngaku itu tanah miliknya, kenapa kami tidak tahu siapa orang itu dan kepentingannya dengan kami selaku penggarap. “Kalau Jro Kepisah ya kami ada kepentingan selaku penggarap,” imbuhnya.

Untuk diketahui, persoalan dugaan kriminalisasi tanah waris Jero Kepisah ini sudah sempat ditanggapi Kapolda Bali, Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra pada Selasa (12/4/2022). Namun hampir 5 bulan dari pernyataan disampaikan Kapolda Bali belum ada kejelasan dan kepastian hukum.

Sebelumnya, Kapolda Bali, Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra menegaskan, segera akan menelusuri adanya dugaan kriminalisasi dilakukan oknum penyidik dengan pelapor inisial EW terhadap keluarga Jero Kepisah terkait kepemilikan hak atas tanah waris.

“Yang jelas gini, apapun kita akan berlalu professional. Kalau memang benar adanya dan dia terbukti melanggar, kita akan tindak sesuai dengan ketentuan yang berlaku pasal-pasal apa yang bisa dikenakan ke anggota yang melanggar, apapun itu, pungli dan perbuatan yang melanggar disiplin lainnya kita akan tegas,” jelas Kapolda Bali saat itu kepada wartawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.