Investor Asia Timur Minati Investasi di Indonesia

Istimewa

Investor Asia Timur Minati Investasi di Indonesia

Oleh : Aulia Hawa

Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia telah berhasil menjadi negara yang diminati oleh investor dari luar negeri, hal ini tentu saja menjadi kabar baik karena dengan tumbuhnya investasi menjadi pertanda bahwa perekonomian di Indonesia sedang berkembang.

Minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia ternyata bukan isapan jempol belaka. Nurul Ichwan selaku Deputi Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM mengungkapkan adanya pasar yang luar biasa menjadi alasan utama investor besar dari Asia Timur, seperti Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Nurul menuturkan pasar domestik merupakan hal utama agar para investor dapat bertahan di tahun-tahun awal. Lantaran market domestik Indonesia yang luar biasa, para investor menjadi tertarik untuk berinvestasi di Indonesia, apapun jenis investasinya. Salah satunya adalah di sektor pariwisata.

Data dari statista 2022 menunjukkan, International Tourist Arrivals in Indonesia atau kedatangan pengunjung asing ke Indonesis di 2020 anjlok dibandingkan 2019. Di 2020, wisatawan asing tercatat hanya sebanyak 4,05 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat hingga 16,11 juta.

Sementara itu, jika melihat Domestics Trips in Indonesia atau wisatawan dalam negeri meskipun juga mengalami penurunan, namun tidak separah wisatawan asing.
Pada 2019, wisatawan dalam negeri tercatat sebesar 722,1 juta orang dan turun menjadi 518,5 juta orang di 2020.
Data tersebut tentu saja sudah menjadi sebuah kekuatan bagi Indonesia dalam menarik investor untuk berinvestasi di Indonesia, terutama di sektor pariwisata. Sebab menurutnya, investor tidak akan peduli apakah itu wisatawan asing maupun lokal asalkan tempat wisata mereka penuh dengan wisatawan.
Sebelumnya, pengamat APBN Awalil Rizky mengatakan kebutuhan negara akan investasi asing tidak hanya sekadar nilai investasi yang ditanamkan. Melainkan kebutuhan transfer teknologi dari perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.
Kehadiran investasi dari negara lain juga akan mempermudah Indonesia untuk masuk ke dalam ekosistem perdagangan internasional. Tidak hanya itu, ini juga membuka peluang produk buatan asli Indonesia ini terjual ke pasar global dengan adanya pasar terbuka.
Selain dari sektor pariwisata, investasi juga datang dari sektor otomotif, di mana industri otomotif Indonesia yang akan mendapatkan penyegaran dari beberapa pabrikan asal Jepang, Korea Selatan dan China melakukan Investasi.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut sampai saat ini terdapat 21 industri perakitan kendaraan roda empat atau lebih, dengan total investasi mencapai Rp 139,36 triliun.
Investasi tersebut berasal dari Jepang sebesar Rp 116,1 triliun (83,31 persen). Korea Selatan sebesar Rp 10,54 triliun (7,56 persen) lalu China sebesar Rp 11,3 triliun (8,11 persen).
Selebihnya adalah investasi yang didapat dari Uni Eropa dan dalam negeri, yakni sebesar Rp 1,42 triliun (1,02 persen).
Menteri Investasi Republik Indonesia Bahlil Lahadalia memastikan bahwa investasi mobil listrik di Indonesia tidak hanya berasal dari Korea Selatan saja, namun ada 7 negara lain yang menyatakan minat investasi kendaraan listrik di Indonesia.
Melalui kerja sama dengan banyak negara, Balil mengaku optimis jika kelak Indonesia akan menjadi negara pusat produsen baterai mobil dunia. Dengan hampir 26% bahan baku nikel yang dikuasai oleh Indonesia, Bahlil membayangkan Indonesia seharusnya menjadi negara besar untuk produksi mobil listrik ini.
Apalagi banyak CEO perusahaan alat transportasi yang menilai bahwa iklim investasi di Indonesia sangat kondusif.
Sementara untuk fasilitas sel baterai yang baru groundbreaking ini rencananya akan memiliki kapasitas produksi sebesar 10 Giga watt Hour (GwH), yang nantinya akan menyuplai kendaraan listrik produksi Hyundai. Secara keseluruhan investasi proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD 9,8 miliar.
Pemerintah Indonesia akan membangun produksi mobil listrik ini mulai dari hulu sampai ke hilirnya. Setelah membangun pabrik mobil dan memproduksi baterai listriknya, pemerintah juga mendorong pembangunan prekursor ketot dan smelter untuk hilirisasi produk nikel yang melimpah di Indonesia.
Selain itu, komitmen investasi pertama berhasil didatangkan dari Mitsubishi Motor Company (MMC) sebesar Rp 10 triliun yang akan direalisasikan pada 2022 hingga 2025.
Dalam keterangan resminya, Mitsubishi berkomitmen untuk terus menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis produksi mobil hybrid dan meningkatkan pasar ekspor, termasuk melakukan perluasan pasar ekspor baru, dari 30 menjadi 39 negara, sampai dengan tahun 2024.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia berhasil meyakinkan raksasa industri otomotif untuk berinvestasi di Indonesia.
Tidak hanya itu, perusahaan Chery International juga siap untuk menggelontorkan dana sebanyak Rp 14 Triliun di Indonesia. Dana sebanyak itu akan digunakan untuk membangun pabrik produksi dan manufakturing dengan kapasitas produksi mencapai 200.000 unit mobil per tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa Negara di Asia Timur memiliki minat yang tinggi untuk berinvestasi di Indonesia, capaian ini tentu saja tidak lepas dari regulasi yang disusun untuk menarik minat investor.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.